Analisadaily.com, Medan - Saat hujan deras mengguyur hulu Sungai Deli, warga di Jalan Sei Mati, Medan, tak lagi bisa tidur tenang. Mereka tahu, debit air bisa naik kapan saja. Dalam tiga bulan terakhir, banjir sudah datang empat kali, merendam rumah-rumah mereka hingga setinggi lutut.
“Kalau air sungai mulai naik, kami langsung waspada. Kadang tengah malam harus angkat barang ke tempat tinggi,” tutur Siti (38), warga yang rumahnya tepat di pinggir sungai.
“Begitu banjir surut, lumpurnya tebal sekali. Bersihinnya bisa seharian," akunya.
Banjir yang berulang kali datang bukan hanya merusak perabotan, tapi juga membawa penyakit. “Anak saya sering kena gatal-gatal dan batuk setelah banjir,” keluh Irwan (45), warga lainnya. “Airnya kotor sekali, apalagi kalau hujan deras lama-lama, sungai meluap sampai ke dapur," sambungnya.
“Kondisi sungai sekarang sering naik debitnya. Sudah empat kali banjir tahun ini,” kata Lukman Hakim Siagian, pendiri Sanggar Anak Sungai Deli (Sasude). “Rumah warga terendam, berlumpur. Tapi kami berusaha tetap bangkit dan menjaga lingkungan kami sendiri," ungkapnya, Sabtu (25/10).
Selain banjir, warga juga menghadapi masalah kesehatan dan sanitasi. Sebagian masih bergantung pada air sungai untuk mandi dan mencuci karena akses air bersih belum merata.
“Kalau musim kemarau, air PDAM sering mati, jadi terpaksa ambil dari sungai,” ujar Siti.
“Padahal kami tahu airnya nggak bersih," tambahnya.
Tak adanya tempat sampah yang disediakan pemerintah membuat persoalan lingkungan kian rumit. Sampah rumah tangga kerap menumpuk di tepi sungai sebelum akhirnya hanyut terbawa arus. Namun perlahan, kebiasaan itu mulai berubah berkat peran edukatif dari komunitas Sasude.
Berdiri sejak 1 September 2019, Sasude lahir dari keprihatinan terhadap anak-anak di tepian sungai yang rentan terpinggirkan.
“Kami ingin memberi wadah belajar nonformal bagi anak-anak di sini. Mereka belajar membaca, menggambar, juga mencintai lingkungan,” ujar Lukman.
Sasude kini menjadi pusat kegiatan sosial dan lingkungan bagi warga Sei Mati, Medan Maimun. Setiap Minggu pagi, anak-anak dan warga bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar sungai.
Setiap bulan, mereka menggelar Clean Up Sungai dan mengelola Bank Sampah Daur Ulang.
“Warga sudah mulai memilah sampah dan menyetorkannya ke bank sampah Sasude. Kesadaran mulai tumbuh, walau masih perlu waktu dan dukungan,” kata Lukman.
Tantangan: Fasilitas dan Dukungan
Mengajak warga untuk peduli sungai tidak selalu mudah. “Tantangan terbesar kami adalah fasilitas dan pendanaan,” ungkap Lukman. Tapi kata Lukman, semangat warga luar biasa. Mereka ingin lingkungan yang bersih, hanya saja banyak hal yang belum mereka punya; tempat sampah, alat kebersihan, dan dukungan dana.
Sasude berjalan secara swadaya, mengandalkan gotong royong dan sumbangan kecil dari relawan. Komunitas ini juga terbuka terhadap kerja sama dengan pemerintah, universitas, dan lembaga swadaya masyarakat.
Dukungan yang mereka harapkan sederhana: fasilitas kebersihan, bantuan dana, dan peningkatan kesadaran masyarakat agar lebih bertanggung jawab terhadap sampah masing-masing.
Kini, meski hidup di tengah risiko banjir dan penyakit, warga Sei Mati tak lagi pasrah. Anak-anak yang dulu bermain di tepi sungai kini belajar tentang kebersihan dan daur ulang.
“Kami ingin Sungai Deli kembali bersih seperti dulu. Kalau sungainya sehat, kami pun hidup tenang,” ujar Irwan, dengan pandangan ke arah aliran sungai yang tenang siang itu.
Lukman menutup dengan harapan yang sama.
“Kami percaya sungai bisa kembali lestari kalau semua pihak mau turun tangan. Sungai yang bersih bukan hanya untuk kami, tapi untuk masa depan anak-anak kami juga," harapnya.
Di tepian Sungai Deli yang dulu penuh sampah, kini tumbuh harapan baru; dari tangan-tangan kecil yang membersihkan, dan dari warga yang tak lelah menjaga rumah mereka di pinggir air.
(DEL)











