Dari Keterbatasan Menuju Transformasi: Kisah Guru Menghadapi Tantangan di Wilayah 3T

Dari Keterbatasan Menuju Transformasi: Kisah Guru Menghadapi Tantangan di Wilayah 3T
Dari Keterbatasan Menuju Transformasi: Kisah Guru Menghadapi Tantangan di Wilayah 3T (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Jakarta - Tantangan mengajar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menuntut ketangguhan serta kreativitas guru dalam menyiasati keterbatasan sarana, akses internet, dan listrik yang belum stabil.

Di tengah kondisi tersebut, para pendidik tetap berinovasi menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Seiring hadirnya dukungan pemerintah melalui penguatan sarana dan teknologi pembelajaran, proses belajar mengajar di daerah terpencil pun semakin menunjukkan perkembangan positif.

Upaya pemerataan akses dan mutu pendidikan di wilayah 3T terus diperkuat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Melalui dukungan kebijakan dan fasilitasi pembelajaran, pemerintah memastikan para guru memiliki ruang untuk berinovasi meskipun berada dalam keterbatasan.

Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG), Nunuk Suryani, menegaskan bahwa arah transformasi pendidikan nasional menempatkan guru sebagai aktor utama pembangunan sumber daya manusia.

"Pemerintah tidak hanya berfokus pada pemerataan akses, tetapi juga pada penguatan kapasitas profesional guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang responsif terhadap tantangan zaman," ucap Dirjen Nunuk, Sabtu (21/2/2026).

Pengalaman para guru di wilayah 3T menunjukkan bahwa semangat transformasi pendidikan tidak hanya digerakkan oleh kebijakan, tetapi juga oleh ketulusan dan kreativitas pendidik di ruang-ruang kelas terpencil. Salah satunya ditunjukkan oleh Muhammad Fathul Arifin, yang selama lima tahun mengajar di wilayah 3T.

Sejak 2020, Fathul menyampaikan jika telah mengabdikan diri di SMA Swasta Bina Ilmu Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah sebelum akhirnya pada Januari 2026 dipindahtugaskan ke SMK Negeri 2 Buntok setelah diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Saya sudah mengajar dari 2020 di sekolah wilayah 3T dan ini saya baru dipindah ke sekolah wilayah bukan 3T. Kemarin mengajar di 3T namun Januari 2026 baru dipindah karena diangkat menjadi PPPK,” ungkapnya dalam pernyataan yang disampaikan pada Kamis (19/2).

Fathul menjelaskan bahwa selama bertugas menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan sarana dan prasarana, termasuk akses internet dan listrik yang belum stabil.

“Sarana dan prasarana yang kurang memadai serta keterbatasan internet serta listrik,” tuturnya.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk terus berinovasi.

“Saya berinovasi, mengajar melalui powerpoint atau gim, menggunakan proyektor yang dinyalakan dengan memanfaatkan mesin penghasil tenaga listrik,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan jika dalam keseharian pembelajaran telah menerapkan pendekatan yang humanis dan menyenangkan.

“Gunakan pendekatan dengan murid senyaman mungkin dan berinovasi serta kreatif mengajar walau sarana dan prasarana terbatas,” katanya.

Ia juga menyampaikan beberapa infovasi yang dibuat agar para murid semakin semangat dalam menerima pembelajaran.

“Inovasi yang digunakan melalui bentuk gim edukasi dari laptop, ice breaking yang menyenangkan, memberikan ruang diskusi dan tanya jawab dengan santai agar suasana kelas tetap hidup dan interaktif,” ucap Fathul.

Tak hanya itu, selain menyampaikan materi, Fathul juga membangun pola pikir dan motivasi siswa.

“Menggunakan contoh-contoh yang riil dan pengalaman pribadi, serta memberi motivasi untuk membangun pola pikir ke depan,” tuturnya.

Ia berharap langkah tersebut dapat mendorong murid patuh dan menghargai guru.

Fathul mengungkapkan bahwa perkembangan signifikan mulai dirasakan ketika dukungan teknologi pembelajaran hadir di sekolahnya.

Bantuan Papan Interaktif Digital (PID), akses internet melalui Starlink, serta tenaga surya dari pemerintah membawa dampak positif bagi proses belajar mengajar.

“Semenjak ada Papan Interaktif Digital (PID), Starlink dan tenaga surya yang diberikan pemerintah sangat membantu pembelajaran serta kelancaran kegiatan TKA, ulangan sumatif, praktik, dan lainnya,” ungkapnya.

Kini, dengan status sebagai PPPK dan penugasan baru di SMKN 2 Buntok, Fathul membawa pengalaman berharganya menghadapi tantangan di wilayah 3T sebagai bekal untuk terus berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan.

Ia pun menyampaikan harapannya agar perhatian terhadap sekolah-sekolah terpencil terus diperkuat.

“Harapan saya pemerintah bisa memperhatikan sekolah terplosok dengan bantuan sarana memadai agar di desa tidak tertinggal dengan di kota-kota besar,” pungkasnya.

Melalui penguatan kebijakan dan dukungan nyata di lapangan, Kemendikdasmen terus mendorong terwujudnya pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkualitas bagi seluruh anak bangsa, termasuk di wilayah 3T.

(REL/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi