Dari Toko Bunga ke Buku Keuangan: Ketika Literasi Sederhana Menguatkan UMKM

Dari Toko Bunga ke Buku Keuangan: Ketika Literasi Sederhana Menguatkan UMKM
Tim pengabdian Polmed saat di Toko Bunga Putri Surbakti Garden (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Di sudut Jalan Eka Warni, Medan Johor, deretan tanaman hias berdiri rapi di bawah naungan paranet sederhana. Daun-daun hijau yang terawat dan bunga yang bermekaran menjadi saksi ketekunan seorang perempuan bernama Hasnita Pane, pemilik Putri Surbakti Garden, sebuah usaha toko bunga yang telah bertahan lebih dari dua dekade.

Namun, di balik kesuburan tanaman yang dijualnya, usaha ini sempat menghadapi persoalan yang tak kasatmata: pengelolaan keuangan yang belum tertata.

Putri Surbakti Garden bukanlah usaha baru. Berdiri sejak tahun 2006, usaha ini tumbuh dari hobi menanam bunga yang kemudian berkembang menjadi sumber penghidupan keluarga.

Dalam perjalanannya, usaha ini pernah berada di lokasi strategis di pinggir jalan besar. Namun, kenaikan biaya sewa memaksa Hasnita Pane memindahkan usahanya ke lokasi yang lebih masuk ke dalam. Seiring perpindahan itu, omzet pun perlahan menurun.

Seperti banyak UMKM lainnya, tantangan yang dihadapi Putri Surbakti Garden bukan semata soal pemasaran atau modal. Persoalan mendasarnya justru terletak pada hal yang sering dianggap sepele: pencatatan keuangan.

Keuangan usaha dan keuangan pribadi masih bercampur. Harga pokok produksi tidak pernah dihitung secara pasti. Untung dan rugi hanya dirasakan, bukan dicatat.

Kondisi inilah yang kemudian menjadi titik masuk Politeknik Negeri Medan (Polmed) melalui kegiatan Pengabdian Mandiri Kepada Masyarakat (PMKM).

Melalui program bertajuk Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan Sederhana dan Pelatihan Manajemen Keuangan Dasar, tim dosen Polmed hadir bukan sekadar membawa bantuan, tetapi menawarkan perubahan cara pandang.

Tim pengabdian ini diketuai oleh Putri Syuhada, S.E., M.Si., bersama Anita Putri, S.E., M.Si., Eli Safrida, S.E., M.Si., Selfi Afriani Gultom, S.E., Ak., M.Si., dan Dr. Meily Surianti, S.E., Ak., M.Si.. Mereka berasal dari bidang akuntansi dan keuangan, namun pendekatan yang digunakan jauh dari kesan rumit atau akademis.

“Kami tidak datang membawa rumus, tapi membawa kebiasaan,” ujar Putri Syuhada dalam salah satu sesi pendampingan, Rabu (25/6/2025).

Bagi tim ini, literasi keuangan untuk UMKM bukan tentang laporan yang tebal, melainkan tentang membiasakan mencatat, memisahkan, dan memahami uang usaha sendiri.

Pendampingan dilakukan langsung di lokasi usaha pada Mei 2025. Selama satu hari penuh, tim dosen bersama mahasiswa mendampingi Hasnita Pane memahami dasar-dasar pencatatan keuangan sederhana.

Mulai dari mencatat pemasukan harian, pengeluaran usaha, hingga memisahkan uang belanja rumah tangga dari uang usaha. Tidak ada istilah teknis yang rumit. Semua disesuaikan dengan realitas usaha kecil.

Selain pelatihan, tim Polmed juga memberikan bantuan sarana produksi berupa bibit tanaman hias, pupuk, tanah, pot, dan pembasmi hama.

Bantuan ini dirancang bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai penunjang agar usaha dapat terus berjalan seiring dengan meningkatnya kapasitas pengelolaan keuangan.

Bagi Hasnita Pane, perubahan terbesar bukan pada jumlah bantuan yang diterima, melainkan pada cara memandang usahanya sendiri.

“Sekarang saya tahu, uang usaha itu harus dicatat. Tidak boleh dicampur. Kalau tidak, kita tidak tahu sebenarnya untung atau rugi,” ujarnya.

Kesadaran ini menjadi langkah awal yang sederhana, tetapi penting. Literasi keuangan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang kompleks dan hanya relevan bagi perusahaan besar. Padahal, bagi UMKM seperti Putri Surbakti Garden, literasi keuangan justru menjadi fondasi keberlanjutan.

Tanpa pencatatan yang rapi, pelaku usaha sulit merencanakan pengembangan, mengukur kinerja, apalagi mengakses pembiayaan formal.
Melalui pendampingan ini, tim Polmed melihat perubahan nyata.

Hasnita Pane mulai menyusun laporan keuangan sederhana. Ia mulai memahami biaya produksi tanaman, dari bibit hingga perawatan. Ia juga mulai memiliki gambaran yang lebih jelas tentang kondisi keuangan usahanya setiap bulan.

Program ini menjadi contoh bahwa transformasi UMKM tidak selalu harus dimulai dari digitalisasi besar-besaran atau suntikan modal besar. Terkadang, perubahan justru lahir dari hal paling dasar: buku catatan, kedisiplinan, dan pemahaman sederhana tentang uang.

Bagi Politeknik Negeri Medan, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Namun lebih dari itu, program ini menegaskan peran kampus vokasi sebagai jembatan antara ilmu dan praktik. Dosen tidak hanya mengajar di kelas, tetapi turun langsung mendampingi masyarakat.

Ke depan, Hasnita Pane masih berharap pendampingan dapat berlanjut, terutama dalam hal pemasaran dan penyusunan katalog produk.
Namun satu hal sudah berubah: kini ia tidak lagi berjalan dalam gelap. Dengan pencatatan keuangan yang mulai tertib, setiap langkah pengembangan usaha dapat direncanakan dengan lebih percaya diri.

Kisah Putri Surbakti Garden menunjukkan bahwa literasi keuangan bukan sekadar angka, melainkan alat pemberdayaan. Ketika pelaku UMKM memahami keuangannya sendiri, mereka tidak hanya menjaga usahanya tetap hidup, tetapi juga membuka peluang untuk tumbuh.

Di tengah tantangan ekonomi dan persaingan usaha yang kian ketat, cerita dari Medan Johor ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil. Sebuah buku catatan, pendampingan yang tulus, dan kemauan untuk belajar—itulah benih yang kini mulai tumbuh bersama bunga-bunga di Putri Surbakti Garden.

(REL/WITA)

Baca Juga

Rekomendasi