Tim LPPM USU Laksanakan Training of Trainer Peer Counselor Permata Gereja Batak Karo Protestan

Tim LPPM USU Laksanakan Training of Trainer Peer Counselor Permata Gereja Batak Karo Protestan
Tim LPPM USU Training of Trainer Peer Counselor Permata Gereja Batak Karo Protestan. (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Karo - Tim Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan Training of Trainer (ToT) untuk meningkatkan keterampilan konseling pada Permata GBKP (pemuda-pemudi Gereja Batak Karo Protestan) di Learning Centre Sukamakmur, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang.

Pelatihan ini dilaksanakan oleh tim pengabdian yang terdiri dari para dosen dari Fakultas Psikologi USU diketuai Josetta M.R. Tuapattinaja, M.Si., Psikolog dengan anggota Eka Danta Jaya Ginting, MA., Psikolog; Rika Eliana, S.Psi., M.Si., Psikolog dan Rahma Fauzia, M.Psi., Psikolog.

"Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan pemuda-pemudi gereja yang sehat secara mental, jasmani, dan rohani. Pelatihan ini juga dilakukan sebagai upaya preventif dan kuratif untuk

mengatasi permasalahan-permasalahan psikologis yang rentan dialami oleh kelompok pemuda yang memasuki usia transisi menuju usia dewasa. Permasalahan psikologis yang umumnya dialami dikenal

sebagai pengalaman krisis paruh baya (quarter life crisis), yang ditandai dengan munculnya rasa ketidakberdayaan, keragu-raguan dan ketakutan yang jika tidak diatasi dapat mengarah pada gangguan psikologis serius diantaranya gangguan kecemasan, stress, bahkan depresi," ujar Josetta M.R. Tuapattinaja, M.Si.

Josetta mengatakan, pengalaman quarter life crisis menjadi sebuah fenomena yang ramai dibahas dan dirasakan umumnya pada individu di usia 18-29 tahun. Secara statistik, Permata GBKP merupakan pemuda-pemudi gereja yang juga berada rentang usia 18-29 tahun yang berjumlah 15.810 orang berasal dari 631 Runggun Gereja dan dikategorikan ke dalam 27 Klasis yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Melihat jumlah dan potensi yang dimiliki Permata GBKP, pemuda-pemudi dapat diberdayakan sebagai wadah untuk saling memberikan dukungan (support) kepada sesama teman lainnya.

"Pertemanan yang terjalin di Permata GBKP diharapkan mampu menjadi komunitas persekutuan yang sehat dan suportif baik secara kerohanian maupun psikologis. Penanganan yang berkaitan dengan masalah jiwa/psikologis di dalam pemuda-pemudi gereja masih belum banyak dilakukan. Melihat situasi dan permasalahan ini, penting untuk memperhatikan permasalahan psikologis yangdialami pemuda-pemudi gereja untuk mendapatkan penanganan dan layanan psikologis yang diharapkan, juga ketersediaannya yang sebanding dengan jumlah Permata GBKP," katanya.

Hal ini dilakukan agar pemuda-pemudi gereja juga dapat merasakan bahwa gerejapun dapat membantu pemuda-pemudinya dalam mengatasi masalah-masalah psikologi yang merekahadapi, melalui pendekatan psikologis, sehingga terjadi pemenuhan pelayanan yang holistik yang mencakup aspek rohani dan psikologis. Pemuda-pemudi yang terlatih kemudian akan menjadi peer counselor
(konselor teman sebaya) yang dapat meberikan bantuan secara dukungan psikologis melalui layanan Peer Counseling (konselor teman sebaya).

"Layanan Peer Counseling merupakan salah satu layanan pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang non-professional kepada teman sebayanya,yang dalam hal ini dilakukan oleh Permata

GBKP, dengan tujuan untuk membantu mengelola atau mengatasi masalah psikologis yang dihadapi," ujarnya.

Dijelaskan, Peer Counseling ditujukan untuk membantu orang lain agar menjadi efektif dalam membantu, bukan hanya dirisendirimelainkan juga orang-orang lain disekitarnya dalam menangani isu-isu kesehatan mental. Untuk menjadi seorang Peer Counselor, seseorang harus mengikuti serangkaian kegiatan pelatihan untuk mengasah keterampilannya agar dapat berdaya dan mampu memberikan upaya atau dukungan pada teman-temannya khususnya yang mengalami quarter life crisis.

"Peer Counselor dilatih agar memiliki keterampilan mendengar, membangun komunikasi dua arah, pemecahan masalah serta pengambilan keputusan. Dibentuknya layanan peer counseling didasarkan pada asumsi bahwa individu yang memiliki karakteristik dan usia yang cenderung sama dapat menstimulasi perilaku orang lain secara signifikan. Melalui peer counseling, teman sebaya berinteraksi dan memberikan perhatian dan kepedulian satu sama lain saat berhadapan dengan masalah yang mengganggu melalui pemahaman diri," jelasnya.

Pelatihan dilakukan setelah sebelumnya melewati tahap assessment yang bertujuan menyaring pemuda-pemudi yang memiliki motivasi dalam melakukan pelayanan dalam bidang kesehatan mental. Dari proses assessment tersaring sebanyak 20 calon konselor yang merupakan utusan mewakili klasis ataupun runggun gereja GBKP di wilayah Sumatera Utara dan kemudian melanjutkan ke tahap pelatihan.

Sebanyak 20 pemuda-pemudi Permata GBKP dibekali pelatihan atau Training of Trainer untuk msengasah keterampilan dalam melakukan konseling. Pelatihan ini berlangsung selama 2 hari dan difasilitasi oleh fasilitator yang merupakan tim pengabdian sekaligus akademisi dan praktisi dalam bidang psikologi. Pelatihan dilakukan berdasarkan kerjasama dengan Pengurus Permata GBKP. Pelatihan terdiri dari 9 sesi yang terbagi ke dalam sesi materi dan praktik (role play). Pasca pelatihan, para konselor dimonitoring dalam melakukan layanan konseling di masing-masing gereja maupun klasis.

Keberadaan konselor di tempat masing-masing menjadi langkah awal dalam membangun “Rumah Pemulihan” pada lingkungan Permata GBKP. Melalui kegiatan pelatihan ini, para konselor yang sudah terlatih diharapkan mampu berkontribusi pada runggun gereja maupun klasis masing-masing khususnya dalam memberikan layanan konseling bagi teman sebayanya yang membutuhkan pertolongan psikologis untuk mewujudkan Permata GBKP yang sehat secara mental.

(BR)

Baca Juga

Rekomendasi