Cerita Nelayan Belawan Diadang Perompak, dan Jukir Polman yang Terlindungi Empowering Kepling BPJS Ketenagakerjaan

Cerita Nelayan Belawan Diadang Perompak, dan Jukir Polman yang Terlindungi Empowering Kepling BPJS Ketenagakerjaan
Innahu Fadli saat membersihkan kapalnya di Belawan (Analisadaily/qodrat al qadri)

Analisadaily.com, Medan - Sengatan matahari begitu terasa menyentuh kulit saat sampan bermesin Dongfeng ukuran sedang yang saya tumpangi sandar di salah satu dari puluhan dermaga kayu buatan di kawasan Kampung Nelayan Seberang, Kecamatan Medan Belawan, Sumatera Utara, Minggu 26 Oktober 2025 lalu.

Setelah kapal sandar, butuh usaha dan ekstra hati-hati untuk warga agar bisa naik ke atas tangga kecil yang dirakit untuk memudahkan naik-turun sampan. Dari kejauhan mata memandang, tampak Innahu Fadli (35) sudah menunggu.

Innahu adalah seorang nelayan yang meneruskan profesi paman nya. Hari itu, tim analisadaily.com sudah berjanji untuk bertemu dan berbincang soal pengalaman Innahu selama 9 tahun menjadi nelayan.

Butuh sekitar 1,5 jam perjalanan dari pusat Kota Medan, untuk bisa tiba di Kampung Nelayan Seberang, bau amis lautan, bercampur dengan semilir angin pantai. Suasana kering, panas terik, menyatu dengan deburan gelombang yang terempas dari dorongan sampan di dermaga. Pemandangan mata juga seakan "dihibur" dengan suasana jejeran raturan rumah panggung yang ditopang di atas perairan laut Belawan. Pemandangan ini tentunya tidak akan pernah dilihat oleh orang perkotaan, jauh dari perhatian pemerintah, sedikit terisolir, dan mereka terbiasa mandiri. Pemukiman ini harus ditempuh sekitar 5 menit perjalanan menggunakan sampan motor, dari pusat Kota Belawan.

"Sampai juga abang kemari ya, kupikir abang tersesat, sehat abang kan," kata Innahu membuka percakapan sembari bercanda saat menyambut tim Analisadaily.com

Innahu Fadli merupakan satu dari puluhan nelayan kecil di kawasan Belawan yang pernah diadang perompak/bajak laut di perairan laut Belawan.

Sulitnya jarak pandang, dan kecilnya mesin motor sampan dibanding sampan para perompak membuat nelayan kecil seperti Innahu, kerap menjadi mangsa.

"Kita ini kan nelayan kecil, sampan kita juga paling bisa memuat hingga 100 kilogram ikan saja, sasaran mereka para lawa-lawa (sebutan perompak dalam istilah Medan) adalah nelayan kapal kecil, dan beraksinya saat malam hari, begitu kami pulang ke rumah, mereka cegat biasa di boui tiga sana. Sekitar 30 menit dari tempat kita berbicara sekarang, "kata Innahu mengisahkan cerita nya saat dicegat pada awal 2025 lalu.

Diceritakannya kembali, para perompak ini juga merupakan warga Medan Belawan, mereka adalah para preman-preman setempat yang memnag tidak peduli siapa korban nya, yang diincar biasa adalah ikan hasil tangkapan nelayan.

"Anak-anak di kawasan sini juga itu pelaku nya, mereka satu kapal bisa berjumlah 10 orang, biasa bawa senjata tajam. sedangkan kita satu sampan paling banyak 3 orang, yang diincar adalah ikan hasil tangkapan kami, mereka ambil semua, dan bisa dijual mereka ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI), daripada kami kenapa-kenapa, karena kami tidak punya asuransi jiwa waktu itu, ya kami pasrah saja. Kalau datang gila mereka, terkadang mau merampas ponsel pintar kami," kata Innahu.

Terpisah, Mus Bachtiar (58) nelayan senior yang bermukim di Bagan Deli, Belawan juga berkisah sama. Dirinya, berdama enam teman nya juga oernah menjadi korban kebringasan perompak di perairan Deli Serdang pada Agustus tahun lalu. Walau sempat melawan dan membela diri, Mus Bachtiar terluka sayatan di lengan kanan nya karena ditebas, ikan tangkapan sebanyak kurang lebih 5 tong pendingin selama dua hari melaut raib begitu saja, beruntung nyawa mereka selamat.

"Kami karena sudah hafal cara main mereka kemarin itu sempat berputar jalur lain saat arah pulang, kami kira mereka gak tahu jalur itu, rupanya nahas nya disitu lebih rame, tiga kapal lawa-lawa mencegat kapal kami, sempat kami lawan. Tapi mereka lebih ramai, saya sempat kena tebas tangan, tapi tak parah," kata Mus Bachtiar berkisah

Polman Sagala saat menerima santunan yang diserahkan langsung Walikota Medan, Rico Waas di Balaikota Medan. Analisadaily/qodrat al qadri
1000 Nelayan Belawan Terlindungi

Kekhawatiran Innahu Fadli, Mus Bachtiar dan ribuan nelayan di kawasan Medan Belawan kini sirna. Pemko Medan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Medan bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan telah melakukan perlindungan jiwa kepada 1000 nelayan di kawasan Medan Belawan.

Hal tersebut dikatakan Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Medan Kota Jefri Iswanto saat diwawancarai Analisadaily.com

"Program ini bertujuan memberikan jaminan kepada para nelayan apabila mengalami kecelakaan kerja atau kematian saat melakukan aktivitas melaut, sehingga mereka dan keluarga mendapatkan perlindungan finansial. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memberikan jaminan keselamatan kerja bagi pekerja informal di sektor perikanan,". Kata Jefri.

"Kita semua tentu nya berdoa, semoga nelayan-nelayan Belawan selalu diberi keselamatan saat menjemput rejeki di tengah laut,"kata Jefri.

Program Empowering Kepling

Berjarak sekitar 15 kilometer dari kawasan Medan Belawan, Tinggal lah Polman Sagala (65) mantan juru parkir (jukir) di kawasan Pasar Aksara, Medan yang kini aktivitas nya hanya bisa terbaring dan jika berjalan dibantu kursi roda, Polman Sagala kini dirawat dengan kasih sayang oleh anak kandung nya Maria Sitanggang mereka bermukim di Kawasan Jalan Rajawali Mandala bypass Medan.

Gemuruh rel kereta api diesel milik PT. KAI, dan bunyi sirene palang pintu perlintasan yang ditutup menghalau laju kendaraan roda dua dan empat saling sahut menyahut saat tim analisadaily.com tiba dirumah Polman Sagala. Rumahnya teduh, berlantai semi keramik, namun gaduh karena berada ditengah pemukiman padat penduduk, ditambah hanya berjarak 100 meter dari jalur perlintasan rel kereta api.

Polman Sagala tadinya sangat produktif, walau sudah separuh abad lebih usia nya, Polman tidak bisa hanya duduk berdiam diri saja dirumah.

Sehari-hari, dirinya berprofesi sebagai juru parkir resmi di Pemko Medan, di bawah Dinas Perhubungan. Profesi itu sudah ia geluti sejak 20 tahun lalu, saat muda dulu, dia adalah sopir angkutan kota.

Nahas, pada Agustus 2025 Polman tertabrak sepeda motor yang melaju kencang saat ia tengah mengatur parkir sebuah mobil di pusat pertokoan di kawasan Pasar Aksara Medan.

"Kami dapat kabar itu pas sore, saya ingat betul karena itu Hari Senin, saya habis jemput anak-anak pulang sekolah mereka, dapat kabar bapak kami kecelakaan, langsung kami bawa ke rumah sakit terdekat, karena bapak saat itu tidak sadarkan diri, "kata Maria Sitanggang mengisahkan cerita kelam bagi ayah yang terjadi pada Agustus lalu.

Tabrakan yang tidak bisa dihindarkan tersebut memaksa Polman kehilangan daya cengkeram dan kontrol saraf traksi pada kaki nya, karena Polman cidera parah dibagian kepala. Solusi akhir, Polman divonis cacat permanen di bagian kaki, dan tidak bisa berjalan normal sampai hari ini.

Kursi roda lah yang kini membantu mobilitas Polman.

Beruntung, saat itu Polman Sagala sudah terlindungi Program Empowering Kepala Lingkungan (kepling) sama semacam Rukun Tetangga (RT) jika di kawasan Pulau Jawa.

Uang Santunan sejumlah Rp. 248 juta diterima dirinya karena program tersebut.

Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas saat menyerahkan santunan jaminan kecelakaan kerja di Balai Kota Medan, pada Rabu 29 Oktober 2025 lalu mengatakan bahwa pihaknya akan terus berkomitmen melindungi para pekerja rentan di sektor informal.

"Kita dari Pemko Medan bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan akan terus berupaya memberikan perlindungan kerja kepada pekerha sektor informal yang kita anggap rentan, dan berisiko. cakupan nya luas, mulai dari ojek online, juru parkir, tukang bakso, semua akan dilindungi. Semua akan didata dan di cek oleh kepling-kepling kita di lingkungan setempat, untuk kemudian direkomendasikan kepada kita namanya untuk didaftarkan kepada BPJS Ketenagakerjaan, kita juga menargetkan Kota Medan di tahun 2026 mendatang sebagai kota dengan predikat Universal Coverage Jamsostek (UCJ), sehingga seluruh masyarakat dapat terlindungi," kata Rico.

Sementara itu, Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Medan Kota Jefri Iswanto mengatakan sejak awal diluncurkan Program Empowering Kepling ini pada awal Agustus 2025 lalu, hingga kini sudah mencapai 37.058 peserta, dari total target 50.025 pekerja informal.

"Program ini bisa kita katakan pertama dan satu-satunya di Indonesia, untuk sementara waktu ini ya, sistem nya adalah kepala lingkungan yang mebcari dan mendata siapa yang layak ditanggung asuransi jiwa nya oleh kita BPJS Ketenagakerjaan, tentunya dengan beberapa indikator, dan kita sambut baik program ini dengan kerjasama yang cepat, dan tanggap. Premi bulanannya yang membayarkan Pemko Medan.

Ditambahkan Jefri, hingga saat ini total klaim santunan yang sudah disetahkan sejak program ini bergulir adalah sebesar Rp. 266.977.100 juta

"Sudah dua klaim santunan kita serahkan, pertama untuk bapak Polman Sagala sebesar Rp. 248.636.030 juta, dan yang kedua kepada bapak Mulkasfi Nasution, sebesar Rp.18.331.070 juta, semoga santunan ini bermanfaat dan berguna dengan baik buat penerima," kata Jefri.

Kisah Innahu, Mus Bachtiar, dan Polman serta kolaborasi pemerintah dengan BPJS Ketenagakerjaan merupakan simbol dan bukti nyata inklusifitas BPJS Ketenagakerjaan yang kini bisa menyentuh dan dirasa manfaat nya bagi masyarakat pekerja sektor informal.

Penulis:  Qodrat Al-qadri
Editor:  Nirwansyah Sukartara

Baca Juga

Rekomendasi