Ketika Kaki Bupati Vickner ‘Tertata-Tata’ (Analisadaily/Istimewa)
Oleh: Sarifuddin Siregar
Usianya beranjak renta. Langkah kakipun tertata-tata. Nada suara tak lagi bergema, hingga ajudan pun harus sigap membaca suasana.
Penyakit, tak tahu kapan tiba. Karena bibit perontok tubuh itu, sesungguhnya sudah ada di tubuh kita. Ketika virus, bakteri atau sel sejenisnya meronta, bodi bisa rontok perlahan atau seketika. Dan, doa menjadi panjatan utama.
Ini bukan ironi. Bukan sakit hati apalagi membenci. Namun demikianlah kalanya perjalanan hidup. Di saat semangat masih tumbuh, hambatan bukan saja mucul dari seberang, tetapi ada pada diri sendiri. Kesehatan, hal yang sangat vital bagi setiap insan.
Akhir tahun 2025 lalu, saya mendengar kabar, Bupati Kabupaten Dairi, Vickner Sinaga (68) menjalani khemoterapi di Jakarta. Proses ini memakan energi besar dan butuh pemulihan ekstra.
Januari kemarin, saya duduk dan berbincang dengan seorang pengusaha, notabene penduduk Sidikalang. Pemuda itu mengungkap, melihat Vickner duduk di kursi roda saat masuk ke pesawat terbang saat mau pulang.
“Kami satu pesawat. Kaget aku. Kutengok, sudah duduk di kursi roda. Kasihan juga saya. Sudah separah itu,” kata pebisnis berperawakan ganteng, kulit cerah tersebut.
Hari ini, saya menerima foto, Vickner duduk di kursi roda didampingi istri, Lintong Situmorang yang juga Ketua Tim Penggerak PKK.
“Kami pas mau pulang ke Sidikalang. Di Bandara Soekarno Hatta, kutengok Bupati di kursi roda. Pandangan kufokuskan, rupanya ditemani, sang istri,” kata seorang teman, Rabu (25/2).
Kawan itu bercerita, mereka naik satu pesawat, kendati Vickner tak melihatnya, Jumat (20/2). Menurut teman itu, Vickner duduk di kursi paling depan sehingga proses naik dan turun lebih mudah. Kursi roda ditaruh di dekat tempat duduk dimana ruangan lebih longgar.
Sementara, dalam beberapa acara pemerintahan sebelumnya, penurunan fisik Vickner bukan rahasia lagi. Di ruang terbuka maupun tertutup, kesehatan, dipastikan merosot.
“Ajudan harus membungkukkan badan untuk menopang Vickner setiap mau berdiri,” kata beberapa wartawan.
Entah benar entah tidak, kabarnya, top manajemen ini terfinfeksi kanker prostat. Tetapi yang pasti, dalam acara pelantikan pejabat, kondisi itu terlihat jelas.
Ajudan mesti sigap membungkukkan badan bila Vickner hendak berdiri. Punggung atau bahu ajudan menjadi landasan tangan Vickner. Pada acara tertentu di Balai Budaya Sidikalang, misalnya, Vickner tak lagi berdiri saat berpidato. Langkah kaki dan gerak tangan, tak lagi lincah.
Dari lima tahun masa kerja Vickner, tahun pertama segera terselesaikan. Pertanyaannya, what have we got (apa yang sudah kita peroleh)? What have you seen (apa yang sudah kita lihat)? Are you proud (apakah anda bangga)?
Boleh jadi, jawabannya, banyak termakan angin sorga. Pada agenda debat kandidat Bupati di Medan tanggal 8 November 2024, Vickner menyebut, akan membangun ratusan listrik mikro hidro.
“Kita akan bangun 200 mikro hidro (PLTMH). Gampang itu,” kata Vickner.
Selain itu, Vickner menyebut, akan merubah Lae Pandaroh menjadi Ancol.
“Lae Pandaroh akan menjadi Ancolnya Dairi,” kata Vickner.
Mengucap memang mudah. Menjual bualan politik memang menggiurkan. Mengapa? Karena lidah tak berduri. Jadi, ngomong apapun bebas, yang penting, massa dan pendengar tergoda. Tetapi, harus diingat, semua perkataan termemori dalam ingatan masyarakat dan direkam dalam jejak digital.
Sudah berapa PLTMH yang dibangun? Realitasnya, masih sebatas omon-omon. Sudah ada pembangunan Ancol di Lae Pandaroh? Wah, sepertinya, omong-omong juga itu. Perbaikan infrastruktur jalan, masih jauh dari harapan. Jangankah dalam di pedesaan, di Sidikalang sebagai ibukota kabupaten, masih jamak ditemukan rusak parah. Contoh riil, Jalan Pakpak yang hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kekuasaan.
Itu, belum lagi bila ditelisik dari carut- marutnya birokrasi. Contoh, Binuar Malau digusur dari job Camat Siempat Nempu menjadi pengawas sekolah di Dinas Pendidikan. Ternyata, Vickner ‘off side’ dalam pelantikan perdana.
Binuar yang tak lain adalah keponakan sendiri menjadi korban. ASN itu tidak memiliki sertifikat kompetensi sebagai pengawas. Artinya, dia tidak legal sebagai pengawas.
“Kami tidak tahu soal mutasi itu. Kami tidak dilibatkan,” kata seorang pejabat di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM).
Kabar lain mengungkap, penempatan pejabat diduga diatur oleh non pemerintah. Istilahnya, tim sukses Vickner. Bukan itu saja, urusan dapur juga diduga dikendalikan non pegawai. Namun anehnya, orang itu seolah lebih berkuasa dari pejabat.
“Ketika baru masuk rumah dinas, Ketua PKK bilang, kami makan di Pendopo. Eh, tak berapa lama, ada orang marah lantaran beras cepat habis. Terus, tukang masak ngomong, kalau saya, senangnya kalian makan di sini. Tetapi, kek manalah,” kata seorang petugas.
Masihkah kita berharap banyak meraih kemajuan? Jujur, kesehatan prima setiap personal adalah kunci utama menjalankan aktivitas. Men sano in corpore sano, kata guru SD, jaman dulu.
Begitu juga Bupati, fair sajalah. Kalau langkah kakinya pun terseok-seok, bagaimana bicara progress pembangunan? Bila kita berpikir logis, Vicker lebih terkonsentrasi pada penyembuhan penyakit ketimbang kebutuhan masyarakat. Dan sikap sedemikian, sangatlah lumrah.
Keuntungan Vickner dari pejabat lainnya dan kaum buruh tani, dalam kondisi seberat itu, seluruh kebutuhan hidup tetap dalam tanggungan negara. Mobil, biaya perjalanan ke sana-sini, nasi, ikan, garam, odol, sikat gigi, semir sepatu hingga korek kuping tak dari kantong pribadi. Biaya rumah tangga ditanggung APBD, Rp35 juta per bulan.
Bila tuan Vickner berkenan, istirahatlah dulu. Cuti untuk sekian waktu. Percayakan kemudi sementara kepada Wakil Bupati, Wahyu Sagala. Semoga sembuh. We want you better soon. Tuhan menjagamu.
(SSR/RZD)