ST Bhinneka Gelar Sekolah Lapang Iklim untuk Tingkatkan Ketangguhan Petani Pascabencana  

ST Bhinneka Gelar Sekolah Lapang Iklim untuk Tingkatkan Ketangguhan Petani Pascabencana  
Dosen ST Bhinneka diabadikan saat melakukan Program Mahasiswa Berdampak  (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Perubahan iklim yang semakin tidak menentu menuntut petani untuk lebih adaptif dan tangguh dalam mengelola usaha tani.

Menjawab tantangan tersebut, Universitas Satya Terra Bhinneka melalui Program PKM Mahasiswa Berdampak 2026 menggelar kegiatan Sekolah Lapang Iklim bertajuk “Meningkatkan Kapasitas Petani Padi melalui Sekolah Lapang Iklim untuk Menghadapi Risiko Iklim Pascabencana.” Acara ini dilaksanakan di Kantor Desa Suka Damai, Kabupaten Serdang Bedagai.

Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, BMKG, pemerintah desa dan petani dalam memperkuat literasi iklim serta strategi adaptasi berbasis data klimatologi.

Para petani tidak hanya mendapatkan materi teoritis, tetapi juga pendampingan praktis dalam membaca informasi iklim, menyusun strategi mitigasi, dan mengambil keputusan usaha tani yang lebih tepat.

Rektor Universitas Satya Terra Bhinneka, Bobby Christian Halim, ST., SH., MH., CPM dalam sambutannya, Kamis (26/2/2026) menegaskan bahwa program ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

“Mahasiswa tidak boleh hanya belajar di ruang kelas. Mereka harus hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan nyata, dan menjadi bagian dari solusi. Sekolah Lapang Iklim ini adalah bentuk komitmen kami untuk mendampingi petani agar lebih siap menghadapi risiko perubahan iklim,” ujarnya.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, M.Sc., yang turut memberikan sambutan secara daring. Dukungan tersebut menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan lembaga klimatologi dalam membangun sistem pertanian yang lebih tangguh terhadap risiko hidrometeorologi.

Selain itu juga turut hadir Kepala LPPM ST Bhinneka, Hendris Syah Putra, S.P., M.Si. pada acara tersebut. “Kita selalu mendukung penuh program - program pengabdian masyarakat yang dicetuskan oleh dosen dan mahasiswa“ imbuhnya.

Ketua Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Program PKM Mahasiswa Berdampak, Herlyna Novasari Siahaan, S.P., M.Sc, menjelaskan bahwa Sekolah Lapang Iklim merupakan bagian dari hibah PKM Mahasiswa Berdampak DIKTI Tahun 2026. “Program ini berlangsung selama 20 hari dan melibatkan 52 mahasiswa dari Program Studi Agribisnis, Kewirausahaan, dan Kebidanan. Kami ingin membangun pendekatan yang komprehensif, tidak hanya pada aspek produksi pertanian, tetapi juga pemberdayaan ekonomi dan kesehatan masyarakat desa,” jelasnya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, tim PKM juga menyerahkan teknologi pertanian kepada Gapoktan Mekar sebagai mitra program. Bantuan yang diberikan meliputi benih unggul, pupuk, pestisida, alat ukur pH tanah (pH meter), serta bagan warna daun untuk membantu petani dalam pengelolaan hara tanaman secara lebih presisi. Melalui Sekolah Lapang Iklim ini, diharapkan terbangun kapasitas adaptif dan kesadaran kolektif petani dalam menghadapi risiko iklim pascabencana. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi laboratorium pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk tumbuh sebagai lulusan yang berkarakter, berempati, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat.

(NS/BR)

Baca Juga

Rekomendasi