Binjai dan Cerita Rempah Sultan

Binjai dan Cerita Rempah Sultan
MIMPI UNTUK REMPAH: 13 jenis rempah diperlihatkan Agus Susilo saat akan meracik minuman "rempah sultan" di kedainya. Agus memiliki mimpi nantinya para kawula muda bisa nyaman menyeruput minuman rempah, dan minuman rempah bisa akrab di masyarakat luas. (Analisadaily/qodrat al qadri)

BAYANGKAN sepasang anak muda berbicara santai di sebuah warung kekinian sambil menyeruput minuman rempah. Mulut mereka tak diam, tangan mereka pun tak mampir ke gawai. Mereka fokus berbincang dan tampak serius menikmati minuman yang khusus diracik ‘barista’.

“Itu mimpi saya. Indonesia sekali kan?” ungkap Agus Susilo.

“Dan, minuman itu dinamai rempah sultan. Kenapa? Karena ada sedikitnya 13 rempah yang diracik di sana,” tambah lelaki 43 tahun yang kini mengelola Warung Kopi (Warkop) Pondok Jalur Rempah Binjai itu.

Agus belakangan ini memang mencoba merevitalisasi rempah dengan mengusung konsep edukatif. Tujuannya sederhana, dia ingin rempah menjadi penyeimbang bagi generasi muda yang kini sangat hafal dengan produk luar negeri, tapi justru minim literasi tentang produk leluhur yang berkhasiat.

“Kenapa tidak kita buat ‘rempahshop’? Selain syarat edukasi, juga menyehatkan,” ujar pentolan Teater Rumah Mata Medan ini.

Tak hanya bicara, Agus pun langsung meracik minuman khusus untuk Analisa. Dia menyebutnya sebagai ‘rempah sultan’. Dia menawarkan dua pilihan minuman rempah. Pertama, minuman rempah original dan kedua, minuman rempah dengan campuran gula aren. Tanpa sungkan dia pun langsung menjelaskan maksud dari ‘rempah sultan’ tersebut.

Adalah soal masa lalu ketika rempah dikuasai para sultan menjadi faktor, selain itu karena cukup banyak bahan (13 jenis) yang dijadikan minuman tersebut. Sebut saja kapulaga, kayu manis, cengkih, lada hitam, pala, kayu secang, jahe, serai, cabai hijau, daun pandan, daun jeruk, bunga lawang, dan gula aren.

“Kini, dua minuman ini yang menjadi andalan di Warkop Pondok Jalur Rempah,” imbuhnya.

Sebelum menjadi warkop, Agus menjual minuman rempah racikannya secara daring dengan bonus gratis biaya pengantaran. Namun seiring pencaritahuannya tentang jalur rempah Sumatra, Agus sadar Kota Binjai merupakan salah satu wilayah jalur keberadaan rempah di masa lalu. Dan kebetulan juga seorang teman menawarkan sebuah lahan yang dijadikan kantor bersama (Senyawa TV) untuk giat seni dan kebudayaan di Kota Binjai, Sumatra Utara.

“Jadi paslah kan, yang disajikan minuman rempah, dan keberadaannya di jalur rempah,” ungkapnya.

Memang diakuinya mendirikan Pondok Jalur Rempah adalah karena faktor sejarah. Apalagi, ketika menyadari situasi pandemi yang membawa rempah-rempah melejit ke permukaan. Sejalan itu kesadaran masyarakat terhadap rempah pun meningkat. Bahkan kini di tengah masyarakat, rempah diakui menjadi sebuah formula peningkat imunitas tubuh menghadapi coronavirus.

“Kenapa rempah? Ya, karena Sumatra terkenal dengan rempahnya. Wilayah kita ini kan wilayah yang dilalui sebagi jalur rempah. Melihat ke Binjai, dulu ketika orang-orang dari gunung mau ke pesisir, titik singgahnya adalah Binjai,” ungkapnya.

Menurut Agus, sejak dulu, hasil rempah Sumatra digilai negara lain. Bahkan, karena rempah juga Indonesia dijajah. “Jadi ironisnya generasi sekarang malah lebih suka produk dari Barat, seperti minuman, lebih suka minuman kekinian. Padahal kita punya kekayaan rempah. Dulu orang Barat ke sini untuk merebut rempah kita,” terangnya.

Soal bagus untuk daya tahan tubuh (imunitas), Tim Ahli Covid 19 Balitbang Sumut dr Delyuzar tak menampik Agus. Terbukti beberapa penelitian telah mengungkapkan itu. Bahkan dari zaman nenek moyang, sudah seharusnya memang masyarakat dianjurkan terlebih dahulu mengonsumsi makanan maupun minuman dari bahan herbal.

"Memang tergantung rempahnya sebenarnya, jahe misalnya, itu sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita," ucapnya.

Lalu bagaimana peran Sumatra Utara dalam urusan rempah dunia? Sejarawan Dr. Phil. Ichwan Azhari mengungkapkan konteks ini sangat luas sekali, harus merujuk ke literatur. “Yang pasti rempah utama Sumut yang legendaris dan menjadi komoditi dunia itu adalah kemenyan, kapur barus, lada, pinang,” katanya.

Dia pun menyinggung usaha yang dilakukan Agus Susilo melalui Pondok Jalur Rempah Binjai sebagai usaha yang menarik namun belum berarti apa-apa jika dilihat sebagai usaha untuk merevitalisasi jalur rempah. “Ini kan baru tahap kenalkan herbal, minuman rempah. Jalur rempah dalam sejarah itu kan jalur ekspor perdagangan dunia. Bukan sekadar buka kedai kopi pakai rempah. Jadi ini tahap kenalkan rempah di minuman, yang sudah lama ada di tempat lain,” cetusnya.

Secara spesifik, Ichwan juga mengaku belum meneliti sejarah wilayah Binjai dalam peta jalur rempah. Namun kembali ia tegaskan, komoditas rempah yang masuk dalam jalur rempah di Sumatra Utara, selain kemenyan, kapur barus, lada, dan pinang termasuk juga pala, gambir, cengkih, kayu manis, serta asam glugur. “Kalau Tembakau tidak,” tutupnya.

Dan, untuk melihat jalur dan peran Sumatra Utara kini terkait rempah, Ichwan menyebutkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bisa menjawabnya. Setidaknya, berdasarkan data BPS Sumatra Utara, nilai ekspor melalui pelabuhan muat di wilayah Sumatra Utara pada Desember 2020 mengalami kenaikan dibandingkan bulan November 2020, yaitu dari US$720,94 juta menjadi US$748,58 juta, atau naik sebesar 3,83 persen. Bila dibandingkan dengan Desember 2019, ekspor Sumatera Utara mengalami kenaikan sebesar 19,23 persen.

Adapun golongan barang yang mengalami kenaikan nilai ekspor terbesar Sumatra Utara pada Desember 2020 terhadap November 2020 adalah golongan kopi, teh dan rempah-rempah sebesar US$8,43 juta (33,07 persen). Sementara ekspor ke Tiongkok pada Desember 2020 merupakan yang terbesar yaitu US$105,59 juta diikuti Amerika Serikat sebesar US$89,44 juta dan Pakistan sebesar US$52,00 juta dengan kontribusi ketiganya mencapai 33,00 persen. Sedangkan menurut kelompok negara utama tujuan ekspor pada Desember 2020, ekspor ke kawasan Asia (di luar ASEAN) merupakan yang terbesar dengan nilai US$285,69 (38,16 persen).

Tidak soal pasar luar negeri saja, rempah secara umum juga tetap eksis di dalam negeri. Setidaknya untuk urusan dapur. Bukan rahasia lagi kalau masakan orang di kawasan pesisir mewah dengan rempah bukan? Bahkan, menjual bumbu rempah bisa menjadi sumber kehidupan tersendiri. Setidaknya bagi Noni, 48 tahun. Pedagang bumbu di Pasar Simpang Limun Medan ini mencari nafkah dari rempah-rempah. Ada jahe, kunyit, pala, dan rempah-rempah lainnya, Noni mengaku bisa menghidupi keluarganya.

“Jadi kita belinya langsung dari petaninya. Ada petani jahe dan kunyit. Tiap hari mengantar ke kita. Serai juga. Dan memang tidak pernah sulit kita dapatkan,” ucapnya.

Rempah-rempah yang Noni dapatkan itu diolah menjadi bumbu untuk gulai, rendang, bumbu sate, dan lainnya. “Kita kemas dalam bungkusan plastik. Karena kalau orang mau menggulai atau merendang malas mencari rempah-rempahnya. Jadi dengan begini lebih praktis, tinggal masuki saja ke kuali, semua sudah menyatu,” ujarnya tersenyum.

Jalur Rempah Sumatra Timur

Kembali ke masa silam, sejatinya Binjai dikenal sebagai salah satu jalur rempah asal Sumatra. Mengutip skripsi sarjana Bimasyah Sihite, Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatra Utara, Medan, 2018, selain jalur transportasi air sebagai jalur rempah, terdapat juga jalur darat. Pembangunan jalan raya khususnya di Sumatra Timur dipelopori oleh pihak onderneming, yang dimaksudkan untuk kepentingannya sendiri.

REVITALISASI REMPAH:Agus bertekad mengedukasi para milenial sekaligus merevitalisasi rempah di masa kini agar bisa dinikmati dan diterima sebagai gaya hidup sehat baru. Analisadaily/qodrat al qadri
Jalan-jalan ini membelah di tengah-tengah suatu lahan pertanian masyarakat untuk memudahkan penanaman dan pengangkutan hasil panen. Jika terdapat beberapa perkebunan dengan jarak yang berdekatan oleh pemilik yang sama, maka dibuat jalan penghubung.

Pada akhir abad XIX Maskapai Deli telah membangun jalan antara Medan dan Sunggal sepanjang 10 km dan dari Lubukpakam ke Bangun Purba sepanjang lebih kurang 20 km. Pembangunan jalan ini kemudian diteruskan oleh pemerintah. Sampai dengan kurun 1918, sudah dibangun jalan utama sepanjang 500 km, yang menghubungkan kota-kota penting di Cultuurgebied (wilayah yang ditetapkan sebagai perkebunan). Jalur-jalur yang dibuka adalah rute Medan-Pangkalan Brandan dengan melewati Binjai dan Tanjungpura sepanjang 107 km, Medan ke Tebingtinggi ke Tanjungbalai sepanjang 61 km.

Selain itu juga terdapat juga pembukaan jalan untuk penghubung Cultuurgebied dengan daerah luar lainnya, seperti dari Kabanjahe ke Kutacane di Aceh, serta dari Parapat ke Tapanuli. Sementara pengangkutan barang dan penumpang sebelum kedatangan pengusaha perkebunan dilaksanakan dengan menggunakan sarana yang telah dikenal masyarakat tradisional pada umumnya. Yakin, perahu dan sampan yang mengikuti jalur sungai dari hulu menuju ke hilir serta dari pegunungan menuju ke wilayah pedalaman dan sebaliknya. Sarana transportasi ini telah lama berlangsung di wilayah Sumatra Timur termasuk daerah Langkat.

Bagi masyarakat Melayu hampir di seluruh wilayah Sumatra Timur pengangkutan barang dan penumpang banyak mempergunakan alat transportasi sungai maupun bantuan hewan dan alat gerobak sebagai transportasi darat. Walaupun sarana transportasi air berupa sungai ini berjalan agak sedikit lambat, tetapi bagi masyarakat Melayu di Langkat infrastruktrur transportasi ini telah ada karena kondisi geografisnya yang banyak dilalui sungai-sungai.

Bimasyah juga menjelaskan, tersedianya sarana transportasi ini sangat berarti bagi masyarakat di daerah tersebut, sehingga dengan demikian jalur transportasi ini menjadi jalur prasarana yang menguntungkan terutama dalam membawa hasil-hasil pertanian rakyat yang akan diekspor ke luar wilayah.

Pada prinsipnya, transportasi air di Langkat sangat erat kaitannya dengan sungai maupun laut. Keduanya memiliki peran yang sangat vital bagi proses kehidupan dan peradaban di suatu wilayah, karena jalur ini nyatanya adalah sebuah tempat proses aktivitas pertanian dan bermukim manusia. Lewat jalur ini sungai menjadi penghubung dunia luar dalam konteks ekspor dan impor perdagangan. Bahkan di samping itu, melalui jalur ini juga menjadi kawasan penghubung antara kawasan pedalaman dengan pesisir, juga hinterland dengan foreland.

“Jadi bagaimana mau tambah lagi minuman rempahnya?” tanya Agus.

Agus memang tak berhenti pada minuman rempah sultan, dia ingin berbuat lebih dalam usaha mengedukasi generasi muda. Dalam waktu dekat, Agus berencana membangun taman rempah. Taman rempah ini akan dihadirkan persis di samping Warkop Pondok Jalur Rempah.

“Nantinya di taman rempah akan ditanam rempah-rempah khas Sumatra. Menarik kan, generasi muda yang datang, bisa minum rempah sekaligus mengenal jenis rempah, dan satu lagi lokasinya berada di jalur rempah Sumatra,” pungkasnya tersenyum mengakhiri wawancara.

Berita kiriman dari: Adelina Savitri Lubis dan Qodrat Al Qadri

Baca Juga

Rekomendasi