Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. (Analisadaily/Tangkapan Layar)
Analisadaily.com, Medan - Aurelie Moeremans, aktris, menulis buku Broken Strings, yang bukan hanya buku autobiografi yang menyentuh, tetapi juga membuka diskusi luas tentang masalah kesehatan mental, terutama kekerasan dalam hubungan dan child grooming. Buku ini dinilai karena menceritakan kisah hidup secara jujur dan menunjukkan kenyataan buruk yang sering terjadi di masyarakat.
“Pelaku akan memulai dengan sentuhan ringan yang dianggap sebagai bentuk kasih sayang, lalu meningkat secara bertahap hingga melakukan kekerasan seksual. Dalam banyak kasus, pelaku juga menggunakan ancaman, seperti menyebarkan foto telanjang atau menyakiti keluarga korban,” jelas Irna Minauli.
Direktur Minauli Consulting ini menambahkan, pelaku kerap mengincar anak-anak yang minim pengawasan orang tua. Kondisi tersebut tergambarkan dalam kisah Broken Strings, di mana sosok ayah korban berada di luar negeri sehingga pelaku merasa lebih leluasa menjalankan aksinya.
Pelaku kemudian menciptakan ketergantungan emosional, baik kepada korban maupun keluarganya, sehingga lingkungan sekitar menjadi lengah.
Lebih lanjut, Irna menjelaskan bahwa pengalaman child grooming dapat meninggalkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental korban hingga dewasa. Korban berpotensi mengalami berbagai gangguan psikologis, mulai dari Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), gangguan kecemasan, depresi, hingga gangguan fungsi seksual.
“Sebagian korban menjadi dingin secara seksual atau frigid, sementara sebagian lainnya justru mengalami hiperseksual. Karena itu, penanganan psikologis yang tepat sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Selain itu, buku Broken Strings menceritakan bagaimana korban sering menormalisasi hubungan yang tidak sehat dan menganggap kekerasan sebagai cara untuk menunjukkan kasih sayang. Menurut Irna, psikologi menyebut kondisi ini dikenal dalam psikologi sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari.
Karena setiap upaya melarikan diri diikuti dengan ancaman dan kekerasan yang lebih besar, para korban merasa tidak memiliki jalan keluar. Menurutnya, hal ini menyebabkan korban merasa bersalah dan menganggap kekerasan sebagai hukuman atas kesalahan mereka.
Kondisi tersebut berdampak buruk pada kesehatan mental korban dan sering menyebabkan depresi berat. Korban sering memilih bertahan karena kehilangan harapan dan kepercayaan diri, bahkan ketika mereka memiliki kesempatan untuk meninggalkan hubungan terbuka. Dukungan sosial dianggap sebagai komponen penting dalam proses pemulihan. Keluarga dan lingkungan sekitar sangat penting untuk memberikan rasa aman dan penerimaan tanpa menghakimi.
“Kehadiran orang-orang terdekat sangat penting agar korban tidak merasa sendirian. Bacaan seperti Broken Strings juga dapat membantu korban memahami bahwa pengalaman mereka bukanlah kesalahan pribadi,” katanya.
Selain itu, pemulihan harus berkonsentrasi pada meningkatkan harga diri korban dan memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang tertunda, pendampingan psikologis, dan peningkatan keterampilan. Ini penting agar korban dapat kembali mandiri secara emosional dan sosial.
Dr. Irna Minauli, M.Si, psikolog, juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan tanda-tanda gangguan kesehatan mental pada korban kekerasan. Sinyal yang tidak boleh diabaikan termasuk perubahan perilaku seperti menarik diri dari lingkungan, mimpi buruk, trauma masa lalu, kesulitan berkonsentrasi, atau mood yang sedih.
Menurutnya, korban kekerasan dalam hubungan perlu mendapatkan pendampingan psikologis secara berkelanjutan. Proses katarsis atau pelampiasan emosi negatif melalui tulisan, sebagaimana yang dilakukan Aurelie Moeremans dalam Broken Strings, dinilai sebagai langkah positif dalam proses penyembuhan.
Keberanian Aurelie membagikan kisah hidupnya tidak hanya menjadi bagian dari pemulihan pribadi, tetapi juga menjadi pembelajaran penting bagi perempuan lain agar berani bangkit dan keluar dari hubungan yang menyakitkan.
Berita kiriman dari: Siska Tira Handayani











