
Analisadaily.com, Medan - Perlanja Sira, harfiahnya pemikul garam atau pedagang garam, Namun Perlanja Sira mengungkapkan dinamika peradaban Karo oleh interaksi hilir dan hulu di ruang geografis keberadaan suku Karo di eks Kerajaan Aru.
Buku Perlanja Sira ditulis oleh sejarawan Sumatera Utara Drs, Suprayitno, M.Si, Ph.D. Buku ini akan diluncurkan setelah lebaran setelah melalui proses yang panjang, buku ini dapat dicetak atas dukungan Ketua Dewan Pembina Karo Foundation sesepuh Karo Barata Brahmana, usai penulis buuku dan Ir. Jonathan Tarigan berdiskusi, perihal buku. “Perlanja Sira” tersebut.
Spontan diberikan dukungan biaya cetak sebanyak 1.000 eksemplar buku dan memfasilitasi 300 peserta dalam rangka peluncuran buku “ Perlanja Sira “ di Ballroom Hotel JW Marriot yang waktu pelaksanaan peluncurannya pada April 2025.
Buku “ Perlanja Sira “ setebal 150 halaman itu akan mengungkapkan asal usul , jati diri dan martabat Karo, sejarah Kerajaan Aru masa lampau dan eksistensi etnis Karo dalam ruang geografis Kerajaan Aru, interaksi sosial, ekonomi hilir-hulu di ruang geografis eks kerajaan Aru tersebut serta dinamika peradaban dan budaya oleh lintasan “Perlanja Sira “ itu dalam lintasan ruang dan waktu.
Di wilayah Pantai Timur Sumatera, pola perdagangan antara wilayah pedalaman dan pesisir telah terjadi sejak masa prakolonial.
Anderson didalam catatan perjalanannya di Pantai Timur Sumatera pada tahun 1823 mengatakan bahwa orang pedalaman yang ia sebut sebagai “karau karau” telah melakukan hubungan dagang dengan wilayah pesisir untuk mendapatkan opium, garam, dan pakaian.
Apabila kitatarik kebalakang, kata Suprayitno, Jumat (28/2/2025), wilayah Pesisir dan pedalaman telah melakukan hubungan perdagangan sejak abad ke 14, hal ini dapat dilihat dari temuan arkeologis berupa keramik asing kuno di Kabanjahe.
Untuk komoditas yang diperdagangkan di pesisir Pantai Timur Sumatera pada awal abad ke-16 menurut Toma Pires adalah beras, daging, anggur, lada, sutera, kemenyan, emas, budak, dan lainnya.
Dari semua komoditas yang ada, kebanyakan dihasilkan dari wilayah pedalaman. Peran wilayah pedalaman didalam mensuplai komoditas ke wilayah pesisir dapat diartikan bahwa di wilayah pesisir tidak ada komoditas penting yang dihasilkan.
"Wilayah pesisir hanya memainkan peran sebagai perantara saja. Salah satu wilayah pedalaman yang terdapat di wilayah Pantai Timur Sumatera adalah dataran tinggi Karo. Asal-usul Orang Karo, menurut J.H Neuwman, berdasarkan sumber- sumber lisan berasal dari India, Pakpak, Dairi, Sidikalang, dan Pagaruyung. Dari asal-usulnya kita dapat ketahui bahwa orang Karo berasal dari banyak wilayah yang bermigrasi ke dataran tinggi Karo di sebelah utara Danau Toba," ujarnya.
Secara persebarannya orang-orang Karo tidak hanya terdapat di wilayah dataran tinggi Karo, mereka juga mendiami dataran rendah di wilayah Deli, Langkat dan Serdang.
Satu Komoditas penting yang biasanya dibutukan di wilayah pedalaman, tidak terkecuali di wilayah Karo adalah garam. Garam adalah kebutuhan konsumtif yang hanya bisa didapatkan di wilayah pesisir.
Untuk di wilayah dataran rendah dan pesisir, terutama di Deli, perdagangan garam dikuasai oleh penguasa setempat seperti para urung dan Sultan. Orang-orang Karo yang berdagang dengan turun ke wilayah pesisir untuk mendapatkan garam disebut dengan nama Perlanja Sira. Garam bagi kehidupan orang Karo begitu penting, tidak hanya sebagai bumbu masak tetapi juga sebagai bagian dari ritual yang dikenal dengan penusur sira (menurunkan garam abadi).
Dalam ritual ini garam yang berbentuk panjang seperti padi, berwarna hitam dan rasanya cenderung hambar, menggantung di bagian langit langit rumah Siwaluh Jabu. Digunakan sebagai media untuk tafsir kehidupan baik dan buruk. Jika garam yang diturunkan dari rumah Siwaluh Jabu posisinya tegak, itu pertanda buruk, tidak baik untuk melakukan aktifitas keseharian. Sebaliknya jika posisi garam itu rebah, maka itu pertanda baik untuk melakukan aktivitas (Felix Rimba, 2024 dan O. Sulastri W.S., 2021).
Garam yang mengandung yodium sangat penting bagi kesehatan tubuh manusia. Bagi orang yang hidup di pedalaman atau dataran tinggi Karo kekurangan yodium menyebabkan tubuh terkan penyakit gondokan (hipotiroid).
Sampai tahun 1960-an penyakit gondokan masih terjadi di kalangan orang Karo. Ketika pemerintah Kolonial Belanda menerapkan kebijakan monopoli garam 1882 seturut dengan gencarnya pembangunan industri perkebunan tembakau Deli. Orang Karo melawan karena kebijakan itu mengancam kehidupan orang Karo. Garam menjadi salah satu isu penting sebagai faktor yang memicu perlawanan orang Karo dalam Perang Sunggal 1872-1895.
Para Simbisa Karo memanfaatkan jalur perlanjasira sebagai jalur gelirya mengobarkan perang terhadap Militer Belanda. Pemerintah Belanda kerepotan menghadapi heroisme orang Karo, makamereka menempuh strategi misi zending, untukmenasranikan orang Karo yang menurut mereka belum beragama dan beradab. Rupanya organisasi Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) yang melakukan misi Perkabaran Injil bagi orang Karo juga memanfaatkan Jalur Perlanjasira. Meint Joustra pendeta berkebangsaan Belanda berhasi membangun Karo Kerk (Gereja Karo) di Buluh Awar pada 24 Desember 1899.
Buluh Awar adalah salah satu bandar yang cukup sibuk, tempat transit para perlanjasira dari pedalaman Karo dan pedagang dari Kejuruan Senembah, Karena itu tempat ini sangat strategis untuk pengkabaran Injil bagi masyarakat Karo di Karo Dusun (Boven Deli) dan masyarakat Karo dari Tanah Tinggi Karo.
Demikian juga ketika masa perangkemerdekaan 1945-1949, sekali para pejuang kemerdekaan (TNI dan Lasykar Rakyat) memanfaatkan jalur perlanja sira sebagai jalur distribusi logistik dan strategi melawan dan menghancurkan pasukan Belanda. Perlanja Sira akan menjadi topik dan pembahasan utama didalam buku ini, karena belum ada satu penelitian atau tulisan yang secara khusus membahas tentang tofik ini. Bagaimana aktivitas, peran, dan jalur dagang Perlanja Sira serta pemanfaatan jalur perlanjasira sebagai jalur budaya, gerilya dan missi perkabaran Injil menjadi isu yang dibahas dalam buku ini.
Batasan spasial studi ini pedalaman Karo (Deli Hulu dan Tanah Tinggi Karo) sebagai daerah asal Perlanja Sira, hingga wilayah Pesisir Sumatera Timur, khususnya Deli tempat tujuan mereka mendapat garam, opium, kain, dan peralatanrumah tangga. Aktivitas Perlanja Sira melewati masa prakolonial hingga masa kolonial dari hubungan dagang dengan para Datuk atau para raja Urung yang memonopoli perdagangan garam, hingga masa monopoli garam yang dilakukan kolonial Belanda sejak1882. Masa peralihan dan perubahan pengusa di wilayah pesisir tentu memberikan dampak terhadap eksistensi Perlanja Sira,
"Maka dari itu uraian dalam buku ini secara temporal dari abad ke 19 hingga keabad ke 20 masa Kolonial Belanda sampai masa revolusi kemerdekaan. 1945-1949," ujarnya.
Dalam kesempatan lain, penulis buku dan Ir. Jonathan Tarigan mendiskusikan hal tersebut dengan Benson Kaban yang notabenenya sebagai Promotor Event.
Benson Kaban langsung merespon positif untuk acara tersebut untuk dibuat menjadi “spektakuler” dan juga ter-promosikan secara meluas.
Benson Kaban menambahkan acara ini akan dimeriahkan dengan pertunjukan tari & musik tradisi Karo dengan menghadirkan penyanyi Karo kenamaan Averiana Barus yang membawakan lagu-lagu ciptaan komponis besar Karo, Djaga Depari dan lagu “Turang“ lagu yang kerap dinyanyikan pejuang ’45 Resimen IV Sersan Mayor Hashim Ngalimun. Acara juga mengundang pembaca puisi kawakan, jurnalis Idris Pasaribu dan Hujan Tarigan tentang “Perlanja Sira” dan pemutaran film dokumentasi “Tradisi Penusur Sira” desa Dokan.
Acara tersebut akan dibawakan oleh MC profesional dan diskusi akan dipandu oleh moderator yang mumpuni. "Selain pemaparan dari Sang Penulis, kita juga akan menghadirkan akademisi sejarawan nasional dan sejarawan Sumut yang mumpuni pada bidangnya sebagai pembanding agar diskusi tersebut lebih maksimal," ujar Benson Kaban.
Benson menambahkan, gagasan Pak Barata Brahmana harus “difolow up”, untuk perlu dicetak 4000 buku lagi , hingga genap 5.000 buku Buku “ Perlanja Sira “ tersebut akan dibagikan ke sekolah-sekolah (SD/SMP/SMA) di Kabupaten Karo, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Langkat, sebagian Dairi, Aceh Tenggara, Simalungun, dan sebagian Kota Medan di sekolah-sekolah yang siswanya banyak orang Karo.
Benson Kaban optimis Soal tambahan biaya yang tidak sedikit, ia akan upayakan secara gotong-royong. "Jangankan soal buku “Perlanja Sira” ini, penulis buku ini, harus kita dorong jadi Profesor & Guru Besar di Kampus USU, sebagai sejarahwan yang konsentrasi meneliti tentang Karo sebagai sebuah etnis dan entitas, ujar Benson Kaban, menutup pembicaraan saat diwawancarai awak media.