Pengamat Konstruksi Prihatin Lapangan Merdeka Medan Kurang Perawatan

Pengamat Konstruksi Prihatin   Lapangan Merdeka Medan Kurang Perawatan
Pengamat Konstruksi Prihatin Lapangan Merdeka Medan Kurang Perawatan (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Medan-Warga Kota Medan ungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi Lapangan Merdeka, salah satu ruang publik bersejarah yang terletak di pusat kota.

Meski proyek revitalisasi besar-besaran telah rampung dan resmi dibuka pada awal 2025, sejumlah warga menilai perawatan lapangan itu masih jauh dari harapan dan tidak mencerminkan biaya besar yang telah digelontorkan pemerintah.

“Ini bukan sekadar lapangan biasa, tapi simbol kebanggaan warga Medan,” ujar Pengamat Konstruksi Sumatra Utara Erickson L Tobing yang datang bersama keluarga berolahraga di seputaran Lapangan Mereka Medan, Sabtu, 3 Januari 2026.

Ia melihat kebersihan dan pemeliharaan fasilitas umum yang menurutnya kurang diperhatikan pihak berwenang. “Sudah mahal dibangun, tapi tak terawat,” tambahnya.

Proyek revitalisasi Lapangan Merdeka merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Medan mengembalikan fungsi kawasan itu sebagai ruang terbuka hijau, ruang publik, sekaligus cagar budaya. Pekerjaan fisik ini telah dilaksanakan sejak 2022 dan melibatkan beberapa tahapan besar.

Menurut keterangan resmi Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Medan, total nilai kontrak proyek revitalisasi mencapai sekitar Rp 497 miliar dengan skema multiyears. Seluruh anggaran itu mencakup perbaikan struktur bawah tanah (basement dua lantai), fasilitas parkir, museum, galeri seni, panggung rakyat, sistem drainase, serta tata cahaya dan ruang terbuka hijau di atasnya.

Sebelumnya, anggaran direalisasikan secara bertahap melalui APBD Kota Medan sejak tahun 2022 dengan rincian awal sekitar Rp 91 miliar untuk tahap awal yang mencakup penggalian basement, dilanjutkan ratusan miliar rupiah di tahun berikutnya.

Saat peresmian pada 19 Februari 2025, yang bertepatan dengan masa jabatan terakhir Walikota Medan saat itu Bobby Nasution, pembangunan disambut dengan antusias oleh sebagian pihak karena diharapkan mampu menghidupkan kembali fungsi sosial ruang publik sekaligus mendorong perekonomian lokal melalui fasilitas UMKM dan area budaya.

Namun, seiring berjalannya waktu, keluhan warga bermunculan. Selain masalah kebersihan dan perawatan fasilitas, warga juga mencatat persoalan kecil seperti ketertiban parkir di sekitar kawasan yang masih diwarnai jukir liar dan kurangnya pengawasan petugas terkait, meski tarif parkir resmi sudah diatur melalui Perda.

Erick Tobing, yang datang dengan anak-anaknya untuk berolahraga, menegaskan lapangan seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan membanggakan bagi warga, bukan justru menjadi contoh minimnya pengelolaan ruang publik. Ia berharap pemerintah kota, khususnya walikota saat ini Riko Waas, dapat menindaklanjuti permasalahan tersebut dan meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan fasilitas yang telah dibangun.

Namun sejak diresmikan, pemerintah setempat berkali-kali menekankan pentingnya fungsi kawasan ini sebagai ruang terbuka hijau dan pusat interaksi sosial masyarakat Medan.

Lapangan Merdeka bukan sekadar area olahraga dan rekreasi. Kawasan ini juga historis menjadi sahabat tonggak kemerdekaan Republik Indonesia di Sumatera Utara dan selama bertahun-tahun menjadi pusat kegiatan publik.

Masyarakat berharap revitalisasi yang menelan anggaran puluhan miliar ini tidak hanya menjadi monumen fisik semata, tetapi benar-benar berfungsi sebagai ruang publik yang terawat, berdaya guna, dan layak untuk generasi mendatang

(ARU/NAI)

Baca Juga

Rekomendasi