Winter Escape ke Sapporo, Menemukan Jepang yang Lebih Hening

Winter Escape ke Sapporo, Menemukan Jepang yang Lebih Hening
Salah satu landmark di Kota Sapporo, Hokkaido (Analisadaily/nirwansyah sukartara)

Analisadaily.com, Hokkaido - Jepang selalu punya dua wajah saat musim dingin tiba. Di satu sisi, gemerlap metropolitan seperti Tokyo dan Osaka tetap berdenyut cepat, penuh antrean panjang dan lautan manusia yang bergerak tanpa jeda. Di sisi lain, ada utara yang lebih sunyi, lebih putih, dan terasa seperti negeri dongeng musim dingin: Sapporo di Hokkaido.

Bagi saya dan anak-anak, Sapporo menjadi jawaban untuk menikmati winter Jepang dengan cara yang lebih intim. Kami datang pada 31 Januari 2026 lalu, tepat saat musim dingin sedang berada di puncaknya.

Namun, perjalanan menuju kota bersalju itu tidak semulus yang dibayangkan. Badai salju besar menghambat kami terbuat dari Kansai International Airport di Osaka.

Pesawat yang seharusnya membawa kami langsung ke Sapporo terpaksa tertunda sehari. Bandara lumpuh sementara, jadwal berantakan, dan kami harus menambah biaya hotel semalam lagi.

Tentu ada rasa khawatir, terutama karena intenerary yang sudah kami susun jadi berubah. Jika badai salju terus berlanjut, maka jadwal di Tokyo akan berantakan. Mengingat setelah Hokkaido, rute liburan selanjutnya adalah Tokyo yang kata orang-orang super sibuk tetapi tetap slow living.

Rasa khawatir juga muncul karena ini adalah pengalaman pertama saya dan anak-anak melihat salju. Tapi justru di situlah letak petualangannya. Kami belajar bahwa winter di Jepang bukan sekadar estetika putih yang cantik di foto, melainkan juga soal kesiapan, fleksibilitas, dan kesabaran. Bahwa liburan saat winter pasti mengalami kendala ini.

Tambahan biaya hotel terasa berat di awal, namun semua itu terbayarkan begitu kami benar-benar tiba di Sapporo.

Begitu keluar dari bandara, udara dingin langsung menyentuh wajah. Nafas berubah menjadi asap tipis yang langsung keluar dengan mudah dari mulut. Anak-anak histeris gembira melihat asap tipis keluar dari mulutnya. Ini kenikmatan pertama yang kami dapatkan ketika sampai bandara.

Serpihan salju juga turun perlahan seperti kapas yang beterbangan. Anak-anak menengadah, tertawa, mencoba menangkap salju dengan tangan bersarung mereka.

Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar merasakan hujan salju, bukan dari layar televisi, bukan dari film animasi, melainkan nyata di hadapan mata.

Sapporo terasa lebih tenang dibanding Tokyo atau Osaka. Jalanannya tidak terlalu padat, langkah kaki terdengar lebih jelas di atas salju yang berderak halus. Pepohonan tertutup putih, atap rumah tampak seperti kue yang ditaburi gula bubuk, dan taman-taman kota berubah menjadi lanskap monokrom yang menenangkan.

Sapporo Snow Festival

Ada ruang untuk berhenti, untuk menikmati, untuk sekadar berdiri dan menyadari betapa indahnya musim dingin.

Salah satu alasan utama kami memilih Sapporo adalah festival saljunya yang mendunia, Sapporo Snow Festival.

Festival ini dikenal sebagai salah satu festival salju terbesar di dunia, menghadirkan pahatan es dan salju raksasa yang luar biasa detail. Sayangnya, saat kami datang, festival belum resmi dibuka. Kami hanya sempat menyaksikan proses persiapannya.

Namun justru di situlah pengalaman uniknya. Kami melihat para petugas dan seniman bekerja di tengah suhu yang menusuk tulang, membentuk balok-balok es besar menjadi karya seni yang menakjubkan.

Ada karakter anime yang perlahan muncul dari bongkahan es membeku mata yang dipahat dengan presisi, lipatan pakaian yang dibentuk dengan hati-hati, hingga detail kecil yang menunjukkan dedikasi luar biasa. Anak-anak terpukau melihat bagaimana es yang awalnya hanya balok transparan berubah menjadi figur-figur hidup.

Meski belum menyaksikan festival dalam kemegahan penuhnya, momen melihat persiapannya saja sudah cukup membekas. Kami berdiri cukup lama, menyaksikan pahatan demi pahatan terbentuk. Saat itu saya berjanji dalam hati: tahun depan harus kembali, dan kali ini menyaksikan festival salju dalam kondisi sempurna.

Selain panorama musim dinginnya, perjalanan ke Jepang tentu belum lengkap tanpa petualangan rasa. Musim dingin justru menjadi waktu terbaik menikmati kuliner hangat yang mengenyangkan.

Anak-anak langsung jatuh cinta pada mochi. Kue kenyal berbahan dasar beras ini terasa berbeda saat dimakan di udara dingin. Ada mochi dengan isian kacang merah manis, ada pula yang berisi krim lembut. Teksturnya yang chewy berpadu dengan rasa manis yang tidak berlebihan membuatnya cocok sebagai camilan di sela-sela perjalanan.

Kami juga mencoba ramen hangat dengan potongan wagyu halal yang lembut. Kuahnya kaya rasa, gurih, dan mengepul saat disajikan. Daging wagyu yang empuk hampir meleleh di mulut, berpadu dengan mi yang kenyal dan kuah panas yang menghangatkan tubuh dari dalam. Di tengah suhu yang mendekati nol derajat, semangkuk ramen seperti ini terasa seperti pelukan.

Sushi pun tetap menjadi primadona. Ikan segar dengan nasi yang dibentuk presisi menghadirkan rasa sederhana namun elegan. Dan ini banyak ditemukan di Family Mart.

Tak ketinggalan jajanan kampung Jepang yang mudah ditemukan di setiap Family Mary. Menikmati jajanan ini sambil berjalan di bawah salju menjadi pengalaman yang begitu membumi dan menyenangkan.

Sapporo mengajarkan kami bahwa musim dingin bukan sekadar soal suhu rendah atau badai salju yang menunda perjalanan. Ia tentang memperlambat langkah, tentang kehangatan keluarga di tengah udara beku, tentang tawa anak-anak saat pertama kali menyentuh salju, dan tentang menghargai momen sederhana yang mungkin tak akan terulang dengan cara yang sama.

Tambahan biaya hotel karena badai salju kini terasa seperti bagian kecil dari cerita besar yang justru memperkaya pengalaman. Tanpa badai itu, mungkin kami tak akan benar-benar memahami bagaimana kuat dan autentiknya musim dingin di Hokkaido.

Ketika banyak orang memilih Tokyo dan Osaka untuk pertama kali ke Jepang, saya justru menemukan cinta pada sisi utara yang lebih sunyi. Sapporo memberi ruang untuk bernapas, untuk menikmati, dan untuk jatuh cinta pada winter dalam versi yang paling murni.

Paman Nikka

Berbicara Sapporo bukan hanya soal salju, Sappor juga identik dengan bir legendarisnya. Di kota Sapporo, bir bukan sekadar minuman, melainkan identitas. Sejak era Meiji, ketika teknik brewing modern diperkenalkan ke Jepang, Sapporo berkembang sebagai simbol pionir jujur, bersih, dan berani. Katanya karakter birnya ringan namun tegas, dengan aftertaste segar yang terasa pas dinikmati setelah berjalan di tengah salju atau menyantap jingisukan panas mengepul.

Saya sih memang gak nyoba. Heheheh. Ikon lainnya adalah “Paman Nika”, figur pria berjanggut yang terpampang di botol dan papan reklame wiski yakni Nikka Whisky. Sosok itu terinspirasi dari pendirinya, Masataka Taketsuru, pria Jepang yang belajar langsung teknik penyulingan di Skotlandia sebelum kembali dan membangun distileri impiannya di Yoichi, Hokkaido.

Ia memilih utara bukan tanpa alasan: udara dingin, kelembapan, dan kualitas airnya mengingatkan pada tanah kelahiran Scotch whisky.

Wiski yang lahir dari sana katanya memiliki karakter berani, sedikit smoky, dengan kedalaman rasa yang matang. Ada disiplin, kesabaran, dan dedikasi dalam setiap tetesnya. Nilai yang terasa begitu selaras dengan ritme hidup Hokkaido yang lebih lambat dibanding Tokyo atau Osaka.

Bir Sapporo dan Paman Nika adalah dua wajah berbeda dari semangat yang sama: keberanian untuk bermimpi besar di tanah yang dingin. Yang satu merepresentasikan kebersamaan dan perayaan; yang lain, kontemplasi dan ketekunan. Keduanya lahir dari visi modern namun berakar kuat pada alam utara.

Mungkin itulah sebabnya, ketika malam turun lebih cepat di musim dingin Hokkaido, cahaya dari izakaya dan bar terasa lebih hangat. Di satu meja, gelas bir beradu ringan. Di sudut lain, wiski amber berkilau di bawah lampu temaram. Di luar, salju tetap turun tanpa suara.

Di dalam, ikon-ikon ini terus bercerita, tentang mimpi, tentang ketekunan, dan tentang bagaimana dingin di utara Jepang justru melahirkan kehangatan yang tak tergantikan.

Baca Juga

Rekomendasi