Revitalisasi Digital Syair Jeir Mandailing Perkuat Pendidikan Karakter Pemuda (Naposo Nauli Bulung) (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Padangsidimpuan – Penelitian dosen Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) menunjukkan bahwa revitalisasi digital syair Jeir Mandailing terbukti efektif dalam memperkuat pendidikan karakter generasi muda, khususnya Naposo Nauli Bulung, sebagai pemuda adat Mandailing.
Penelitian berjudul “Revitalisasi Digital Syair JeirMandailing terhadap Pendidikan Karakter bagi Naposo Nauli Bulung” ini diketuai oleh Khatib Lubis, SS, MSi, bersama tim yang terdiri dari Paisal Hamid Marapaung, M.Kom., Irman Puansah, S.Sos., M.Si., Nikmah Sari Hasibuan, M.Pd., serta melibatkan mahasiswa Halijah Yuhyi Pardede dan Novia Amanda, Cindy Azelia, Anis Pitria Hutabarat, Dinda Hafizah. Riset tersebut didanai melalui Hibah Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) dan dilaksanakan selama satu tahun pada 2025. Laporan akhir diselesaikan pada bulan Januari 2026.
Syair Jeir Mandailing merupakan tradisi lisan berupa nyanyian adat yang sarat dengan pesan moral, doa, serta nilai sosial seperti hormat, tanggung jawab, dan gotong royong. Namun, seiring perkembangan teknologi dan globalisasi, tradisi ini mulai jarang dipraktikkan dan kurang dikenal oleh generasi muda.
Melalui pendekatan revitalisasi digital, tim peneliti melakukan dokumentasi ulang syair Jeir, perekaman panJeir dalam format audio-visual, penyusunan buku Jeir, serta pendistribusian konten budaya melalui media sosial ataupun media surat kabar dan video penelitian. Penelitian ini melibatkan 40 Naposo Nauli Bulung di Kabupaten Mandailing Natal dengan metode mixed methods dan desain pre-test–post-test.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman nilai budaya Jeir. Skor rata-rata pemahaman responden meningkat dari 3,12 sebelum intervensi menjadi 4,01 setelah revitalisasi digital. Selain itu, penguatan karakter juga terlihat pada aspek hormat dan toleransi, tanggung jawab, serta gotong royong, yang semuanya mengalami peningkatan bermakna secara statistik.
Tidak hanya itu, minat pemuda terhadap pelestarian budaya Jeir juga meningkat secara signifikan. Skor minat pelestarian naik dari 3,05 menjadi 4,08, menandakan tumbuhnya kesadaran dan rasa memiliki terhadap warisan budaya lokal.
Ketua peneliti, Khatib Lubis, menjelaskan bahwa digitalisasi budaya tidak dimaksudkan untuk menghilangkan nilai adat, melainkan sebagai strategi adaptif agar tradisi tetap hidup dan relevan di era teknologi.
“Generasi muda saat ini hidup di ruang digital. Karena itu, warisan budaya seperti Jeir harus dihadirkan dalam medium yang dekat dengan kehidupan mereka, tanpa menghilangkan makna dan nilai aslinya,” ujarnya, Minggu (1/2/2026).
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi model pelestarian warisan budaya berbasis digital, sekaligus memperkuat pendidikan karakter generasi muda melalui kearifan lokal. Selain itu, keterlibatan aktif Naposo Nauli Bulung dalam produksi konten digital menjadikan mereka tidak hanya sebagai penerima tradisi, tetapi juga agen pewaris budaya di era digital.
(REL/RZD)