Kisah Pemain Voli Tarkam: Keterbatasan Ekonomi Bukan Alasan untuk Meraih Mimpi di Perguruan Tinggi

Kisah Pemain Voli Tarkam: Keterbatasan Ekonomi Bukan Alasan untuk Meraih Mimpi di Perguruan Tinggi
Kisah Pemain Voli Tarkam. (Analisadaily/Magang/Dimas Arif Fadillah)

Analisadaily.com, Medan - Memiliki keterbatasan ekonomi, tak membuat mimpinya padam. Dengan segala keterbatasan ia rajut harapannya untuk berkuliah di perguruan tinggi dengan menjadi seorang pemain voli antarkampung (tarkam).

Agung Wahyudi yang kini berusia 21 tahun, adalah seorang anak yang tumbuh dari kedua orangtua yang gemar bermain voli.

Ekonomi keluarganya mendadak anjlok karena ayahnya tak lagi bisa bekerja akibat sakit jantung.

Agung yang tetap ingin melanjutkan pendidikan ke pendidikan tinggi harus putar otak.

Akhirnya, sejak beberapa tahun terakhir ia menjadi seorang atlet tarkam voli.

"Melalui beberapa pertandingan voli tarkam saya mendapatkan bayaran yang bisa dan akhirnya bisa sedikit membantu ekonomi keluarga," ujar Agung kepada awak magang

Analisadaily, belum lama ini.

Awalnya ia sempat ragu untuk melanjutkan pendidikan tinggi, namun dukungan dari keluarga dan berhasil mendapat program KIP Kuliah lewat jalur prestasi voli.

Perjuangannya menjadi pemain voli amatir dimulai sejak ia menginjak bangku SMP, ia selalu mengikuti semua kejuaraan voli melalui sekolah ataupun di luar sekolah.

Semua itu ia lakukan dengan harapan olahraga ini suatu saat bisa menjadi penghasilannya.

Pengalamannya bermain voli tarkam membuatnya lulus di Universitas Islam Sumatera Utara.

Menurutnya program KIP Kuliah ini sangat membantu dalam menjalankan pendidikannya di UISU, karena selain mendapatkan uang kuliah selama 4 tahun ia juga mendapat uang

saku sebesar Rp.5.700.000,00 per 6 bulan sekali, dan ia hanya mengambil sedikit dari uang itu untuk transportasi dan sisanya ia berikan kepada kedua orangtuanya.

Berita kiriman dari: Dimas Arif Fadillah

Baca Juga

Rekomendasi