Ramadan Jauh dari Orang Tua, Dekat dengan Al-Qur’an

Ramadan Jauh dari Orang Tua, Dekat dengan Al-Qur’an
Ribuan santri dengan formasi melingkar mentilawati quran di Pesantren Ar Raudhatul Hasanah, Medan (analisadaily/qodrat alqadri)

“Teng… teng… teng…” Tepat pukul 12.15 WIB, dari kejauhan terdengar bunyi lonceng dipukul petugas piket, menandakan berakhirnya proses belajar kelas formal di Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan.

Tak lama kemudian, suara gemuruh ribuan langkah kaki terdengar. Para santri berlarian dari ruang kelas menuju bilik masing-masing untuk mengambil perlengkapan salat, sarung, sajadah, dan kopiah.

Setelah itu, mereka bergegas menuju masjid untuk bersiap melaksanakan Salat Zuhur berjamaah. Di antara ribuan santri tersebut tampak Tuan Khaje Alas (asal Aceh), Khairil Abbas (asal Rantauprapat), dan Izz Aries Lubis (asal Mandailing Natal).

Ketiganya merupakan santri baru di pesantren ini. Meski masih terlihat kikuk, mereka tampak menikmati rutinitas Ramadan perdana bersama keluarga baru di pondok, jauh dari orang tua.

Usai azan berkumandang sebagai tanda waktu Zuhur tiba, ribuan santri tanpa dikomando langsung melaksanakan salat qabliyah Zuhur dua rakaat secara mandiri. Seorang santri senior kemudian mengumandangkan selawat sembari menunggu iqamah.

“Ini Ramadan pertama saya jauh dari orang tua, dan ini juga Ramadan pertama saya bisa ikut tadarus seperti ini bersama ribuan santri lainnya,” kata Izz Aries Lubis saat ditemui Analisadaily.com, Senin (23/2/2026).

Usai Salat Zuhur berjamaah, ribuan santri duduk bersila membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Setiap lingkaran terdiri atas lima hingga tujuh orang.

Di sinilah pengalaman baru bagi Izz Aries Lubis dan kedua rekannya bermula. Untuk pertama kalinya, mereka merasakan membaca Al-Qur’an secara bersama-sama, saling menyimak, serta mengoreksi bacaan satu sama lain.

“Alhamdulillah, meski ini Ramadan pertama saya jauh dari orang tua, ada pengalaman baru yang saya rasakan. Setelah Zuhur, kami tadarus bersama dan saling mengoreksi bacaan Al-Qur’an. Ini sangat menarik dan membuat kami semakin antusias,” ujar Aries.

Pembimbing santri, Ustaz Mar’an, kepada analisadaily.com menyebutkan, total peserta tadarus setiap hari selama Ramadan mencapai 3.400 orang. Mereka terdiri atas 1.700 santri putra dan 1.700 santri putri.

“Konsep tadarus kami dibuat melingkar. Satu lingkaran bisa sampai tujuh orang, dan mereka saling menyimak serta mengoreksi bacaan. Kebiasaan ini sudah berjalan sejak belasan tahun lalu,” jelasnya.

Layaknya bulan penuh berkah, Ar-Raudhatul Hasanah menjadi ruang kecil tempat dipertemukannya keluarga baru. Aktivitas tilawah Al-Qur’an dilakukan dengan tartil baik dan benar sesuai kaidah tajwid yang setiap hurufnya bernilai sepuluh kebaikan di Ramadan, dan menjadi syafaat di hari kiamat. (Qodrat Al Qadri)

Editor:  Reza Perdana

Baca Juga

Rekomendasi