Horor di Rel Simalungun: Tubuh Pemuda Tercecer 380 Meter Usai Diterjang Kereta Api (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan – Keheningan subuh di perlintasan Dolok Merangir berubah menjadi mencekam pada Selasa pagi, 17 Februari 2026.
Seorang pemuda bernama Heri Irawan (24) ditemukan tewas dengan kondisi yang sangat mengenaskan setelah dihantam si "Ular Besi" jurusan Medan-Pematang Siantar sekitar pukul 04.45 WIB.
Kengerian di lokasi kejadian (TKP) tergambar jelas saat personel Polsek Serbalawan melakukan evakuasi. Akibat benturan keras yang tak terelakkan, jasad korban ditemukan dalam kondisi tidak utuh—tangan terputus dan bagian kepala pecah.
"Bagian tubuh korban ditemukan terpisah sejauh kurang lebih 380 meter dari lokasi awal benturan. Tim harus mengumpulkan satu per satu bagian tubuh tersebut untuk dimasukkan ke kantong mayat," ungkap Kapolsek Serbalawan, AKP Gunawan Sembiring, dengan nada prihatin.
Ada fakta yang mengiris hati sekaligus mengundang tanya di balik tragedi ini. Berdasarkan kesaksian masinis KA R2802, Andi Purnama, korban sempat terlihat sesaat sebelum kejadian.
Namun, bukannya menghindar, Heri justru menunjukkan gelagat yang memilukan. Masinis mengaku sudah membunyikan semboyan (klakson) berulang kali. Korban terlihat sedang jongkok di tengah rel sambil memegang kepala dengan kedua tangannya, seolah sedang menghadapi beban yang berat atau pasrah pada keadaan.
Lokasi kejadian yang berada di areal perkebunan dalam kondisi gelap gulita tanpa penerangan sedikit pun, membuat evakuasi berlangsung dramatis.
Setelah dievakuasi ke RSUD Djasamen Saragih, pihak keluarga korban yang merupakan warga Desa Limbong, Serdang Bedagai, langsung mendatangi rumah sakit.
Meski terpukul hebat, keluarga memilih untuk tidak melakukan autopsi. Mereka telah menandatangani surat pernyataan bahwa peristiwa ini murni merupakan kecelakaan akibat tertemper kereta api dan berencana segera membawa pulang jasad Heri untuk dimakamkan secara layak.
Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi warga sekitar tentang betapa berbahayanya beraktivitas di jalur rel, terutama pada jam-jam rawan dengan jarak pandang terbatas.
(RZD)