Siswa Dipulangkan Sebelum SDN Huta Ginjang Terbakar, Warga Sebut Ada Upaya ‘Pengasapan Tawon’ di Dalam Kelas (Analisadaily/Sarifuddin Siregar)
Analisadaily.com, Sidikalang - Fakta baru terungkap dalam peristiwa kebakaran hebat yang melanda SD Negeri 033929 Huta Ginjang, Kabupaten Dairi.
Kepala Sekolah, Asper Tambunan, mengonfirmasi bahwa seluruh siswa telah dipulangkan sejak pagi hari, sesaat sebelum api melalap bangunan sekolah pada Senin (26/1) pukul 11.00 WIB.
Keputusan memulangkan siswa lebih awal—bahkan sebelum upacara dimulai—diambil setelah sejumlah murid dilaporkan tersengat koloni tawon yang mendadak muncul di ruang kelas 1.
Meskipun siswa sudah aman di rumah, penyebab pasti kebakaran kini menjadi perdebatan panas. Asper Tambunan bersikeras bahwa kebakaran disebabkan oleh gangguan arus pendek (korsleting) listrik dan membantah adanya aktivitas api di dalam ruangan.
"Kami hanya membakar kertas sarang telur di tiga titik di halaman depan sekolah untuk mengusir tawon. Tidak ada pengasapan di dalam ruangan," tegas Asper, Kamis (29/1).
Namun, pernyataan ini berbanding terbalik dengan kesaksian warga sekitar. Beberapa penduduk menduga api muncul akibat upaya pengusiran tawon menggunakan asap kertas di dalam ruangan.
"Ada orang bikin asap di ruangan untuk mengusir tawon. Diduga ada unsur kelalaian di mana api menyambar asbes. Warga di sini kurang terima kalau dibilang karena korsleting," ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Ketegangan semakin meningkat setelah pihak Kepolisian Sektor Parongil membeberkan bahwa Asper Tambunan menolak usulan uji laboratorium forensik untuk menyelidiki penyebab kebakaran secara ilmiah.
"Kepala sekolah menolak uji forensik dengan alasan ini adalah musibah akibat korsleting listrik," ungkap personel Polsek Parongil.
Akibat kejadian ini, ruang kelas 1, 2, 3, serta ruang kerja Kepala Sekolah ludes menjadi arang. Ironisnya, saat api berkecamuk, warga melihat koloni tawon atau 'dal-dal' beterbangan mengelilingi lokasi, namun anehnya tidak menyerang orang-orang yang berkerumun.
Kini, bola panas berada di tangan Polres Dairi untuk menentukan apakah akan tetap melakukan penyelidikan mendalam atau menerima klaim musibah dari pihak sekolah di tengah keraguan masyarakat.
(SSR/RZD)