Sinergi Sains dan Sosial: Masrizal Saraan Raih Gelar Doktor dengan Kajian Strategis Perhutanan Sosial Sumut (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan – Aula Program Studi Lingkungan (PSL) Universitas Sumatera Utara (USU) menjadi saksi sejarah penting dalam dunia akademik dan konservasi pada Senin, 5 Januari 2026.
Masrizal Saraan, sosok yang selama ini dikenal luas sebagai aktivis lingkungan, resmi menyandang gelar Doktor setelah sukses mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi yang berlangsung khidmat.
Fokus pada Sistem Sosial-Ekologis (SES)
Dalam paparannya, Masrizal mengupas tuntas mengenai Sistem Sosial–Ekologis (SES) dalam pengelolaan Perhutanan Sosial di Sumatera Utara. Penelitian ini menjadi sangat relevan karena menempatkan interaksi manusia, kelembagaan lokal, dan kebijakan negara sebagai pilar utama keberlanjutan hutan.
Masrizal menekankan bahwa kunci keberhasilan hutan sosial bukan sekadar pada kondisi pohon atau lahan (biofisik), melainkan pada modal sosial.
"Kepercayaan, jaringan kerja, dan norma bersama adalah mesin penggerak aksi kolektif. Jika kekuatan ini dipadukan dengan kebijakan negara yang tepat, maka kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat akan berjalan beriringan," jelasnya di hadapan dewan penguji.
Sinergi Sains dan Sosial: Masrizal Saraan Raih Gelar Doktor dengan Kajian Strategis Perhutanan Sosial Sumut
Dukungan Akademisi dan Praktisi
Keberhasilan ini tidak lepas dari bimbingan tim promotor yang mumpuni:
- Promotor: Prof. Rahmawaty, S.Hut., M.Si., Ph.D.
- Co-Promotor: Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si. dan Prof. Endang Hilmi, S.Hut., M.P.
Dewan penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Delvian, Prof. Dr. Robert Sibarani, dan Dr. Bambang Supriyanto memberikan apresiasi tinggi.
Mereka menilai disertasi Masrizal memiliki kedalaman analisis yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kebijakan sumber daya alam berbasis masyarakat di Indonesia.
Dari Lapangan ke Mimbar Akademik
Masrizal Saraan bukanlah nama baru di dunia lingkungan. Sebagai motor penggerak di Yayasan Pesona Tropis Alam Indonesia (PETAI), ia telah lama malang melintang dalam kolaborasi nasional maupun internasional.
Pengalaman lapangan yang panjang inilah yang membuat disertasinya dianggap sangat aplikatif untuk diterapkan di tingkat tapak, bukan sekadar teori di atas kertas.
Capaian gelar Doktor ini diharapkan menjadi amunisi baru bagi Masrizal dalam memperjuangkan tata kelola sumber daya alam yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan di masa depan.
Acara diakhiri dengan suasana hangat penuh haru melalui ucapan selamat dari keluarga, kolega aktivis, serta civitas akademika yang hadir.
(RZD)