
Analisadaily.com, Medan – Sabtu pagi (30/8/2025), halaman Kantor Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Tanaman Pangan Hortikultura (TPH) Sumut tampak riuh. Ratusan warga berbaris panjang, rela antre demi mendapatkan bahan pangan dengan harga lebih murah melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dengan Bulog.
Beras, minyak goreng, gula, telur, cabai merah, hingga bawang merah ludes diserbu pembeli. Stand Bulog menjadi salah satu yang paling ramai. Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang biasanya dijual Rp58.000 per kantong ukuran 5 kilogram, hari itu dihargai Rp55.000 setelah Wakil Gubernur Sumut, H Surya, menawar langsung di lokasi.
Awalnya, warga hanya diperbolehkan membeli dua kantong (10 kg). Namun karena stok mencapai 6 ton, ada pembeli yang bisa membawa pulang hingga lima kantong sekaligus. “Khusus hari ini saja Rp55.000, besok kembali ke harga normal Rp58.000,” ujar Wakil Gubernur Sumut (Wagubsu) Surya mengumumkan kepada warga melalui pengeras suara. Begitu juga dengan harga gula pasir turun menjadi Rp17.000 per kilogram yang sebelumnya Rp17.500.
Wagubsu, H Surya, kepada wartawan usai acara zoom meeting atau telekonferensi dengan Menteri Pertanian, Menteri Dalam Negeri, menjelaskan bahwa GPM digelar serentak di 354 titik seluruh kabupaten/kota. Untuk Kota Medan, kegiatan dipusatkan di halaman Kantor Dinas Ketapang TPH Sumut. Dari total 33 kabupaten/kota di Sumut, sekitar 85 persen kecamatan sudah terjangkau. “Harapannya, 15 persen sisanya segera menyusul agar seluruh wilayah merasakan manfaatnya,” katanya.
Surya mengakui harga beras di pasaran masih tinggi meski GPM sudah berjalan lebih dari sebulan. “Sekarang harga turun sekitar Rp500 per kilogram. Kita optimis, dengan kerja sama semua pihak, harga bisa kembali stabil di kisaran Rp13.100 per kg,” ujar Surya.
Mantan Bupati Asahan ini juga menekankan pentingnya menjangkau daerah kepulauan seperti Nias, yang kerap masuk kategori daerah tertinggal. “Jangan sampai masyarakat di sana makin terbebani. Program pangan murah harus hadir di seluruh pelosok Sumut,” tambahnya.
Kepala Bulog Sumut, Budi Cahyanto, menuturkan pihaknya sudah membuka 474 titik distribusi pangan murah, melebihi jumlah kecamatan di Sumut yang berjumlah 455. Distribusi dilakukan bersama RPK, kepolisian, TNI, dan pemerintah daerah.
Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium di Sumut ditetapkan Rp14.000 per kg, sementara harga pasar masih Rp15.100. “Dengan panen raya dan GPM harian, kami optimis harga bisa turun dalam 1–2 pekan ke depan,” ujarnya.
Budi menjelaskan, beras Bulog untuk program ini dijual dengan harga khusus Rp11.300 per kg di gudang, berkat subsidi ongkos angkut dari Bank Indonesia. Setiap hari, lebih dari 1.000 ton beras disalurkan, jauh melampaui target awal 414 ton.
Khusus wilayah kepulauan, TNI AL turun tangan menggunakan kapal perang untuk membawa beras ke Nias Selatan, Pulau Batu, dan Pulau Telo, setelah kapal pengangkut sebelumnya rusak. “Kami juga sudah mengajukan perpanjangan distribusi hingga 10 September,” ungkap Budi.
Pemprov Sumut menegaskan, Gerakan Pangan Murah bukan hanya solusi sesaat, melainkan bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan dan menekan inflasi daerah. Dukungan lintas sektor—pemerintah daerah, Bulog, hingga Bank Indonesia—diharapkan bisa memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Kita harus optimis. Dengan panen yang baik, pasokan lancar, dan distribusi merata, harga beras di Sumut akan segera stabil,” pungkas Budi.
Acara ini turut dihadiri Kepala Dinas Ketapang TPH Sumut, Rajali, Sekretaris Dinas Ketapang TPH Sumut, Yusfahri Paranginan-angin, pimpinan SKPD jajaran Pemprovsu, serta jajaran pegawai Dinas Ketapang TPH Sumut. (mul)
(NAI/NAI)