Lesunya Tambang Martabe Hantam Usaha Kuliner Batangtoru (HIH)
Analisadaily.Com, Batangtoru - Dampak dicabutnya izin operasional tambang emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources (AR) kian terasa hingga ke sektor usaha kecil dan menengah di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).
Salah satunya dirasakan langsung Trikora Cafe & Resto, yang selama ini menggantungkan perputaran ekonomi dari para pekerja tambang.
Manager Trikora Cafe & Resto, Zers (31) kepada Analisadaily.Com di Batangtoru, Selasa, (10/2), mengungkapkan sejak mulai beroperasi pada Juli 2025, mayoritas pelanggan mereka berasal dari karyawan tambang dan mitra kontraktor.
“Sekitar 70 persen customer kami itu dari tambang. Biasanya habis pulang kerja mereka reservasi makan sore, jam setengah lima ke atas ramai,” ujarnya.
Namun kondisi itu berubah drastis sejak operasional tambang berhenti. Dalam dua bulan terakhir, jumlah pengunjung merosot tajam.
Jika sebelumnya dalam satu waktu bisa melayani sekitar tujuh meja, kini tinggal satu hingga dua meja saja.
“Bulan lalu turun sekitar 30 persen. Bulan ini lebih parah lagi. Dari tujuh biasanya, sekarang paling dua orang karyawan tambang yang datang. Terasa banget dibanding sepuluh bulan lalu,” katanya.
Penurunan itu bahkan terlihat jelas dari perbandingan omzet sepuluh hari pertama bulan lalu dengan sepuluh hari di bulan ini yang anjlok hingga 50 persen.
Tak hanya berdampak pada pendapatan usaha, kondisi ini juga mengancam belasan karyawan yang menggantungkan hidup dari operasional cafe tersebut.
“Karyawan kami belasan orang. Kalau terus begini, kami juga bingung mempertahankan operasional,” ucapnya.
Menurut Zers, tambang Martabe selama ini menjadi jantung ekonomi kawasan. Perputaran uang terbesar bersumber dari aktivitas tambang yang menghidupkan sektor kuliner, transportasi, kontrakan, hingga UMKM.
“Tambang ini sumber ekonomi utama. Perputaran uang dari sana semua. Dampaknya bukan cuma Batangtoru, tapi sampai Padangsidimpuan dan Sibolga juga ikut terasa,” tegasnya.
Ia memperkirakan kondisi bisa semakin memburuk bulan depan seiring daya beli masyarakat yang terus menurun akibat melemahnya ekonomi pasca berhentinya aktivitas tambang.
“Kalau tidak ada solusi, bisa-bisa bulan depan lebih sepi lagi. Keuangan masyarakat sudah mulai terasa turun,” pungkasnya.
Lesunya Trikora Cafe menjadi potret kecil dari gelombang dampak ekonomi besar yang kini menghantam wilayah Tapsel dan sekitarnya.
Ini membuktikan berhentinya tambang bukan sekadar soal industri, melainkan menyentuh langsung dapur-dapur rakyat kecil.
(HIH/BR)