Analisadaily.com, Medan - Suasana dialog publik "PDIP di Mata Anak Muda" yang digelar dalam rangkaian Konferda VI DPD PDIP Sumut di Le Polonia Hotel Medan, Selasa (18/11/2025), berubah menjadi ruang kejujuran generasi muda. Para mahasiswa hadir bukan sekadar mendengar, melainkan menyampaikan suara kritis yang selama ini jarang mendapat tempat. Mereka menolak disebut apatis. Mereka hanya ingin politik kembali kepada esensinya: bekerja untuk rakyat.
"Bukan kami tak peduli politik. Kami hanya sering merasa dimanfaatkan," ujar seorang mahasiswa. Ia menggambarkan bagaimana menjelang Pemilu, generasi muda dijejali janji dan slogan. Namun setelah pemilihan selesai, apa yang dijanjikan sering menguap begitu saja. "Kami seperti diingat saat dibutuhkan, lalu dilupakan."
Mahasiswa lain mengungkapkan bahwa generasi sekarang memahami politik jauh lebih luas berkat akses informasi yang sangat terbuka. Namun keengganan mereka terjun ke politik bukan soal kurangnya minat, melainkan tidak ditemukannya figur atau partai yang bekerja penuh ketulusan untuk rakyat, sebagaimana mereka baca tentang masa kepemimpinan Soekarno.
Pandangan bahwa Gen Z adalah generasi instan pun dibantah para peserta. Menurut mereka, cepat bukan berarti instan. "Zaman menuntut kita bergerak cepat. Itu bukan kelemahan, tetapi adaptasi," kata salah satu mahasiswa.
Juru Bicara PDIP dari kalangan Gen Z, Aryo Seno Bagaskoro, memberi respons berkelas atas kritik tersebut. Ia menyebut suara mahasiswa itu justru menunjukkan kedewasaan politik generasi muda.
"Politik itu sebenarnya dimulai setelah seseorang terpilih, bukan saat kampanye," ujar Bagaskoro. Ia menegaskan, peran publik tidak boleh berhenti di bilik suara. Masyarakat, termasuk Gen Z, harus aktif mengawal janji-janji yang pernah ditawarkan.
Menurutnya, mahasiswa wajar merasa dijadikan alat politik karena partai memang sering hadir hanya ketika musim pemilihan. "Itu yang harus diubah. Dan jujur saja, tidak banyak partai yang mau memikirkan perubahan itu," katanya.
Bagaskoro mengajak Gen Z tidak berhenti pada kritik, tetapi menemukan peran konkret dalam politik. "Bergabung dengan partai adalah pilihan. Tapi berkontribusi bagi bangsa bisa dilakukan lewat banyak jalan."
Wakil Ketua BEM USU, M Thoibul Fattah, mempertegas keresahan anak muda. Menurutnya, banyak partai hari ini terjebak pada perebutan kekuasaan, bukan pengabdian.
"Tokoh-tokoh politik yang benar-benar mengabdi semakin sulit ditemukan. Itu karena banyak partai tidak berbasis pada kaderisasi ideologis," ujarnya. Ia berharap PDIP tetap mempertahankan diri sebagai partai kader yang memiliki fondasi ideologi jelas.
Narasumber lainnya, Sharon JZ Simbolon, membawa perspektif yang lebih personal namun relevan. Putri Remaja Indonesia 2025 itu menekankan pentingnya disiplin diri, termasuk dalam penggunaan gadget.
"Kita harus memastikan setiap hari kegiatan kita positif. Gunakan gadget dengan bijak, karena keterikatan berlebihan bisa berdampak buruk pada fungsi otak," ujarnya. Bagi Sharon, perubahan sosial dimulai dari perubahan kebiasaan diri.
Ketua DPD PDIP Sumut, Rapidin Simbolon, menutup dialog dengan sikap terbuka. Ia menyebut kritik mahasiswa bukan ancaman, melainkan cermin yang harus ditatap.
"Kami bangga melihat mahasiswa yang kritis dan berani menyampaikan kebenaran meski pahit," katanya. Ia menegaskan PDIP berkomitmen membuka ruang kaderisasi bagi anak muda yang gigih, berintegritas, dan bermental kuat.
Rapidin menyebut PDIP telah lama memberi ruang besar bagi kaum muda melalui organisasi sayap seperti Repdem dan BMI yang aktif di berbagai kegiatan sosial. "Di PDIP, anak muda bukan objek, tetapi subjek.”











