Aparat Desa Kecamatan Sibabangun Tapteng Bantah Kawasan Mereka Penyebab Banjir Bandang Sungai Garoga (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Tapanuli Tengah - Tiga kepala desa dan pengetua adat di Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, menegaskan, kawasan mereka bukan menjadi penyebab banjir bandang di Sungai Aek Garoga, November 2025.
Alasan tiga kepala desa itu, kawasan mereka berada di hilir, bukan di hulu.
"Bukan kami membela desa kami dan juga PT TBS (Tri Bahtera Srikandi) di Anggoli, tapi fakta, karena lahan rakyat yang sudah sebagian dibeli/dikelola PT TBS berada di hilir," ujar Kepala Desa Anggoli, Oloan Pasaribu di Tapanuli Tengah, Sabtu (17/1/2026).
TBS juga bukan membuka kawasan hutan, tetapi lahan rakyat berisi tanaman jengkol, petai, karet dan durian yang sudah berumur tua. Warga sendiri menjual lahan dan ikut menanam sawit karena dinilai lebih menguntungkan.
Dia menambahkan lahan yang diubah jadi kebun sawit itu berstatus Areal Penggunaan Lain (APL) yang dikembangkan menjadi kebun plasma atau kebun masyarakat binaan dan perkebunan inti kelapa sawit milik PT TBS.
"Jadi penyebab banjir bandang di Sungai Aek Garoga bukan pembukaan kebun di kawasan desa kami yang berada di hilir tapi diyakini disebabkan aktifitas di hulu sungai itu," ujar Oloan Pasaribu.
Aparat desa, katanya, juga sudah. mengetahui ada izin Persertujuan Kesesuain Kegiatan Pemanfatan Ruang dan Izin Usaha Perkebunan Untuk Budi Daya PT TBS.
"Tidak ada hubungan hulu das Sungai Aek Garoga ke desa kami dan kebun TBS," katanya.
“Dan kalaupun ada bukan sungai, tapi mata air yang kecil/sempit," katanya.
PT TBS berada di hilir, sedangkan hulu Sungai Garoga ada di Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan. Kepala Desa Simanosor Tua Pandapotan Batubara juga menegaskan, warga sudah lama mengolah lahan tersebut.
"Kawasan kami bukan hutan lindung. Tudingan peralihan kebun masyarakat menjadi penyebab banjir bandang di Sungai Aek Garoga tidak benar," katanya.
Mata air yang dituduh pembawa kayu ke Sungai Garoga
Dia menegaskan, tidak ada kayu yang hanyut dari kawasan desa mereka ke Aek Garoga karena tidak ada aliran sungainya ke sana.
Dia menegaskan, yang ada di kawasan itu hanya sumber mata air yang mengalir ke Sungai Garoga.
"Tapi mata airnya aliran kecil/sempit.Tidak mungkin kayu-kayu lewat ke Garoga," ujar Pandapotan.
Dia pun menyayangkan ada pemasangan plang larangan mengelola di kawasan desanya yang bukan masuk dalam kawasan hutan lindung.
"Warga jadi terhambat mencari nafkah dari kebun/ladangnya," katanya.
Kepala Desa Huta Gurgur Rinta Hasean Hutagalung menyebutkan, warga memilih mengembangkan lahannya ke tanaman sawit dengan harapan bisa meningkatkan pendapatan.
"Jadi warga dan PT TBS tidak benar merambah hutan," katanya.
Pengetua adat, Jusri Pasaribu menyebutkan, warga yang tinggal di kawasan tersebut tidak mungkin membiarkan desanya dirusak.
"Kalau dirusak tentu kami juga yang menderita. Kami sudah puluhan tahun tinggal di kawasan ini," katanya.
Juru bicara PT TBS di Anggoli, Rizky Pratama Pasaribu mengatakan pihaknya menghormati keputusan pemerintah dengan menghentikan sementara aktifitas perkebunan di tiga desa yang dipermasalahkan pascaterjadi bencana di Sumatra khususnya Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.
"Kami menunggu keputusan lebih lanjut dari pemerintah dan berharap keputusannya tepat mengacu pada fakta," katanya.
Dia menyebutkan, total lahan PT TBS seluas 512 hektare (inti dan plasma) dimana lahannya merupakan lahan eks perkebunan/ladang rakyat.
(JW/RZD)