Judul: Medan Medan
Karya: Muram Batu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2025, 392 Halaman
Oleh: Averos Lubis
Analisadaily.com, Medan - Novel fiksi berkisah perjalanan dua tipikal wartawan “benar” dan “gadungan” bekerja di surat kabar harian atau koran di Medan. Harian Siar, Harian Bahana Sumut, Bahana Aceh, dan koran mingguan Badan Investigasi Nasional alias BIN.
Parlaungan Siregar atau Laung (Raja Kata) wartawan berupaya menuliskan berita tidak melunturkan integritas. Ia berkarier dari Harian Siar lalu pindah ke Bahana Sumut dan Bahana Aceh.
Syaifulah atau Iful Pilu (Raja Keluh), sebelum bekerja sebagai wartawan gadungan di koran mingguan BIN. Pemuda asal Langsa itu menimba ilmu jurnalisme di Sekolah Tinggi Jurnalistik Medan (STJM) angkatan 1997.
Sayangnya, ia cuma mampu mengikuti perkuliahan selama 3 bulan karena masalah keuangan keluarga. Ia beralih menjadi tukang tulis berita beberapa wartawan Harian Siar.
Raja Kata dan Raja Keluh itu keduanya berkolaborasi di koran Medan Raya ber-tagline: Semedan Medannya Medan.
Laung membangun Medan Raya berkat bantuan modal pengusaha papan atas nasional pernah dia “tolong” suatu waktu.
Medan Raya, koran pendatang baru cetak saban petang memiliki gaya menulis berita semacam majalah. Meski koran, isi berita lebih mendalam juga memiliki keunikan konten berita berciri khas dialek Medan.
Isi pemberitaan koran prowarga menomorduakan pejabat plus pebisnis. Isi koran tidak mengikuti pemberitaan televisi maupun internet, melainkan bagaimana warga kenal baik tiap sudut kota.
Koran itu koran murni cetak. Minus situs online maupun e-paper. Pemasaran koran terbilang unik, harga jual 5000 rupiah diberikan 1500 rupiah kepada penjual koran.
Konsep utama Medan Raya yaitu “koran hidup oleh koran”, mereka menolak “koran hidup oleh iklan”.
Medan Raya pasif atas iklan pemerintah, tetapi aktif akan menjual koran biar dibeli warga. Benar-benar menjadi koran bermanajemen “sombong” di Medan!
Alur Cerita Mundur Maju
Alur cerita novel mundur maju membuat pembaca kian seru membolak-balik isi novel berisi berjumlah 9 bab terdiri atas beberapa sub judul pada buku setebal 392 halaman.
Maka yang akan mengikat pembaca adalah isi kisah antara tiap bab. Semisal, alasan penyebab Laung keluar dari Harian Siar kemudian bergabung ke Harian Bahana Sumut.
Mula-mula, Laung berseteru dengan Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Siar untuk menulis soal IMB biar mengusik tentang bisnis pengusaha.
"Malulah Bang, masa kita mainkan berita yang berulang?" balas Laung.
"Siapa wartawan bodoh itu?! Masa data baru saja tak ada yang bisa menulis! Kalau tak ada, tanyai warga sekitarnya. Tukang becak kek. Satpam kek. Sudahlah, tak usah konfirmasi!"
"Mana bisa begitu, Bang. Habis kita nanti."
"Ah, mampuslah!" (Hal.31)
Selain itu, cerita Laung keluar dari Bahana Sumut berasal dari Monang dan Lena.
Gara-gara drama Redaktur Pelaksana (Redpel) titipan big boss membuat suasana redaksional tidak nyaman.
Beberapa bulan kemudian Laung mengundurkan diri. Kenapa? Apalagi kalau bukan soal redpel "titipan" sang big boss yang sudah tak sabar menjadi pemred. Padahal sosok belakangan ini masih muda. Belum jadi. Masih butuh waktu pembelajaran. (Hal.110)
Begitu juga keterangan Dini halaman 115 dan Ari halaman 101 pada 2017 di Medan.
Lalu cerita menggelitik bagaimana Pilu mengetahui kiat-kiat membuat koran tanpa modal besar.
Pilu menjadi wartawan “gadungan” lantaran bekerja di koran Pandapotan atau Dapot. Pensiunan tentara pemilik koran mingguan BIN, yang terbit dua pekan bahkan sebulan sekali beredar meliputi Sumatra dan Aceh.
Dia hanya pasang iklan di beberapa koran kalau sedang membutuhkan wartawan. Pengalaman tidak penting. Ijazah tidak penting. Syarat utama hanya bermental bagus siap bekerja keras.
Semua yang mendaftar langsung diterima, syaratnya mau membayar 500 ribu sebagai uang pendaftaran dan menyetor 250 ribu sebagai uang pengganti cetak setiap terbit. (Hal.60)
Isu dimainkan wartawan “gadungan” tidak muluk-muluk. Mereka menulis isu dana BOS, IMB toko kecil, kelurahan, dan isu asusila.
Selain kisah konflik Laung dengan Pemred atau big boss koran tempat dia bekerja sebelumnya, sampai membuat koran Medan Raya. Juga langkah Pilu menjadi wartawan “gadungan”.
Muram Batu lihai menuturkan konflik tiap tokoh di Novel Medan Medan.
Cerita mengapa Pilu dendam dengan Ulung? Kawan satu angkatan di STJM. Belum lagi, Raja Keluh itu bersua kawan kecilnya sebagai kepala kantor cabang bank daerah diduga berselingkuh dengan jaksa. Pilu menjadi dewa penyelamat, kawannya tidak diperas oleh oknum wartawan.
Pembaca akan mengernyitkan dahi bahwa cara bekerja antara wartawan “benar” maupun “gadungan” seperti tidak ada perbedaan. Namun, pemilik koran meraup keuntungan bila mempekerjakan wartawan “gadungan”.
Mengapa? Pilu menjadi bagian Medan Raya karena ada pertanyaan Laung sang Pemred koran itu kepada Monang, Maya, Dini, dan Ari. Ia memerlukan wartawan “gadungan” demi menyukseskan konsep Medan Raya.
“Aku jadi ingat Pilu....,” cetus Maya.
“Pilu redpelnya BIN?” balas Dini.
Maya mengangguk ragu, tapi yang lain justru sebaliknya.
"Cocok!” kata mereka serempak (Hal. 249)
Oplah cetak Medan Raya mencapai 210.000 eksemplar sehari dengan tingkat laku eceran 5000 rupiah per hari. Koran laku mencapai 205.100 eksemplar sehari. Keuntungan setahun sejak terbit Maret 2017, Medan Raya meraup keuntungan 24,28 miliar rupiah.
Walau novel ini fiksi, isi cerita begitu satir bagi pekerja di media massa. Memang, jangan jadi wartawan bila ingin kaya, tetapi menjadi pemilik media.
Kurang Penjelasan Keredaksian
Novel Medan Medan konsisten memakai gaya bahasa dialek Medan. Isi dialog antar tokoh pada tiap bab beberapa kali juga menyebut bahasa prokem atau slang Medan. Selain menyoal istilah jurnalisme maupun keredaksian di media massa.
Pembaca novel mendapat bantuan penjelasan istilah-istilah tersebut. Semisal istilah acem, keterangan ke-41 menjelaskan bagaimana.
“Ya aku tahu. Nggak mungkin juga kita cetak 40 ribu lakunya juga 40 ribu. Pasti ada sisa, tetap dibagikan, tapi jangan malam. Bagikan besoknya. Acem?” sahut Laung. (Hal.334)
Total keterangan 1-41 beragam arti penjelasan istilah jurnalisme, keredaksian, maupun bahasa prokem Medan. Sayangnya, tidak ada keterangan apa itu ToR?
Padahal pada keterangan ke-4 mengenai Redaktur Pelaksana dan ke-5 Pemimpin Redaksi, begitu juga ke-6 Koordinator Liputan menjelaskan tugas keredaksian pada halaman 29 dan 31.
“Oke! Besok aku mau berita soal berapa camat yang tak masuk kerja. Biar kubuat ToR-nya sekarang!” (Hal.93)
Sayang, tak ada arti apa itu ToR? ToR kepanjangan Term of Reference. Bagi wartawan, semacam panduan acuan kerja saat liputan.*
*Penulis penikmat sastra, tinggal di Jakarta.
(DEL)











