Dari Pandai Bosi ke Flipbook: UMTS Kembangkan Media Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Padangsidimpuan – Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) melaksanakan penelitian lapangan di dua lokasi pandai bosi (pandai besi) tradisional, sebagai bagian dari program Penelitian Dosen Pemula tahun anggaran 2025.
Luaran Penelitian diselesaikan pada bulan Januari 2026.Penelitian ini mengusung tema “Transivitas Bahasa Pande Bosi Berbasis Flipbook sebagai Inovasi Media Pembelajaran di Perguruan Tinggi”.
Kegiatan yang berlangsung pada Juli s.d. September 2025 ini dipimpin oleh Dr. Husniah Ramadhani Pulungan, S.Pd., M.Hum. bersama tim yang terdiri dari Nikmah Sari Hasibuan, M.Pd., Alfiansyah Halomoan Siregar, S.Kom., M.Kom., serta mahasiswa Cindy Azelia, Nurul Hidayah, Dinda Hafizah, Inda Sari, Anis Pitria Hutabarat.
Dalam wawancara dan observasi tersebut, tim peneliti menggali informasi mengenai istilah, proses kerja, serta filosofi yang digunakan para pande bosi dalam keseharian mereka. Bahasa dan ungkapan khas yang dipakai dalam pekerjaan pandai bosi nantinya akan ditranslasi ke dalam bentuk media pembelajaran digital berbasis flipbook.
“Bahasa dan istilah lokal yang digunakan pande bosi memiliki nilai budaya dan kearifan lokal yang tinggi. Dengan mengemasnya dalam bentuk flipbook, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengenal tradisi yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Dr. Husniah Ramadhani Pulungan selaku ketua tim.
Penelitian ini dilakukan di dua lokasi berbeda agar diperoleh variasi data yang lebih kaya. Para pande bosi yang diwawancarai memberikan gambaran langsung tentang proses pembuatan alat pertanian, senjata tradisional, hingga peralatan rumah tangga.
Melalui penelitian ini, tim UMTS berharap lahir sebuah media pembelajaran inovatif yang mampu mengintegrasikan kearifan lokal dengan kebutuhan akademik di perguruan tinggi. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam melestarikan budaya sekaligus menjadikannya relevan di era digital.
(REL/RZD)