Analisadaily.com, Medan-Mentor sekaligus pengamat infrastruktur Sumatera Utara (Sumut), Erick L Tobing, menegaskan bahwa memasuki tahun 2026, masyarakat Sumut dituntut melakukan perubahan mendasar. Perubahan itu, menurutnya, tidak cukup hanya pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi harus dimulai dari pola pikir, karakter, dan cara membangun manusia.
Selama ini, kata Erick, pembangunan kerap terjebak pada proyek dan beton, sementara pembangunan mental, karakter, serta sistem dukungan antarmanusia masih minim perhatian.
“Di tahun 2026 kita harus lebih baik. Kuncinya ada pada perubahan mindset. Kita harus membangun support system agar bisa melahirkan manusia-manusia yang berhasil,” ujar Erick L Tobing saat kegiatan silaturahmi Gapeksindo Sumut bersama media dan tim Era Gapeksindo Muda di Kantor PT Solar Jaya Energy Indonesia, Jalan Jaya Nomor 23 Medan, Rabu 7 Januari 2026.
Sebagai contoh, Erick menyoroti komunitas Tionghoa yang dinilainya mampu bertahan dan berkembang dalam berbagai situasi ekonomi berkat kuatnya budaya saling mendukung.
“Mengapa warga Tionghoa bisa berhasil. Karena mereka saling support. Mereka tidak saling menjatuhkan, justru saling menguatkan dan membuka peluang satu sama lain,” jelasnya.
Menurut Erick, budaya saling menopang tersebut seharusnya dapat menjadi teladan bagi masyarakat Sumatera Utara. Ia mengkritisi pola pikir sebagian masyarakat yang justru merasa hebat ketika mampu menjatuhkan atau menjelekkan orang lain.
“Ada mindset yang keliru selama ini. Kalau tidak menjatuhkan atau menjelekkan orang lain, kita dianggap bukan orang hebat. Ini pola pikir yang harus diubah,” tegasnya.
Ia menilai, kebiasaan tersebut bukan hanya menghambat kemajuan individu, tetapi juga merusak tatanan sosial dan memperlambat pembangunan daerah secara keseluruhan. Erick menekankan bahwa kemajuan suatu daerah tidak bisa dibangun melalui persaingan tidak sehat, melainkan lewat kolaborasi, kepercayaan, dan saling menguatkan.
Lebih jauh, Erick juga menyoroti pentingnya membangun kewarasan sosial di tengah masyarakat. Tekanan ekonomi, ketatnya persaingan, serta minimnya empati, menurutnya, berpotensi memicu konflik jika tidak diimbangi kesadaran kolektif.
“Selain infrastruktur dan ekonomi, kewarasan juga harus dibangun. Masyarakat yang waras secara sosial dan emosional akan lebih siap menghadapi tantangan, lebih produktif, dan lebih peduli terhadap sesama,” ujarnya.
Ia berharap para pemangku kepentingan, tokoh masyarakat, hingga generasi muda di Sumatera Utara dapat bersama-sama menciptakan ekosistem sosial yang sehat, di mana keberhasilan satu orang menjadi keberhasilan bersama, bukan ancaman bagi yang lain.
“Kalau kita ingin Sumut maju dan berdaya saing di 2026 dan seterusnya, maka kita harus mulai dari manusianya: bangun mindset, bangun support system, dan bangun kewarasan sosial,” pungkas Erick L Tobing.
Hal senada juga disampaikan Ketua Gapeksindo Medan Excel A Korua Tobing menambahkan, di banyak ruang diskusi, anak muda kerap disebut sebagai agen perubahan. Namun di ruang publik yang sesungguhnya, media sosial, media arus utama, dan arena kebijakan, suara mereka justru makin sering melemah, ragu, bahkan memilih diam. Bukan karena tidak punya gagasan, melainkan karena terlalu lama diajari untuk takut.
Takut salah, Takut diserang,Takut tidak sopan, Takut tidak dianggap pantas. Padahal, sejarah perubahan tidak pernah lahir dari keberanian yang setengah-setengah.
"Hari ini, ruang publik Indonesia menghadapi ironi. Akses berbicara terbuka lebar, tetapi keberanian untuk bersuara justru menyempit. Kritik dibungkus basa-basi. Ketidakadilan disikapi dengan sindiran halus. Akhirnya, banyak isu penting mati sebelum sempat menjadi percakapan publik,"tegasnya
Di titik inilah lanjut pemuda berdara Manado ini, sebagian anak muda memilih mengambil jalan berbeda tidak lagi takut pada risiko sosial dari berbicara jujur.
Ruang Publik Bukan Ruang Aman
Perlu disadari, ruang publik memang tidak pernah aman. Ia penuh benturan, perdebatan, bahkan serangan personal. Tetapi justru di sanalah demokrasi diuji. Ketika ruang publik hanya diisi suara yang “rapi” dan “aman”, maka yang lahir bukan kemajuan, melainkan stagnasi.
"Anak muda tidak bisa terus-menerus diminta santun tanpa diberi ruang untuk tegas. Tidak adil jika keberanian selalu diminta, tetapi risiko selalu dibebankan. Media sosial hari ini membuktikan satu hal penting: publik masih merespons keberanian. Ketika suara disampaikan dengan jujur dan konsisten, ia akan menemukan pendengarnya. Suka komentar, dan perdebatan bukan sekadar angka—mereka adalah tanda bahwa sebuah gagasan hidup, "ucapnya
Saatnya Meninggalkan Cara Lama
Selama bertahun-tahun, perubahan kerap ditempuh lewat jalur formal audiensi, pertemuan tertutup, dan negosiasi sunyi. Cara ini tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak lagi cukup. Banyak kebijakan lahir tanpa tekanan publik yang memadai, sementara kritik berhenti di ruang rapat.
Anak muda hari ini mulai menyadari perhatian publik adalah kekuatan politik. Ketika isu dibicarakan secara luas, para pengambil kebijakan tidak punya pilihan selain merespons. Rasa penasaran publik sering kali lebih efektif daripada surat permohonan resmi.
Menjual gagasan, bukan sensasi keberanian tentu bukan berarti tanpa arah. Kritik yang liar tanpa substansi hanya akan menjadi kebisingan. Karena itu, yang dibutuhkan adalah kemampuan menjual gagasan bukan sensasi, bukan kemarahan semata.
Narasi yang kuat, figur yang kredibel, dan konsistensi sikap adalah modal utama. Anak muda tidak perlu menunggu legitimasi dari lembaga besar untuk mulai bersuara. Legitimasinya lahir dari keberanian untuk konsisten dan bertanggung jawab atas apa yang disampaikan.
Salah satu kesalahan lama adalah menjadikan gerakan sebagai milik segelintir tokoh. Padahal, perubahan yang bertahan lama selalu lahir dari kolektivitas. Anak muda membutuhkan panggung, bukan figur tunggal yang terus menerus tampil.
Peran generasi senior semestinya bukan mendominasi, melainkan membuka jalan. Memberi ruang. Mendorong dari belakang. Membiarkan anak muda belajar, salah, dan tumbuh di ruang publiknya sendiri.
Keberanian memang tidak menjamin kemenangan. Tetapi tanpa keberanian, kekalahan sudah pasti. Anak muda tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang rasa takut yang diwariskan oleh sistem yang enggan dikritik.
"Jika ruang publik hari ini terasa bising, mungkin itu bukan masalah. Yang berbahaya justru ketika ia terlalu sunyi. Karena dalam kesunyian itulah, ketidakadilan bekerja paling efektif," tutupnya.











