LUAR angkasa atau antariksa merujuk pada bagian yang relatif kosong dari Jagad Raya, di luar atmosfer dari benda "celestial". Istilah luar angkasa digunakan untuk membedakannya dengan ruang udara dan lokasi "terrestrial".
Karena atmosfer Bumi tidak memiliki batas yang jelas, namun terdiri dari lapisan yang secara bertahap semakin menipis dengan naiknya ketinggian, tidak ada batasan yang jelas antara atmosfer dan angkasa.
Ketinggian 100 kilometer atau 62 mil ditetapkan oleh Fédération Aéronautique Internationale merupakan definisi yang paling banyak diterima sebagai batasan antara atmosfer dan angkasa.
Di Amerika Serikat (AS), seseorang yang berada di atas ketinggian 80 km ditetapkan sebagai astronot. 120 km (75 mil atau 400.000 kaki) menandai batasan di mana efek atmosfer menjadi jelas sewaktu proses memasuki kembali atmosfer (re-entry).
Mencapai orbit membutuhkan kecepatan tinggi. Sebuah pesawat belum mencapai orbit sampai ia memutari Bumi begitu cepat sehingga gaya sentrifugal ke atas membatalkan gaya gravitasi ke bawah pesawat.
Saat satelit "Sputnik" 1957 diluncurkan ke antariksa, sebuah era baru terbuka. Lomba di antara negara adidaya untuk menguasai luar angkasa. Luar angkasa menyimpan berjuta misteri. Rasa ingin tahu yang dimiliki manusia tentu saja menjadikan luar angkasa menarik untuk dijadikan tempat eksplorasi.
Berbagai upaya dilakukan untuk bisa mengeksplorasi angkasa, baik itu dengan peluncuran pesawat, roket maupun satelit. Ketika suatu misi eksplorasi berhasil melakukan pencapaian, tentu berdampak positif terhadap ilmu pengetahuan.
Selain upaya ilmu pengetahuan, luar angkasa juga menjadi ajang "space race" atau perlombaan antariksa antara Amerika Serikat (AS) dengan Uni Soviet. Kedua negara berlomba-lomba untuk menentukan siapa yang tercepat dan menjadi yang pertama mencapai prestasi di angkasa.
Setelah AS. Rusia dan Tiongkok melakukan eksplorasi ke antarariksa, kini Pakistan berniat untuk mengirim astronot pertamanya ke antariksa pada 2022 dan akan mulai menyeleksi para calonnya tahun depan.
Negara tetangga dan musuh bebuyutannya, India, telah mengirim angkasawan pertama ke antariksa pada 1984 dalam misi bersama pimpinan Soviet. Negara itu meluncurkan roket ke antariksa pada Senin (22/7) untuk usaha mendaratkan pengelananya dengan aman di bulan, sebagai misi ambisiusnya saat ini.
Program Pakistan itu diumumkan 50 tahun setelah misi luar angkasa Amerika Apollo 11 mendaratkan manusia pertama di bulan, menandai permulaan baru setelah memusatkan perhatian pada pengembangan satelit-satelit komunikasi.
"Ini akan menjadi langkah terbesar dalam sejarah kami untuk kegiatan luar angkasa," ujar Menteri Teknologi dan iptek Chaudhry Fawad Hussain dalam cuitan di Twitter.
Satu panitia pemilihan akan mulai menyeleksi para calon pada akhir Februari, katanya.
Badan Antariksa Nasional Pakistan, SUPARCO dibentuk pada 1961 dan meluncurkan satelit komunikasi pertama 50 tahun kemudian dengan bantuan Badan Antariksa dan Kerjasama Teknologi Tiongkok. (anc/rtr/tst/es)










