Tami Tari yang bertahan di PPKM darurat. (Analisadaily/Nir)
SUDAH jam sembilan pagi. Tapi dagangan sarapannya baru laku delapan bungkus. Padahal biasanya di jam sembilan pagi dagangannya sudah hampir habis. Terpaksa hari itu, Kamis (15/7), mereka harus rugi.
Inilah yang dialami pedagang sarapan pagi di Jalan Multatuli Medan, Sri Utami (33) dan adiknya Sri Utari (32). Pemberlakuan PPKM Darurat di Kota Medan membuat mereka tak sebebas biasanya untuk berdagang. Pembeli tak boleh duduk di warungnya. Jalanan menuju ke warungnya juga ditutup. Alhasil memang tak ada pembeli.
Tapi kakak beradik ini tak pasrah begitu saja. Mereka ambil kardus dan spidol. Mereka tulis di kerdus kalau beli sarapan mereka maka menyelamatkan tiga nyawa. Kemudian mereka tawarkan ke pengendara-pengendara yang melintas di depan warungnya. Selanjutnya direkam dalam bentuk video.
Tiga nyawa yang ditulis dikerdus maksudnya adalah karena masing-masing dari mereka sudah punya tiga anak. Kalau sarapan tak laku, maka tiga anaknya tak makan. Selain tak makan, maka tak ada pula biaya untuk sekolah anak-anaknya.
"Idenya itu dari Tari. Sini kau kuvideokan lagi megang kerdus," kata Tami saat bercerita kepada Analisa, Minggu (18/7).
Video lagi menawarkan sarapan ke pengendara-pengendara itu selanjutnya mereka kirim ke akun-akun dengan pengikut banyak di sosial media. Sontak videonya viral. Banyak netijen yang merespons. Tak lama, ke akun mereka pun kebanjiran orderan sarapan.
"Setelah viral, kami dapat orderan banyak bang. Pas hari Jumat pula. Ada yang ngirim pesan ke saya minta nomor rekening. Kemudian kirim Rp300 ribu. Dia bilang sarapannya dia beli Rp300 ribu. Tapi sarapannya itu gak untuk dia. Disuruhnya kami bagi-bagi ke ojek online dan lainnya," ucap Tami.
Belum lagi bantuan dari asosiasi pedagang. Gara-gara melihat video mereka jadi memberikan bantuan beras. "Cuma kan ini karena kami viral. Yang kami mau, kami bisa berjualan seperti biasa. Selesai PPKM ini,' ucapnya.
PPKM ini katanya sangat mematikan ekonomi pedagang. "Kami tetap protokol kesehatan kok. Buktinya kami udah divaksin juga. Mau kami divaksin walaupun kata orang bahaya lah inilah itulah. Tapi kami ikuti juga. Jadi tolonglah pemerintah memikirkan nasib kami ini," ucap Tari.
Permintaan mereka PPKM Darurat di Kota Medan ini tak diperpanjang. Kalaupun diperpanjang, perhatikan nasib pedagang. "Kami pun mau di rumah saja. Tapi ya kasihlah makan kami. Kalau gak dikasih makan, apalah yang mau kami makan?," aku kakak beradik yang telah berdagang tujuh tahun tersebut.
Penulis: Nirwansyah Sukartara
Editor: Bambang Riyanto