Tapsel,(Analisa). Perusahaan Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru, yang dikelola PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) mendukung upaya pelestarian ikan jurung dilakukan Marihot Anton Sihombing, warga Desa Padang Lancat Sisoma Kecamatan Batangtoru Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).
“Dukungan PLTA Batangtoru atas upaya pelestarian ikan jurung ini dengan memfasilitasi Marihot Anton Sihombing mengikuti pelatihan di Balai Riset Perikanan Budidaya Ikan Air Tawar dan Penyuluh Perikanan Bogor, baru-baru ini,” ujar Public Relation (PR) PT NSHE, Dede Wafiza Aisa kepada Analisa di Sipirok Kabupaten Tapsel, Sabtu (13/7).
Dikatakan, dalam pelatihan di Kota Bogor itu, Anton belajar tentang teknologi hatchery indoor. “Sepulang dari Bogor, PT. NSHE membangun hatchery indoor, fasilitas pembenihan teknik modern di sekitar kolam budidaya,” ujarnya sembari menyebut pihaknya berkomitmen dalam mendukung berbagai upaya dalam pemberdayaan masyarakat lokal.
Anton mengungkapkan, dia memulai budidaya ikan jurung atau ikan mera sebutan masyarakat lokal itu, sejak belasan tahun lalu. Awalnya, dia menyiapkan kolam di kampungnya dengan sumber air dari Gunung Lubuk Raya. Kerikil dan batu kecil dihampar di dasar kolam, selanjutnya air dialirkan dengan deras ke setiap kolam.
“Enceng gondok menjadi filter alami di pintu masuk air kolam,” ujarnya.
Sukses
Anton mengungkapkan, dari ketekunannya, akhirnya dia sukses mengelola ikan yang bernilai jual tinggi itu. “Jerih payah selama tahunan mematahkan anggapan kalau ikan jurung tidak bisa dibudidayakan, meski hasil budidaya secara alami masih menyisakan pekerjaan rumah (PR), karena tingkat keberhasilan masih 30 persen,” tuturnya.
Anton mengatakan, saat upayanya untuk memaksimalkan keberhasilan budidaya ikan jurung mulai menghadapi tantangan berat, PLTA Batangtoru memberikan dukungan penuh dengan memfasilitasinya berangkat mengikuti pelatihan ke Bogor.
“Mereka juga membangun hatchery indoor atau fasilitas pembenihan teknik modern di sekitar kolam budidaya, sepulang saya mengikuti pelatihan tersebut,” katanya. Diakuinya, PT. NSHE memiliki harapan yang besar dengan dibangun dan mulai beroperasinya hatchery indoor.
“Pemijahan alami yang dilakukan selama ini keberhasilannya hanya 30 persen, namun dengan hatchery indoor bisa mencapai 90-95 persen. Saya optimis, kata-kata punah terhadap ikan jurung akan jauh, dengan tingginya tingkat keberhasilan pemijahan ini,” ujarnya.
Diutarakannya, tingginya mortalitas dengan pemijahan alami karena banyak faktor, seperti hujan (pengaruhnya terhadap suhu air), kekeruhan air, predator dan lain sebagainya, sementara pemijahan di akuarium relatif lebih terjamin.
Masa pemeliharaan
Dalam metode hatchery indoor, masa pemeliharaan benih di akuarium sekitar 2 bulan dengan ukuran 2-3 cm, setelah itu ditebar di kolam. Masa pemeliharaan bibit di hatchery indoor, suhu yang diperlukan 20-24 derajat selsius dengan pergantian air akan dilakukan sekali setahun.
Untuk menghasilkan ikan konsumsi, dibutuhkan waktu sekitar setahun. Bila pemeliharaannya intensif, bobot yang dihasilkan bisa mencapai 0,5-1 kilogram dengan panjang ikan rata-rata 25-30 centimeter. “Dengan dukungan PT. NSHE, pada periode pertama ini, saya sukses memijahkan benih di dalam 20 akuarium dari 45 akuarium yang tersedia dengan isi sekitar 1.000 benih tiap akuarium,” katanya dan menyebut satu siklus pemijahan memakan waktu 3 bulan.
Ditambahkan, sejumlah mahasiswa dari Perguruan Tinggi seperti dari UNRI, IPB, USU, bahkan dari Direktorat Perbenihan Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Perikanan dan Kelautan sering berkunjung untuk melakukan penelitian.
“Untuk lokal, sejak 2012 hingga saat ini siswa SMKN 1 Angkola Sangkunur rutin melaksanakan PKL di P2MKP Amphibi ini,” ujarnya. (hih)











