Pekan Doa Sedunia Bersama Gereja Katolik Keuskupan Agung Medan dan Sumatera Berdoa (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Medan-
Ibadah Pekan Doa Sedunia 2026 untuk persatuan umat Kristen bersama Gereja Katolik Keuskupan Agung Medan dan Sumatera Berdoa yang dihadiri para pastor, suster, unsur pimpinan gereja, gembala sidang dari interdenominasi gereja dan denominasi gereja lainnya serta para hamba Tuhan, pengurus gereja, jemaat dan lembaga keumatan lainnya, yang digelar di Gedung Katolik Center Jalan Mataram Medan, Jumat (23/1/2026).
Ibadah tersebut mengingatkan kembali Firman Tuhan sungguh alangkah baik dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun (Mazmur 133:1). Itu adalah ungkapan tentang betapa bernilai dan menyenangkannya persatuan, harmoni dan kasih persaudaraan.
Dalam khotbah yang disampaikan Pdt Yafet R Marbun, MTh mengacu pada thema: "Supaya Mereka Menjadi Satu" (Yohanes 17:21), ini adalah doa Tuhan Yesus agar umat yang percaya kepada-Nya satu tubuh, satu Roh yang dipersatukan dalam pengharapan (Efesus 4-4).
"Kita punya Tuhan yang sama, sumber yang sama dan tujuan yang sama. Ayat itu bermakna kesatuan fundamental umat Kristen sebagai gereja atau Tubuh Kristus, yang dihidupkan oleh Roh yang sama. Ini menekankan persekutuan rohani, keragaman anggota, namun satu tujuan, serta harapan bersama akan keselamatan dan kehidupan kekal dalam Kristus," jelas Pdt Yafet.
Sejarah Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen. Secara historis, gerakan doa bersama tersebut berakar pada awal abad ke-20. Pada tahun 1908, seorang imam Anglikan bernama Paul Wattson memprakarsai “Octave of Prayer for Christian Unity” di Amerika Serikat.
Inisiatif tersebut kemudian berkembang dan mendapat dukungan luas dari berbagai gereja. Setelah Konsili Vatikan II (1962–1965), keterlibatan Gereja Katolik dalam gerakan ekumenis semakin ditegaskan, khususnya melalui dekret Unitatis Redintegratio.
Sejak tahun 1966, Gereja Katolik bersama Dewan Gereja-gereja Sedunia (World Council of Churches) secara resmi bekerja sama menyiapkan materi Pekan Doa Sedunia.
Dalam praktiknya, Pekan Doa Sedunia tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan ajaran atau liturgi gereja-gereja.
Dalam kesempatan itu, Pdt Parlin Purba, SH,MH,MTh (Ketua Perkumpulan Seluruh Pendeta Indonesia/PSPI-Raya Kota Medan) menyatakan pertemuan atau duduk bersama seperti ini menyatukan hati doa bersama untuk persatuan Umat Kristen.
"Umat Kristen adalah satu tubuh dalam Yesus Kristus, dipersatukan oleh satu Roh tanpa memandang perbedaan ras, budaya, denominasi, atau status sosial, melainkan berfokus pada iman yang sama. Kita berdoa kiranya kerja sama ini tetap berkesinambungan demi menindaklanjuti doa Yesus kepada Bapa di surga agar kita bersatu dan menjadi berkat bagi semua orang," harap Pdt Parlin.
Mewakili tuan rumah, Romo Beno Olatage selaku Ketua Seksi HAK (Hubungan Antarkeagamaan) Keuskupan Agung Medan menyatakan berterima kasih atas kehadiran para pastor, suster, pelayan gereja dan seluruh unsur pimpinan gereja, gembala sidang, para pendeta dan Ketua Umum Yayasan Sumatera Berdoa Pdt Dr Roberts Benedictus, sesepuh JA Ferdinandus dan undangan lainnya mengikuti ibadah doa bersama ini. Kiranya Tuhan memberkati.
Pdt Roberts juga berterima kasih atas sambutannya yang begitu hangat kita bisa duduk bersama memuji dan memuliakan serta mendengar Firman Tuhan. Itu semua karena anugerah Tuhan. (js)
(NAI)











