Di Sisa Rumah yang Retak, Syawal Panggabean Menggenggam Harapan (HIH)
Oleh : Hairul Iman Hasibuan
Analisadaily.com, Tapanuli Selatan - Hujan kini bukan lagi sekadar air dari langit tapi telah berubah menjadi ketakutan bagi Syawal Panggabean (50) warga Aek Garoga Kecamatan Batangtoru Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).
Syawal Panggabean
Setiap tetes yang jatuh di atap rumahnya membuat dada lelaki empat anak itu berdebar lebih cepat.
Bukan tanpa alasan, banjir bandang yang datang subuh itu telah merenggut dapur, pekerjaan, dan rasa aman keluarganya.
Pagi itu, sekitar pukul lima, Syawal tengah bersiap berangkat kerja. Seperti hari-hari sebelumnya, ia akan menuju lokasi tambang emas Martabe tempat ia bekerja sebagai karyawan kontrak.
Namun, suara air yang menggeram di kejauhan membuat langkahnya terhenti. Dalam hitungan menit, arus berlumpur merangsek masuk ke halaman rumah. Ia segera menghubungi pimpinannya.
“Air sudah naik, Pak. Saya tidak bisa berangkat.”
Benar saja, dua jam kemudian, kawasan tempat tinggalnya telah berubah menjadi lautan cokelat yang meluluhlantakkan dapur rumah tempat istrinya biasa menanak nasi untuk keluarga kecil mereka.
Musibah itu seakan datang bersamaan dengan runtuhnya sumber penghidupan.
Pada 31 Desember 2025, kontrak kerja Syawal resmi berakhir. Tidak ada perpanjangan. Hanya gaji terakhir yang diterima, serta janji samar jika keadaan kembali normal, ia akan dipanggil kembali bekerja.
Kini Syawal menanggung beban hidup empat anak. Satu di antaranya kuliah jauh di Aceh, menanti kiriman biaya yang semakin sulit dipenuhi.
Menjelang bulan puasa dan Lebaran, kebutuhan rumah tangga justru melonjak, sementara pemasukan berhenti total. Namun lelaki ini memilih tidak menyerah pada putus asa.
“Ini ujian bagi orang-orang yang kuat,” ujarnya kepada Analisadaily.Com, Selasa,(10/2) sembari memandang dinding rumah yang masih menyisakan bekas lumpur banjir.
Hari-harinya kini diisi bukan dengan suara mesin tambang, melainkan palu dan adukan semen.
Syawal mengabdikan waktu membantu pembangunan masjid di lingkungan sekitar. Ia tak dibayar. Baginya, bekerja untuk rumah ibadah menjadi cara menjaga hati tetap kuat saat hidup terasa runtuh.
Untuk makan sehari-hari, ia hanya mengandalkan sisa tabungan keluarga yang makin menipis.
Mereka tinggal di bagian rumah yang masih berdiri. Bila hujan turun, anak-anaknya segera berkumpul di satu sudut ruangan tempat yang dianggap paling aman.
Di balik semua kesederhanaan dan luka itu, Syawal masih menggenggam satu harapan besar tambang emas Martabe kembali beroperasi.
Bukan semata demi dirinya, tetapi demi ratusan bahkan ribuan keluarga yang hidupnya bergantung pada denyut ekonomi di sekitarnya.
“Kalau tambang hidup lagi, kami hidup lagi,” ucapnya singkat, namun penuh makna.
Di sisa rumah yang retak, Syawal Panggabean mengajarkan satu hal bahwa kemiskinan bisa merampas segalanya, kecuali harapan.
(HIH/BR)