Drs. Booni Tauhid, M.Hum bersama Adi Wardana dari Politeknik Pariwisata Medan (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Simalungun – Danau Toba boleh saja menyandang status sebagai salah satu dari "10 Bali Baru", namun di balik pesona alamnya yang memukau, tersimpan tantangan komunikasi yang nyata bagi para pelaku usaha lokal.
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh akademisi dari Politeknik Pariwisata Medan mengungkapkan fakta bahwa kemampuan bahasa Inggris pengelola homestay di Kabupaten Simalungun masih berada pada level yang mengkhawatirkan.
Riset yang dipimpin oleh Drs. Booni Tauhid, M.Hum bersama Adi Wardana dari Politeknik Pariwisata Medan pada Februari 2026 ini memotret kondisi 85 unit homestay yang menjadi ujung tombak pelayanan wisatawan mancanegara. Hasilnya, rata-rata kemampuan bahasa Inggris para pengelola hanya mencapai skor 2,37 dari skala 5, yang masuk dalam kategori rendah.
Temuan yang paling menarik dari penelitian ini adalah adanya ketimpangan kemampuan berdasarkan situasi komunikasi. Para pengelola homestay relatif cukup percaya diri saat melakukan percakapan ringan dan menyapa tamu (greeting) dengan skor rata-rata 3,12.
Namun, kemampuan mereka anjlok drastis ketika dihadapkan pada situasi kritis yang menentukan kualitas layanan:
- Penanganan Keluhan Tamu: Hanya meraih skor 1,87.
- Trouble Shooting: Kemampuan menjelaskan solusi saat fasilitas rusak (seperti AC mati atau air tidak mengalir) berada di titik terendah, yakni 1,79.
- Informasi Keamanan: Memberikan instruksi keselamatan dalam situasi darurat pun hanya mengantongi skor 1,91.
Padahal, para pelaku usaha sangat menyadari pentingnya kemampuan ini. Mereka memberikan skor kepentingan setinggi 4,43 dari skala 5 untuk situasi-situasi komunikasi tersebut.
Riset ini juga mengungkap bahwa sebanyak 73,1% pelaku usaha belum pernah mendapatkan pelatihan bahasa Inggris sama sekali. Faktor pendidikan dan frekuensi interaksi dengan turis asing menjadi pembeda utama; mereka yang terbiasa melayani lebih dari 50% tamu mancanegara terbukti memiliki skor kemampuan yang jauh lebih tinggi (3,45).
Meski memiliki keinginan belajar yang kuat, para pengelola homestay menghadapi tiga tembok besar: keterbatasan waktu karena harus menjaga penginapan (71,8%), biaya pelatihan yang dianggap mahal (64,1%), serta kurangnya rasa percaya diri (58,9%).
Sebagai rekomendasi, para peneliti mendorong Dinas Pariwisata Kabupaten Simalungun untuk segera mengimplementasikan program pelatihan yang bersifat kontekstual atau English for Specific Purposes (ESP).
Para pelaku usaha secara tegas memilih metode Role-Play (bermain peran) dan Simulasi Pelayanan sebagai cara belajar yang paling diinginkan, jauh mengungguli metode ceramah konvensional. Mereka membutuhkan pelatihan yang fleksibel, berlokasi di kawasan wisata, dan fokus pada keterampilan berbicara (speaking) serta mendengarkan (listening).
Investasi pada peningkatan kompetensi komunikasi ini bukan sekadar soal penguasaan bahasa, melainkan kunci utama untuk meningkatkan daya saing Danau Toba di kancah pariwisata internasional.
(RZD)