Dekan FIB USU, Dr Budi Agustono saat membuka seminar daring bertema Kemerdekaan RI: Jembatan Emas Menuju Kesejahteraan Bangsa, Sabtu (15/8) sore. (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Memperingati HUT ke-75 RI, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU) menggelar seminar daring bertema Kemerdekaan RI: Jembatan Emas Menuju Kesejahteraan Bangsa, Sabtu (15/8) sore.
Dekan FIB USU, Dr Budi Agustono mengatakan kegiatan seminar daring merupakan program FIB USU dalam rangka menyambut Kemerdekaan RI yang ke-75.
"Saya berharap melalui seminar daring ini, kita mampu merefleksikan HUT Kemerdekaan dalam pola pikir yang positif dan sikap optimistis dalam menyongsong masa depan bangsa, yakni menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar dan mampu mensejahterakan rakyatnya," ujarnya.
Seminar daring itu turut dihadiri dan didukung penuh Wakil Dekan II FIB USU Dra Heristina Dewi MPd, dan turut dihadiri Wakil Dekan I FIB USU Prof Mauly Purba dan Wakil Dekan III Prof Ikhwanuddin Nasution.
Seminar yang diketuai Mhd Pujiono PhD tersebut diisi pembicara dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Direktur Jenderal Kebudayaan Dr Hilmar Farid.
Pembicara lainnya yakni Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia Prof Dr Sulistyowati Irianto dan Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada Prof Dr Bambang Purwanto.
Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud RI Dr Hilmar Farid.
Dalam paparannya Dr Hilmar Farid menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dan kebudayaan yang kaya raya.
"Namun sayang, belum tergali secara optimal. Sehingga dibutuhkan para kaum intelektual untuk bersama-sama menggali potensi tersebut, karena bila keanekaragaman hayati dan kebudayaan itu digabungkan maka akan membuka peta kekayaan intelektual Indonesia," ujarnya.
Dr Hilmar juga menyinggung pidato Presiden RI Joko Widodo terkait kondisi bangsa saat ini.
"Presiden bilang bahwa, hampir semua negara saat ini, bila diibaratkan sebuah komputer sedang macet akibat pandemi yang melanda," ujarnya.
Sehingga, imbuhnya, dibutuhkan restart agar bisa kembali berjalan.
"Saya berpikir, untuk merestart maka dibutuhkan tatanan baru dan re-thinking (berpikir kembali) serta re-oriented (arah kebijakan baru)," ujarnya.
Sementara Prof Dr Sulistyowati Irianto dalam materinya mengupas tentang perjuangan perempuan dalam masa kemerdekaan, di mana perempuan di satu sisi menjadi korban, namun juga menjadi pahlawan.
"Persoalan gender saat ini masih harus terus diperjuangkan dan menjadi pekerjaan rumah bersama. Utamanya adalah dukungan pengesahan RUU PKS oleh para legislator agar tidak ada lagi perempuan yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan," tegasnya.
Prof Bambang Purwanto juga berharap dalam kemerdekaan, masyarakat harus memaknai kemerdekaan sebagai bangsa, bukan sebagai negara.
Peserta Seminar Daring Kemerdekaan, FIB USU.
"Ini adalah kemerdekaan bangsa. Bangsa adalah kita semua, sehingga dalam memaknainya kita harus bisa terlahir kembali (reborn) sebagai bangsa yang percaya diri dan optimistis dalam menyongsong pembangunan," ujarnya.
Ketua Panitia MhD Pujiono PhD berterimakasih kepada narasumber dan para peserta yang antusias mengikuti hingga berakhirnya seminar.
(BR)