Minyak Goreng Langka, Ini Kata Formasi

Minyak Goreng Langka, Ini Kata Formasi
Warga antre membeli minyak goreng murah saat operasi pasar di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (12/2/2022). (ANTARA FOTO/Syaiful Arif/rwa.)

Analisadaily.com, Medan - Pimpinan Pusat Forum Generasi Muda Seluruh Indonesia (Formasi), Ibnu Kaban mengatakan, beberapa pekan belakangan, minyak goreng mulai langka di pasar. Akibatnya, terjadi pergeseran besar dalam konsumsi minyak sawit mentah di dalam negeri.

Ibnu menilai kenaikan harga minyak goreng yang berujung pada kelangkaan stok barang seperti saat ini adalah ulah pemerintah sendiri lewat kebijakan yang dibuat.

"Konsumsi CPO di dalam negeri yang sebelumnya didominasi industri pangan, kini menjadi industri biodiesel," kata Ibnu, Jumat (18/2).

Kata dia, lonjakan tajam terjadi sejak 2020 dengan diterapkannya Program B20 (20 persen kandungan CPO dalam minyak biosolar).

"Biang keladinya yang bikin kisruh minyak goreng ini adalah pemerintah karena meninabobokan pabrik biodiesel," tuturnya.

Ibnu menjelaskan, konsumsi CPO untuk biodiesel naik tajam dari 5,83 juta ton tahun 2019 jadi 7,23 juta ton tahun 2020. Di sisi lain, konsumsi CPO untuk industri pangan turun dari 9,86 juta ton pada 2019 jadi 8,42 juta ton di 2020.

Pola konsumsi CPO dalam negeri seperti itu dinilai akan terus berlanjut dan diperkirakan porsi untuk biodiesel akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan porsi CPO dalam biodiesel lewat Program B30 atau bahkan lebih tinggi lagi.

"Jadi karena wajib, konsumsinya naik, sawitnya kan tidak meningkat secepat kebutuhan biodiesel jadi diambil dari minyak goreng ini, industri pangan ini," jelasnya.

Ia menyebut pengusaha lebih cenderung menyalurkan CPO-nya ke pabrik biodiesel karena pemerintah menjamin perusahaannya tidak bakal merugi. Pasalnya, ada kucuran subsidi yang berasal dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit (BPDPKS) jika harga patokan di dalam negeri lebih rendah dari harga Internasional.

"Sebaliknya, jika CPO dijual ke pabrik minyak goreng, pengusaha tak mendapatkan insentif seperti itu," jelasnya.

"Dana BPDPKS dinikmati oleh pengusaha besar. Subsidi biofuel ini 79,04%, rakyatnya cuma dapat 4,73%. Jadi ini gila, pemerintah ini tidak ada keberpihakannya kepada rakyatnya," sambungnya.

Hingga kini sudah puluhan triliun rupiah mengalir subsidi ke pabrik biodiesel dari dana sawit yang dikelola oleh BPDPKS. Setidaknya ada 22 pengusaha sawit yang disebut menikmati kebijakan ini.

"Sekarang pemerintah lebih mengedepankan buat energi, buat perut urusan belakangan. Makanya buat energi dimanja, buat perut tidak dimanja," ungkapnya.

"Jadi jangan cepat menyalahkan pengusaha juga karena pengusaha tidak dilarang untuk dapat untung, tentu saja pengusaha akan mencari bidang yang untungnya lebih banyak. Untungnya lebih banyak kalau dia jual ke biodiesel. Yang membuat seperti itu siapa? Ya pemerintah. Jadi pemerintah ini salah kelola, pemerintah yang tidak bisa memerintah," tegas Ibnu.

(JW/CSP)

Baca Juga

Rekomendasi