Perilaku Daur Ulang di Indonesia: Saat Pengetahuan, Akses, dan Pendapatan Menentukan Masa Depan yang Lebih Hijau (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbunan sampah nasional pada tahun 2024 tercatat lebih dari 34 juta ton per tahun, tetapi hanya sekitar 59,74% yang telah tertangani (termasuk daur ulang).
Sisanya berpotensi mencemari lingkungan. Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti dari Universiti Sains Malaysia berkolaborasi dengan Insititut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya bertajuk
"Pemodelan Kepedulian Masyarakat Indonesia untuk Mendaur Ulang Sampah dengan Analisis Regresi Logistik”, memberi gambaran menarik tentang faktor-faktor yang membuat masyarakat mau atau enggan melakukan daur ulang.
Hasil penelitian terhadap 474 responden menunjukkan bahwa pendapatan, akses tempat sampah daur ulang, informasi dan pengetahuan mendaur ulang dengan benar berpengaruh signifikan terhadap perilaku daur ulang masyarakat Indonesia.
Apa yang Mendorong Masyarakat untuk Daur Ulang?
Penelitian yang melibatkan 474 responden dari berbagai provinsi di Indonesia ini menganalisis dua belas faktor, mulai dari jenis kelamin dan tingkat pendidikan hingga pendapatan, akses terhadap fasilitas daur ulang, serta pengetahuan dan kesadaran lingkungan.
Hasilnya menunjukkan empat faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku daur ulang masyarakat Indonesia, yakni pendapatan, akses ke tempat sampah daur ulang, informasi tentang program pengelolaan sampah, dan pengetahuan tentang cara mendaur ulang dengan benar.
Mereka yang berpenghasilan di atas Rp 6 juta per bulan memiliki kemungkinan 2,3 kali lebih besar untuk melakukan daur ulang dibandingkan mereka yang tidak memiliki penghasilan tetap. Artinya, semakin tinggi kemampuan ekonomi seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan ramah lingkungan ini.
Akses untuk mendaur ulang juga terbukti menentukan. Lebih dari 56 persen responden menyatakan tidak memiliki tempat sampah daur ulang di sekitar mereka, sementara hanya 37 persen yang mengatakan sebaliknya.
Mereka yang memiliki akses tersebut hampir dua kali lebih aktif dalam kegiatan daur ulang. Temuan ini menegaskan bahwa infrastruktur yang mudah dijangkau sama pentingnya dengan kampanye kesadaran publik.
Pengetahuan dan Informasi: Kunci Partisipasi
Selain faktor ekonomi dan akses, informasi memainkan peran yang sangat kuat. Responden yang pernah mendapatkan informasi tentang program daur ulang memiliki kemungkinan 6,6 kali lebih tinggi untuk ikut berpartisipasi. Sementara itu, mereka yang mengetahui cara memilah dan mengelola sampah dengan benar dua kali lebih mungkin untuk melakukannya secara rutin.
Namun, tingkat kesadaran publik masih rendah. Lebih dari 61 persen responden mengaku belum mengetahui adanya program pengelolaan sampah padat di daerahnya, dan hampir 20 persen sama sekali tidak tahu program semacam itu pernah ada.
Menariknya, faktor demografis seperti jenis kelamin, usia, dan pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku daur ulang. Artinya, siapa pun sebenarnya bisa menjadi bagian dari solusi, asalkan mendapat akses, informasi, dan dorongan yang memadai.
Implikasi bagi Kebijakan Publik
Temuan ini memberikan pesan jelas bagi pemerintah, pendidik, dan pelaku industri: pendidikan lingkungan dan infrastruktur harus berjalan beriringan. Menyediakan tempat sampah daur ulang yang jelas, mudah dijangkau, serta didukung insentif dapat meningkatkan partisipasi masyarakat secara nyata. Integrasi edukasi daur ulang ke dalam kurikulum sekolah dan program komunitas juga penting untuk membentuk kebiasaan sejak dini.
Seiring Indonesia melangkah menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030, daur ulang harus dilihat sebagai gerakan sistemik yang melibatkan infrastruktur, pendidikan, dan kebijakan inklusif. Ketika kesempatan bertemu dengan kesadaran, jalan menuju ekonomi sirkular yang lebih bersih dan berkelanjutan bukan lagi sekadar Impian, melainkan keniscayaan.
Penulis
Mariatti Binti Jaafar@ Mustapha
Pusat Pengajian Kejuruteraan Bahan dan Sumber Mineral, Universiti Sains Malaysia.
Siti Rahyla Binti Rahmat
Pusat Pengajian Sains Kemasyarakatan, Universiti Sains Malaysia.
Muhammad Alifian Nuriman
Pusat Pengajian Sains Matematik, Universiti Sains Malaysia.
Departemen Statistika Bisnis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan dari Universiti Sains Malaysia dan AUN/SEED-Net. Penelitian ini didukung oleh AUN/SEED-Net melalui program Research and Education Grant for the University Consortium (REd-UC). Karya ini juga mendapat dukungan dari Universiti Sains Malaysia melalui Short Term Grant Matching (304/PBAHAN/6315804).
(JW/RZD)