Beasiswa Martabe Terancam Terhenti Pascabencana, Mahasiswi UNY Asal Batang Toru Cemas Kelanjutan Studi (Istimewa)
Analisadaily.com, Batang Toru - Ketidakpastian kelanjutan Beasiswa Martabe pasca penghentian operasional tambang akibat bencana hidrometeorologi pada November 2025 lalu, membuat Zahra Nabila Siregar (19), mahasiswi semester dua Jurusan Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), khawatir.
Warga Desa Sipenggeng, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) itu, kepada Analisadaily.Com, Senin (23/2), melalui telepon selulernya mengaku bantuan pendidikan yang selama ini diterimanya menjadi penopang utama biaya kuliah dan kebutuhan hidupnya.
Dikatakan, ia merupakan salah satu penerima beasiswa pendidikan yang disalurkan melalui program pemberdayaan masyarakat Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources (AR).
Setiap semester, ia menerima bantuan lebih dari Rp13 juta untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) serta biaya hidup selama enam bulan di Yogyakarta.
“Sejak ada kabar operasional tambang dihentikan sementara, kami para penerima beasiswa belum mendapat kepastian. Saya tidak tahu harus bagaimana jika beasiswa itu berhenti,"ujarnya.
Zahra menuturkan, kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah tanpa bantuan tersebut.
Ayahnya hanya membuka kedai kopi kecil dengan penghasilan yang tidak menentu, sementara ibunya ibu rumah tangga.
Dari empat bersaudara, satu kakaknya juga sedang menempuh pendidikan tinggi dan seorang adiknya tengah bersiap masuk perguruan tinggi.
Menurut Zahra, beasiswa itu bukan sekadar bantuan finansial, tetapi juga harapan bagi keluarganya untuk meningkatkan taraf pendidikan.
Tanpa dukungan tersebut, ia khawatir harus menunda bahkan menghentikan kuliah.
Sejak operasional tambang dihentikan pascabencana hidrometeorologi pada November 2025, sejumlah program sosial dan pemberdayaan masyarakat yang bergantung pada aktivitas perusahaan berada dalam ketidakpastian, termasuk program beasiswa pendidikan.
Meski dihantui kekhawatiran, Zahra tetap mengikuti perkuliahan dan latihan tari sesuai kurikulum.
Sejak usia sembilan tahun atau kelas tiga sekolah dasar, ia telah aktif di sanggar seni dan bercita-cita menjadi pendidik seni tari.
“Saya ingin menyelesaikan kuliah dan membahagiakan orang tua,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PT AR terkait kelanjutan program Beasiswa Martabe pascabencana tersebut.
(HIH/BR)