7 Cara Memilih Crypto yang Bagus

7 Cara Memilih Crypto yang Bagus
Ilustrasi (Internet)

Memilih crypto yang bagus adalah langkah penting sebelum kamu memasukkan modal ke aset digital yang volatil ini. Pasalnya, setiap koin memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda, sehingga keputusan tanpa riset bisa berujung kerugian.

Sebelum membeli koin apapun, penting untuk memahami bahwa pasar crypto bukan hanya soal harga rendah atau potensi to the moon dalam waktu singkat. Harga bisa saja melonjak akibat hype sesaat di media sosial atau promosi publik figur, tetapi itu tidak menjamin nilai jangka panjang aset tersebut.

Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah memilih aplikasi trading crypto yang terbaik. Terdapat beberapa platform yang telah mendukung trading futures crypto di Indonesia yang menyediakan fitur leverage dan fitur charting yang lengkap serta cocok untuk trader profesional salah satunya Pintu Futures dan beberapa platform crypto lain.

Pintu Futures adalah fitur trading derivatif di aplikasi Pintu yang memungkinkan pengguna untuk memperdagangkan kontrak berjangka aset crypto dengan leverage hingga 25x. Dengan antarmuka yang simpel, dukungan leverage tinggi, stop order, limit order, serta biaya trading kompetitif, Pintu Futures cocok untuk trader pemula maupun professional.

Memilih crypto yang bagus, maka dibutuhkan kemampuan analisa fundamental dan teknikal. Selain itu, investor yang lebih maju sering menggunakan instrumen derivatif seperti BNB USDT perp untuk mengambil peluang dari pergerakan harga tanpa harus membeli asetnya secara langsung.

Di sisi lain, beberapa aset dengan volatilitas tinggi seperti Pepe USDT Perpetual menarik perhatian karena potensi keuntungan instannya, meskipun resikonya juga jauh lebih besar. Di sinilah pentingnya memilih aset bukan hanya karena ekspektasi keuntungan, tetapi berdasarkan analisis yang matang agar resikobisa terukur.

1. Periksa Fundamental Proyek Crypto secara Mendalam

Salah satu cara paling efektif untuk memilih crypto yang bagus adalah dengan melihat fundamental proyek di balik koin tersebut. Fundamental mencakup berbagai aspek mulai dari whitepaper, kasus penggunaan, hingga tim pengembang yang terlibat di dalamnya.

Koin yang hanya menjanjikan keuntungan cepat tanpa tujuan fungsional biasanya merupakan sinyal risiko tinggi. Crypto dengan fundamental kuat biasanya memiliki whitepaper yang jelas yang menjelaskan visi misi, teknologi yang digunakan, serta solusi yang ditawarkan.

Misalnya, Bitcoin dirancang sebagai sistem pembayaran digital yang terdesentralisasi, sedangkan Ethereum fokus pada smart contract yang mendukung pengembangan aplikasi terdesentralisasi (dApps). Keduanya merupakan contoh aset dengan fundamental yang jelas dan komitmen pengembangan jangka panjang.

Selain itu, proyek dengan tim pengembang yang transparan dan aktif akan lebih mudah diawasi komunitasnya. Ini penting karena kamu ingin melihat bahwa orang-orang yang membangun koin tersebut memiliki reputasi dan rekam jejak yang baik.

2. Gunakan Indikator Kapitalisasi Pasar dan Likuiditas

Kapitalisasi pasar (market cap) menjadi salah satu indikator yang sering digunakan untuk menilai seberapa besar sebuah crypto. Market cap dihitung dengan mengalikan harga koin dengan jumlah koin yang beredar di pasar.

Crypto dengan market cap besar biasanya menunjukkan dominasi yang kuat di pasar dan likuiditas yang lebih tinggi dibandingkan aset dengan kapitalisasi kecil. Indikator ini membantu kamu memahami apakah sebuah koin termasuk:

Large-cap: market cap besar (umumnya di atas $10 miliar), relatif lebih stabil;

Mid-cap: market cap menengah, punya potensi pertumbuhan;

Small-cap : market cap kecil, sangat volatil tetapi dengan risiko tinggi.

Likuiditas pasar juga perlu diperhatikan karena berhubungan dengan kenyamanan kamu saat ingin membeli atau menjual aset.

Crypto dengan likuiditas rendah cenderung sulit dijual pada harga yang diinginkan, terutama ketika pasar bergerak cepat.

Selain itu, volume transaksi harian menjadi sinyal lain tentang seberapa aktif dan diminatinya sebuah koin. Volume yang konsisten menunjukkan bahwa crypto tersebut aktif diperdagangkan.

3. Tilik Tokenomics dan Pasokan Koin

Tokenomics merupakan istilah yang merujuk pada berbagai faktor terkait pasokan (supply) dan mekanisme distribusi koin. Di sini, kamu perlu memahami perbedaan antara circulating supply (jumlah yang beredar) dan total supply (jumlah maksimum yang akan ada).

Crypto yang memiliki jumlah total supply sangat besar namun sebagian besar belum beredar berpotensi mengalami tekanan jual di masa depan ketika token belum terkunci dilepas ke pasar. Hal ini bisa menyebabkan harga turun secara signifikan karena pasokan yang meningkat tanpa permintaan yang seimbang.

Sebaliknya, koin dengan mekanisme pengurangan pasokan seperti halving pada Bitcoin dapat menciptakan kelangkaan yang menekan harga naik seiring waktu. Memahami tokenomics membantu kamu menilai apakah harga yang sedang berjalan saat ini masuk akal atau sudah overvalued karena faktor pasokan yang akan segera berubah.

4. Evaluasi Komunitas dan Aktivitas Pengembang

Komunitas yang aktif dan dukungan media sosial menjadi tanda bahwa sebuah proyek memiliki basis pengguna dan perhatian publik yang baik. Koin dengan komunitas besar biasanya memiliki daya dorong yang kuat dalam menyebarkan informasi, mempertahankan proyek, dan menarik investor baru.

Namun demikian, kamu tetap perlu berhati-hati jika keputusan investasi hanya didasarkan pada hype komunitas tanpa melihat data fundamental. Seringkali, viralnya sebuah token di media sosial disebabkan oleh strategi pemasaran agresif, bukan nilai intrinsik proyek itu sendiri.

Selain komunitas, aktivitas pengembang juga memberikan gambaran tentang seberapa serius proyek tersebut dikembangkan.

5. Hindari Scam dan Rug Pull dengan Melakukan Due Diligence

Dalam dunia crypto, scam seperti rug pull menjadi ancaman nyata yang bisa menghabiskan dana investor. Rug pull terjadi ketika tim proyek tiba-tiba menarik seluruh likuiditas dan meninggalkan investor tanpa nilai.

Untuk itu, penting melakukan due diligence riset menyeluruh terhadap latar belakang proyek, smart contract, serta track record tim pengembang. Kamu juga bisa melihat apakah koin tersebut sudah listing di exchange besar karena listing di bursa ternama umumnya melalui proses evaluasi yang ketat.

Selain itu, periksa apakah whitepaper proyek tampak profesional dan realistis. Whitepaper yang hanya berisi janji tanpa penjelasan teknis biasanya menjadi tanda peringatan.

6. Sesuaikan Pilihan Crypto dengan Tujuan Investasi

Setiap investor punya tujuan yang berbeda. Ada yang ingin menyimpan untuk jangka panjang (HODL), ada pula yang fokus trading jangka pendek. Pilihan crypto yang bagus untuk tujuan jangka panjang biasanya memiliki fundamental kuat, adopsi yang luas, dan dukungan pengembang aktif.

Sementara itu, trading jangka pendek lebih menekankan pada analisis harga dan momentum pasar. Misalnya, beberapa investor jangka panjang memilih koin utama seperti Bitcoin atau Ethereum karena sudah terbukti dan punya ekosistem besar.

7. Gunakan Alat dan Data Terpercaya untuk Membandingkan Aset

Situs data seperti CoinMarketCap, CoinGecko, atau platform analitik lainnya bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk membandingkan berbagai crypto berdasarkan market cap, volume, likuiditas, dan indikator lainnya.

Dengan alat ini, kamu dapat melakukan perbandingan antar koin secara objektif dan menentukan mana yang benar-benar layak dipertimbangkan. Misalnya, membandingkan rasio volume terhadap market cap bisa membantu mendeteksi apakah kenaikan harga didukung oleh permintaan nyata atau hanya spekulasi sementara.

Kesimpulannya, memilih crypto yang bagus bukan proses instan dan tidak boleh dilakukan secara emosional. Kamu perlu memperhatikan fundamental proyek, kapitalisasi pasar, tokenomics, komunitas, serta melakukan due diligence secara teliti.

Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.

Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.

(Adv)

Baca Juga

Rekomendasi