Urgensi Perlindungan Anak

urgensi-perlindungan-anak
Oleh: Amrizal Nasution. Anak merupakan anugerah Yang Maha Esa, yang di dirinya melekat hak-hak sebagai manusia seutuhnya dan harus dihormati serta dilindungi. Sebagai generasi penerus bangsa, anak tidak bisa dipisahkan dari maju atau mundurnya suatu bangsa, karena anak akan menjadi pemimpin negeri ini di masa yang akan datang. Oleh karenanya, perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak secara utuh harus menjadi perhatian para pemangku kepentingan di negeri ini dan juga masyarakat. 

Jangan biarkan hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi anak terganggu, yang dampaknya akan dirasakan oleh negeri ini. Beberapa keadaan darurat tertentu, terusir dari daerah tempat tinggalnya, kurangnya akses kemanusiaan, rusaknya struktur sosial dan keluarga, erosi sistem-sistem nilai tradisional, budaya kekerasan, pemerintahan yang lemah, tiadanya akuntabilitas dan buruknya akses terhadap pelayanan sosial dasar, menciptakan masalah perlindungan anak yang serius.

Terbaru, kasus M Aris warga Desa Sooko, Kabupaten Mojokerto, divonis 12 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah subsider 6 (enam) bulan kurungan dan hukumam tambahan kebiri kimia oleh Pengadilan Negeri Mojokerto yang dikuatkan putusan banding Pengadilan Tinggi Surabaya, karena mencabuli 9 (sembilan) orang anak-anak. Terlepas dari prokontra di masyarakat terkait kasus ini, putusan ini diharapkan dapat memberikan pelajaran dan efek jera terhadap predator anak. Kita tidak memungkiri bahwa kekerasan terhadap anak, terutama kekerasan seksual masih sangat tinggi.

Data Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), jumlah kasus kekerasan terhadap anak masih tinggi dalam 4 (empat) tahun terakhir. Pada 2011, jumlah kasus kekerasan terhadap anak sebanyak 2.467 (52 persen merupakan kekerasan seksual). Tahun 2012 sebanyak 2.637 kasus (62 persen kekerasan seksual), 2.676 kasus (54 persen kekerasan seksual pada 2013. Tahun 2014 sebanyak 2.750 kasus (52 persen kekerasan seksual), tahun 2015 2.898 kasus (59,3 persen kekerasan seksual), tahun 2016 sebanyak 3.339 kasus. Tahun 2017 sebanyak 2.373 kasus dan tahun 2018 sebanyak 4.885 kasus. Dan semester pertama tahun 2019 ini, kasus kekerasan terhadap anak meningkat 10 persen. 

Dari data ini, sungguh sangat memprihatinkan kita. Pelaku masih bergentayangan dan umumnya merupakan orang yang baru dikenal melalui perantara teman ataupun media sosial, tetangga, teman, pacar, dan juga orang tua. Entah apa yang merasuki para pelaku ini, sehingga tega melakukan tindakan pencabulan terhadap anak-anak yang usianya masih pada tahap pertumbuhan. Di sisi lain berita pencabulan, penganiayaan, penelantaran, perampokan, eksploitasi bahkan pembunuhan terjadi saban hari. Pemberitaan di media cetak maupun elektronik tidak hentinya menayangkan pemberitaan mengenai kekerasan terhadap anak yang sangat mengkhawatirkan kita semua. 

Masa anak-anak adalah saat di mana bermain dan belajar merupakan masa tumbuh dan berkembang seorang anak menjadi dewasa nantinya. Terus akankah kita sebagai orang dewasa yang seharusnya melindungi dan mendidik anak-anak kita menjadi generasi penerus bangsa, melakukan pembiaran atau lalai membimbing generasi emas ini? Jangan sampai terjadi. 

Kekerasan Terhadap Anak

Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 36 Tahun 1990. Pemerintah juga telah mengeluarkan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang telah direvisi dengan UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 dan UU No 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (Perppu) No 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 

Masih sering kita lihat, dengar dan rasakan, anak yang menderita akibat kekurangan gizi dan timbulnya berbagai penyakit. Keluar atau dikeluarkan dari sekolah, diperlakukan salah dan dieksploitasi. Mendapat pelecehan seksual, bullying dan kekerasan baik di rumah maupun sekolah. Tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, rentan akan diperjualbelikan dan mendapatkan perlakuan tidak berperikemanusiaan. Terjadilah penelantaran terhadap anak yang secara langsung berimplikasi pada masa depannya.

 Banyak faktor yang menyebabkan budaya kekerasan menjangkiti anak-anak, yang semakin meningkat dari hari ke hari. Di keluarga, faktor ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan seorang suami terhadap isteri dan anak-anaknya, akan membekas di ingatan si anak. Tidak memandang apakah anak tersebut lahir dari keluarga berada maupun miskin. Efeknya anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa dengan budaya kekerasan, baik di sekolah maupun masyarakat. 

Anak pun kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntunan pendidikan orang tua, tidak dibiasakan disiplin dan tidak terpenuhi kebutuhan fisik maupun psikisnya, sehingga menyebabkan anak menjadi kacau dan liar. Sehingga mereka mencari pelarian untuk mengatasi kerisauannya di luar dan inilah yang dapat menyeret anak kepada perbuatan kriminal dan kekerasan. 

Di lingkungan tempat tinggal, pergaulan anak dengan teman sebaya maupun yang lebih tua tanpa kontrol orang tua dan keluarga, menjadikan anak tidak terkendali dan hilang arah. Orang tua yang sibuk dengan segala urusan dan kegiatannya, sehingga melupakan perannya dalam merawat, mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Perannya kemudian tergantikan oleh lingkungan sekitar anak yang bilamana lingkungan tersebut tidak mendidik, tidak bersahabat bahkan cenderung keras, akan membentuk anak menjadi pribadi yang terbiasa dengan kekerasan. 

Pun di sekolah, sistem pendidikan yang lebih menekankan aspek kognitif tanpa menyediakan ruang untuk berkreasi dan berekspresi kian menekan kebebasan anak. Padahal dunia anak adalah dunia belajar dan bermain. Tuntutan yang tinggi dari system pendidikan di sekolah demi kenaikan kelas atau pun kelulusan anak, semakin menambah beban mereka. Kurikulum atau bahan ajar yang kurang tepat, metodologi, sistem belajar mengajar yang tidak interaktif dan lingkungan sekolah yang tidak atau kurang nyaman menyebabkan emosi siswa menjadi labil dan membuat siswa merasa tidak mendapat perlindungan.

Di tingkat pemerintah, kurangnya atau ketiadaan ruang bermain hijau yang aman dan nyaman, wadah berekspresi bagi anak untuk menyalurkan bakat dan minatnya maupun program pembangunan yang belum mengakomodir dan mengarusutamakan hak-hak anak, menjadikan anak resah dan kurang diperhatikan. 

Oleh karenanya mereka melakukan perbuatan yang tidak patut menjurus kekerasan untuk menarik perhatian. Tidak ada kata lain, selamatkan anak-anak dari sekarang.

Urgensi Perlindungan Anak

Tidak dapat dipungkiri bahwa kekerasan terhadap anak akan semakin meningkat pada tahun ini, apabila tidak ada upaya yang sistematis dari orang-orang dewasa dalam menangani permasalahan anak yang semakin kompleks. Peran media massa juga sangat penting dalam menyiarkan dan memberitakan hal-hal yang positif dalam program-programnya, sehingga dapat membentuk anak berpikir dan bertindak yang positif. 

Begitu ragam dan kompleksnya permasalahan yang terkait perlindungan anak, sehingga menjadi tugas kita bersama baik itu di keluarga, lingkungan sekitar, dunia pendidikan dan masyarakat serta bangsa dan negara untuk menjamin tumbuh kembang dan terpenuhinya hak-hak anak demi masa depan bangsa dan negara. 

Tanggung jawab kita sebagai bagian dari masyarakat untuk melakukan tindakan konkrit dalam melindungi dan menyelamatkan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. 

Keluarga memegang peran penting dalam pembentukan karakter anak, mulai dari usia dini sampai dewasa. Untuk para orang tua, selalu luangkan waktu untuk bersama anak dan tetap menjalin komunikasi. Bergaul dengan teman-teman yang baik di sekolah dan lingkungan sekitar. Perlu diingat kegagalan melindungi anak-anak mengancam pembangunan nasional dan memiliki pengaruh negatif dan akibatnya akan terbawa sampai mereka dewasa nanti. Berikan yang terbaik bagi anak dan lindungi mereka dari segala tindakan kekerasan, perlakuan salah dan eksploitasi.***

Penulis adalah staf Yayasan Pusaka Indonesia Medan.

()

Baca Juga

Rekomendasi