Indonesia Online Media Forum 2026 Dorong Media dan Pendidikan Kedepankan Nilai Kemanusiaan

Indonesia Online Media Forum 2026 Dorong Media dan Pendidikan Kedepankan Nilai Kemanusiaan
Indonesia Online Media Forum 2026 digelar, Sabtu (7/3/2026), secara daring. (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Indonesia Online Media Forum 2026 digelar pada Sabtu (7/3/2026) dengan mengusung tema “Humanity First: Membangun Perdamaian Berkelanjutan dengan Melindungi Nilai Kemanusiaan.” Kegiatan ini diikuti sekitar 35 peserta yang terdiri dari profesional media serta praktisi pendidikan.

Forum tersebut diselenggarakan bertepatan dengan momentum peringatan tahunan Deklarasi Perdamaian Dunia dan Pengakhiran Perang (DPCW) yang diperingati setiap 14 Maret. DPCW merupakan rancangan hukum perdamaian internasional yang disusun oleh pakar hukum dari organisasi perdamaian HWPL.

Dalam DPCW, khususnya Pasal 10, ditekankan pentingnya penyebaran budaya damai melalui peningkatan kesadaran publik, praktik media yang bertanggung jawab, serta pendidikan yang mendorong saling pengertian di tengah keberagaman masyarakat.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari kalangan media dan pendidikan, yakni Tuty Purwaningsih dari Jaringan Media Desa Nusantara, Hendry Nursal dari Media Jambi Daily dan Bicara Jambi, Anang Fadhilah dari Info Banua, serta Prof. Dr. H. Barsihannor dari UIN Alauddin Makassar.

Dalam paparannya, Tuty Purwaningsih menekankan bahwa perdamaian sangat berkaitan dengan kesehatan mental dan kondisi psikologis masyarakat. Menurutnya, perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan terciptanya kondisi sosial yang adil dan sehat.

Dia juga menyoroti pentingnya perspektif perempuan dan anak dalam membangun perdamaian. Kesehatan mental, kata dia, tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi berbagai faktor seperti budaya patriarki, ketergantungan ekonomi, pengaruh media, hingga interpretasi budaya yang berkembang di masyarakat.

Sementara itu, Hendry Nursal mengangkat fenomena komodifikasi tragedi dalam pemberitaan yang tanpa disadari kerap dikonsumsi publik setiap hari. Ia mengingatkan bahwa dalam praktik jurnalistik, identitas korban dalam pemberitaan tertentu harus dilindungi sesuai kode etik jurnalistik.

Namun, menurutnya, ada hal penting lain di luar aturan teknis tersebut, yakni kepekaan rasa dalam menyusun berita. “Jurnalis tidak boleh memihak, tetapi harus mampu menempatkan empati dalam pemberitaan,” ujarnya.

Dia menilai, pemberitaan sering kali hanya berfokus pada tindakan pelaku. Padahal, dengan menempatkan empati, media dapat melihat persoalan secara lebih utuh, baik dari sisi korban maupun pelaku, tanpa melakukan penghakiman.

Sementara itu, Anang Fadhilah mengulas fenomena viralisasi emosional sebagai salah satu perilaku sosial di tengah krisis. Ia menyebutkan, saat ini banyak orang ingin tampil sebagai “pahlawan” dengan menyebarkan informasi secara cepat, tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya.

Dari perspektif pendidikan, Prof. Dr. H. Barsihannor menekankan pentingnya pendidikan perdamaian di era post-truth. Menurutnya, praktisi pendidikan perlu membuka ruang dialog yang luas serta membangun budaya inklusif sebagai fondasi perdamaian.

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui kurikulum integratif yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan secara teoritis, tetapi juga membangun lingkungan dan kebijakan pendidikan yang bebas diskriminasi serta adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dalam sesi diskusi kelompok (breakout room), para peserta menekankan pentingnya komunikasi yang santun dan penuh empati dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Mereka juga menyoroti peran pendidik dalam mendorong dialog inklusif serta menciptakan lingkungan belajar kolaboratif yang membantu pelajar memahami keberagaman sekaligus membangun ketahanan emosional.

Selain itu, peserta juga merefleksikan nilai-nilai dalam DPCW serta 12 Kurikulum Pendidikan Perdamaian HWPL, seperti penguatan hukum untuk perdamaian, penyebaran budaya damai, saling menghormati, saling peduli, serta peran aktif masyarakat sipil dalam mewujudkan perdamaian.

Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dengan tantangan global saat ini yang menuntut pendekatan kolaboratif dan berlandaskan kemanusiaan.

Forum ditutup dengan komitmen bersama para peserta untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan budaya damai yang berkelanjutan, dimulai dari individu hingga tingkat komunitas dan institusi. (REL/MUL)

Baca Juga

Rekomendasi