Kelengkeng ‘Puangphet’, Bisnis yang Menjanjikan

Kelengkeng ‘Puangphet’, Bisnis yang Menjanjikan
Kebun kelengkeng jenis puangphet milik Yahya Saragih (Analisadaily/Amirul Khair)

Analisadaily.com, Bangunpurba - Kalau dibuka kulitnya, daging buahnya langsung garing terbelah. Rasanya kriuk. Kalau digigit, dagingnya, garinglah

Buah yang dimaksud Muhammad Yahya Saragih, warga Desa Bangunpurba Pekan, Kecamatan Bangunpurba, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, itu adalah kelengkeng jenis ‘puangphet’ yang kini dikembangkannya sejak 3 tahun terakhir di areal miliknya seluas sekira 1,5 hektare di Desa Sialang masih kecamatan yang sama dengan tempat tinggalnya.

Kelengkeng jenis puangphet menjadi pilihan Yahya setelah mencoba mengembangkan beberapa jenis pertanian lainnya seperti bawang merah, pisang barangan dan salak pondo. Jenis kelengkeng ini dinilai punya peluang bisnis sangat menjanjkan meski diakuinya, perawatannya di awal dan masa pertumbuhannya harus teliti.

Selama 3 tahun terakhir, dirinya menghabiskan aktivitas di areal pertaniannya tersebut. Dan modal yang dikeluarkannya kini sudah habis sekira Rp120 juta. Itu pun terbilang irit karena untuk perawatan hariannya ia lakukan sendiri seperti menyemprot dan membersihkan gulma dan apa saja yang bisa dilakukannya.

Prosesnya ini juga tidak sebentar. Beberapa kali ia mencoba belajar bagaimana mengembangkan pertanian pohon kelengkeng sehingga belajar ke Malang dan Yogyakarta. Akhirnya ia mantap untuk mengembangkan pohon kelengkeng. Dan jenis kelengkeng yang dipilihnya untuk dikembangkan pun hanya jenis puangphet’ dari banyaknya jenis kelengkeng.

Menurut Yahya, jenis kelengkeng puangphet punya kelebihan dari jenis lainnya. Selain buahnya memiliki cita rasa manis standar Indonesia, kelengkeng puangphet memiliki ukuran buah terbilang besar, dagingnya tebal dan bijinya kecil serta dagingnya terasa ‘kriuk’ saat digigit.

Bisnis Menjanjikan

Yahya meyakini, selain dari hasil penelitian pribadnya di pasaran, kelengkeng puangphet merupakan bisnis yang sangat menjanjikan dalam meningkatkan pendapatan ekonomi. Selain kelengkeng jenis ini tidak banyak dijual karena harganya terbilang lebih mahal dari jenis biasa yang dijual di pasaran, namun peminatnya sangat banyak.

Dari areal pertanian kelengkengnya itu, Yahya mengaku sudah melakukan panen perdana buah kelengkeng dari 100 pohon yang menghasilkan sekira 1,8 ton dengan harga jual Rp40.00 - Rp50.000.

Dari panen perdana berasal dari 100 tersebut, ia sudah mendapatkan hasil penjualan senilai Rp45 juta. Itu dari hasil yang dijual langsung. Belum termasuk, panen yang dibagikan kepada tetangga dan teman-teman dengan cuma-cuma.

“Kalau dihitung, sudah hampir separuh modal kembali. Jadi sangat potensial sebagai bisnis meningkatkan pendapatan ekonomi,” terang Yahya, Minggu (5/5).

Selain itu, penjualan buah kelengkeng itu masih bersifat individu mulai dari orang datang langsung ke tempat atau menelepon memesan untuk pribadi dan beberapa orang secara kelompok. meski pun ada agen yang sudah bersedia menampungnya, tapi harga masih di bawah standar.

Saat ini, konsumennya datang dari Kota Pematangsiantar, Tebingtinggi, Serdangbedagai, Medan dan dari Deliserdang sendiri. Bahkan sudah ada konsumen yng memesan dari Jakarta.

“Insya Allah nanti, pasarnya akan ke Jakarta. Sudah ada yang pesan. Dan nanti juga akan coba buka melalui outlet di Kota Medan," jelasnya.

Untuk bibitnya sendiri, Yahya memesan dari daerah Malang dan menanamnya di areal pertanian miliknya seluas sekira 1,5 hektare. Dari luas itu, sebanyak 260 bibit pohon kelengkeng jenis puangphet ia tanam.

Dan dalam proses waktu 3 tahun, hanya sekira 6 pohon yang mengalami kerusakan alias mati dan dilakukan penyisipan penanaman dari stok bibit yang sengaja disiapkan.

“Prospeknya sangat bagus dan menjanjikan,” tandas Yahya.

(AK/CSP)

Baca Juga

Rekomendasi