Jangan Berputus Asa, Allah Maha Pengampun

jangan-berputus-asa-allah-maha-pengampun

PADA zaman Nabi Musa alaihi salam, ada seorang laki-laki yang terkenal akan kefasikannya semasa hidup. Tatkala laki-laki itu meninggal dunia, orang-orang di sekitarnya tidak sudi untuk memandikan dan menguburkannya dengan layak. Mereka hanya menyeret mayat laki-laki itu dan membuangnya ke suatu tempat yang penuh dengan kotoran ternak.

Allah lalu menurunkan wahyu kepada Musa, agar ia berangkat ke tempat lelaki tersebut dan memandikan, menguburkan dan mensalatkannya dengan layak. karena lelaki itu adalah seorang wali-Nya. Maka berangkatlah Musa ke tempat jenazah lelaki tersebut.

Sesampai di kampung yang dituju, Musa meminta keterangan kepada pen­duduk mengenai kehidupan lelaki itu. Tetapi jawaban yang diterima Musa ham­pir senada, bahwa lelaki itu semasa hidupnya mempunyai sifat dan perangai yang jelek.

Lalu, Musa meminta mereka untuk ber­sedia memberitahu di mana jenazah le­laki tersebut mereka tempatkan, karena Allah memerintahkannya untuk mencari­nya.

Permintaan Musa dikabulkan, maka beberapa orang menunjukkan tempat di mana lelaki itu diletakkan. Ketika telah sampai, Nabi Musa mendapati mayat lelaki itu berada di tempat tumpukan kotoran hewan. Kembali para penduduk mengingatkan Musa bahwa lelaki itu adalah orang yang fasik selama hidupnya.

Mendengar tuturan para penduduk desa tersebut, Musa mengadu kepada Allah, katanya, “Ya Allah..Engkau telah me­me­­rin­tahkan aku untuk memandikan, men­salat dan menguburkan lelaki ini, sedang­kan kaumnya telah bersaksi bahwa laki-laki ini semasa hidupnya adalah orang yang bertingkah laku jelek. Untuk itu, Engkaulah yang lebih mengetahui apakah orang yang meninggal ini baik atau buruk?”

Pengaduan Musa dijawab Allah de­ngan menurunkan wahyu-Nya, “Wahai Musa, orang-orang itu benar dengan apa yang telah diperbuat laki-laki itu. Tetapi mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya lelaki itu telah meminta pertolongan (syafaat)-Ku saat menjelang ajalnya de­ngan tiga doa. Seandainya seluruh ma­nusia yang penuh dengan dosa mau me­minta-Ku dengan tiga doa tersebut, tentulah akan Aku penuhi. Oleh karena itu, bagaimana Aku tidak sayang padanya sedangkan dirinya benar-benar meminta-Ku? Dan bukankah Aku adalah zat yang lebih berhak memberi kasih sayang?”

Nabi Musa bertanya, “Wahai Allah, apa saja ketiga doa itu?”

Allah menjawab dengan wahyu-Nya, doa pertama, ketika ajal lelaki itu sudah dekat ia berdoa, “Ya Allah! Sesungguh­nya aku telah berbuat maksiat, namun ha­ti­ku amat membenci perbuatan maksiat itu. Akan tetapi, ada tiga perkara yang se­lalu bersama-samaku hingga aku mela­kukan perbuatan maksiat itu di dalam hati. Pertama, adalah hawa nafsu, kedua adalah teman yang jelek dan ketiga adalah Iblis. Ketiga perkara inilah yang menja­tuhkanku ke dalam lembah kemaksiatan. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu terhadap sesuatu yang aku ucapkan, maka ampunilah aku.”

“Doa kedua; “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku menger­jakan maksiat, adapun tempatku adalah bersama orang-orang fasik, akan tetapi aku lebih suka berkawan dengan orang-orang zuhud. hidup bersama mereka ada­lah lebih aku senangi daripada bersama-sama orang fasik.”

“Doa ketiga: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui aku lebih mencintai orang-orang baik daripada orang-orang fasik sehingga apabila ada dua orang meng­hadapku yakni orang baik dan fasik, maka pastilah aku mendahulukan kepen­tingan orang yang baik daripada yang fasik.”

Mendengar wahyu ini Musa akhirnya memahami apa yang sesungguhnya ter­jadi. Dan ini menjadi ‘itibar bagi dirinya dan kaumnya untuk selalu mengharapkan rahmat dari Allah SWT.

Rasulullah pernah berkata, “Seorang yang tenggelam dalam kemaksiatan tetapi tetap mengharapkan belas kasih Allah, lebih dekat kepada-Nya daripada seorang ahli ibadah yang membuat manusia lain putus harapan dari belas kasih Allah.” (Oase Spritual 1: Hikmah dalam Ujaran dan Kisah ditulis M Syaiful Bakhri dan M. Irham zuhdi, yang mereka sadur dari kitab klasik Al-Mawa’izh al-Ushfuriyah karya Syaikh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri)/

Kisah ini menyadarkan kita, bahwa sesungguhnya kesucian seseorang bukan karena rajinnya ia beribadah, bukan ka­rena kedudukannya di masyarakat, bukan karena ilmu agamanya yang tinggi. Ka­rena bisa jadi semua itu terkandung riya dan ingin dipuji, sehingga kesucian me­reka hanya di mata manusia, tetapi belum tentu ‘suci’ di sisi Allah. Karena sesung­guhnya Allah Maha Mengetahui apa yang ada dibalik perbuatan kita.

Oleh karena itu apa yang kita lakukan kita serahkan semata-mata karena Allah (lillahi ta’ala), insya Allah, Allah akan mensucikan hati kita.

()

Baca Juga

Rekomendasi