Lagu Morbid ‘Tak Punya Hati’ Kritisi Kondisi Sosial dan Perilaku Elit Politik (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Lagu baru grup band Morbid resmi diluncurkan Jumat 23 Januari 2026 lalu di platform layanan streaming digital terkemuka seperti YouTube, YouTube Music, Spotify. Single berjudul "Tak Punya Hati" langsung saja menarik perhatian publik karena selain musiknya cadas, liriknya juga pedas mengkritisi perilaku elite politik serta situasi sosial di negeri ini.
Morbid digawangi Ade (drum), Kekey (melodi gitar), Alay (bass gitar) dan Sandy (vokal) menulis bersama lagu "Tak Punya Hati". Simak liriknya yang puitis dengan pilihan diksi "manis": "Kau jual hijau menjadi angka/Tanda tanganmu di atas luka/Kau tebang hutan kau sebut maju/ Kami tenggelam karena ulahmu/
Bantuan datang kau tolak mentah/ Gengsimu tegak di atas jenazah/Pidato penuh kata selamat/Kamera datang kau pun sigap.
Dusta, palsu, penipu/Terlalu lama menutup nurani/Bencana datang kau tak perduli/
Kekuasaan/Bisa kau beli/ Takkan lagi kau dustai kami/Tragedi , eksploitasi, kompensasi jadi ilusi/Empati kalah oleh ambisi/Realita dibungkus narasi
Rakyat terus dibodohi/Memang kalian tak punya hati.
Lagu "Tak Punya Hati" merupakan satu dari empat lagu yang telah disiapkan Morbid menjadi mini album yang bakal dilepas ke pasaran usai IdulFitri 2026 ini. "Musiknya masih seperti Morbid 30 tahun lalu, tapi dengan sound kekininan dan untuk video kami update dengan teknologi AI," jelas drummer yang bernama lengkap Ade Alfiansyah kepada wartawan di kawasan Tebet, Jakarta, pekan lalu. Ade bertindak sebagai eksekutif produser rekaman.
Rekaman baru Morbid ini semakin menarik setelah menyimak latar belakangnya. "Idenya muncul spontan ketika personel Morbid: Ade, Keykey, Alay dan Sandi bertemu untuk ngejam di sebuah studio di Jakarta, saat bencana banjir di Sumatera baru reda," ungkap Ade yang juga owner major label Alfarecords.
Dia menyebut, petemuan itu bukan jamming biasa karena sudah hampir 15 tahun mereka tidak main musik bareng karena kesibukan. Hari itu mereka memainkan lagu-lagu yang dulu biasa Morbid bawakan di panggung-panggung, kover lagu-lagu Sepultura, Metallica, dan sejumlah lagu metal lain. "Seingatku 25 tahun lalu kami terakhir main band bersama, saat kemaren aku ajak mereka ketemu ngejam, gak taunya kok masih menyatu soulmate-nya," ungkap Ade yang keluar dari Morbid tahun 1995 untuk menekuni bisnis industri musik audio bersama Irif, eks vokalis petama Morbid.
Masih cerita Ade, selesai ngejam ia spontan bertanya ke Alay, Kekey dan Didi "Bagaimana kalau kita buat album Morbid? Boleh aja de, kata mereka". Mulailah mereka menyusun musik dan lirik. Peristiwa bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat sedang menjadi headline media kala itu. Peristiwa bencana itu sangat menyentuh hati nurani mereka sebagai anak rantau di ibukota karena mereka berasal dari Sumut. Ade berdarah Minang, Sandi, Alay dan Kekey berdarah Batak. Semakin teriris setelah melihat fakta banyaknya hutan yang habis akibat penebangan semena-mena. hingga menimbulkan longsor. "Sebagai seniman musik, kami sedih, marah, kecewa dan prihatin atas kondisi tersebut," ujar Ade.
Perasaan inilah kemudian dituangkan Morbid dalam lagu : "Tak Punya Hati" sebagai ekspresi dan kontribusi bagi semua pihak supaya instrospeksi diri dan memelihara alam agar bencana yang sama tidak terulang. “Kami hanya ingin pemerintah lebih sigap, lebih hadir, lebih manusiawi. Karena bencana bukan lagi kejadian langka, ini realitas yang butuh tindakan nyata,” ucap Didi.
Morbid terbentuk sejak 1991 dikenal sebagai pionir musik metal di Medan. Pada era 1990-an, lagu-lagu mereka seperti “Rekayasa” dan “On Death and Dying” menjadi anthem komunitas metal lokal. Morbid juga band metal pertama yang diterima mengisi acara Blantika Musik TVRI Medan yang pada waktu itu didominasi musik pop.
(HEN/RZD)