Sinergi Hijau: Pemerintah Fokus Tata Kelola DAS, Tambang Emas Martabe Hijaukan 41 Hektare Lahan (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan – Tragedi banjir yang melanda wilayah Sumatra pada November 2025 menjadi alarm keras bagi tata kelola lingkungan di Indonesia. Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Kehutanan menegaskan komitmennya untuk memperkuat penanganan lahan kritis dan perbaikan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai langkah mitigasi jangka panjang.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem saat ini menuntut langkah strategis yang cepat. Berdasarkan identifikasi, terdapat 218 titik banjir yang tersebar di 57 DAS di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
"Rehabilitasi lahan kritis menjadi fokus utama pemerintah pada 2026 dan tahun-tahun mendatang," tegas Menhut dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI baru-baru ini.
Untuk mendukung misi ini, pemerintah telah menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp 29,07 miliar pada tahun 2026 khusus untuk tiga provinsi terdampak tersebut. Selain penanaman kembali, pemerintah juga melakukan reformasi digital melalui sistem satu peta kehutanan dan pembangunan early warning system (sistem peringatan dini) banjir.
Upaya pemulihan lingkungan tidak hanya bertumpu pada pundak pemerintah. Di Sumatera Utara, PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, menunjukkan aksi nyata dalam tanggung jawab lingkungan.
Hingga tahun 2025, PTAR tercatat telah merehabilitasi lahan seluas 41,76 hektare. Dari luasan tersebut, 2,44 hektare di antaranya baru saja tuntas dihijaukan sepanjang tahun 2025. Area rehabilitasi ini mencakup tanggul Tailings Storage Facility (TSF) hingga titik-titik bekas kegiatan eksplorasi.
"Tujuan utama rehabilitasi ini adalah mengembalikan habitat hutan ke kondisi semula, terutama sebagai rumah bagi spesies terancam punah seperti Orangutan Tapanuli," tulis manajemen PTAR melalui situs resminya.
PTAR menerapkan teknik "rehabilitasi progresif", yakni melakukan pemulihan lahan segera setelah lahan tersebut tidak lagi digunakan untuk operasional. Untuk mendukung hal ini, perusahaan mengoperasikan fasilitas pembibitan (nursery) seluas 6.000 meter persegi yang memproduksi ribuan bibit pohon.
Sepanjang tahun 2025 saja, sebanyak 16.111 bibit pohon telah ditanam. Menariknya, proses ini tidak dilakukan sembarangan. PTAR didampingi oleh Biodiversity Advisory Panel (BAP) serta diawasi langsung oleh pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Salah satu fokus unik dalam program ini adalah pembudidayaan Rambutan Hutan (Nephelium cuspidatum). Tanaman lokal ini sengaja dikembangkan di fasilitas pembibitan untuk memastikan ketersediaan pakan alami bagi satwa liar, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.
Dengan kolaborasi antara anggaran pemerintah dan komitmen sektor swasta seperti yang ditunjukkan Tambang Emas Martabe, harapan untuk melihat Sumatra yang lebih tangguh menghadapi bencana alam kini mulai tumbuh.
(RZD)