Dr. Rama Indra, S.E., M.Si (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Simalungun – Siapa sangka kuliner tradisional yang identik dengan kuah santan kental kini bisa menjadi "obat" bagi penderita darah tinggi dan kolesterol?
Melalui tangan dingin Dr. Rama Indra, S.E., M.Si dari Politeknik Pariwisata Medan, hidangan khas Batak Simalungun, Dayok Na Binatur, berhasil dimodifikasi menjadi menu sehat yang efektif secara klinis tanpa kehilangan jati diri rasanya.
Penelitian inovatif bertajuk "Revitalisasi Kuliner Tradisional" yang dilakukan pada Februari-Maret 2026 ini membawa angin segar di tengah tingginya angka hipertensi (34,1%) dan dislipidemia (35,9%) di Indonesia.
Dilema antara melestarikan budaya dan menjaga kesehatan dijawab dengan Formulasi F2. Rahasianya terletak pada penggantian sebagian santan kental dengan susu rendah lemak.
Meski lemak total dipangkas hingga 39,9% dan kadar garam (natrium) turun drastis 48,3%, cita rasa autentiknya tetap terjaga.
Penggunaan rempah aromatik khas seperti andaliman, jahe, dan kunyit justru diperkuat untuk menutupi pengurangan rasa asin dan gurih dari lemak hewani. Hasilnya? 82% panelis menyatakan rasa modifikasi ini tetap lezat dan masuk kategori "suka".
Uji coba dilakukan selama 8 minggu kepada 320 responden di Kabupaten Simalungun. Hasilnya melampaui ekspektasi para peneliti:
* Hipertensi: Tekanan darah sistolik turun rata-rata 9,3 mmHg. Secara medis, ini setara dengan menurunkan risiko stroke hingga 46%.
* Dislipidemia: Kolesterol jahat (LDL) turun 11,5 mg/dL, sementara kolesterol baik (HDL) justru meningkat 3,2 mg/dL.
"Ini adalah bukti bahwa kearifan lokal seperti penggunaan andaliman bukan hanya soal budaya, tapi solusi ilmiah untuk menekan penggunaan garam tanpa mengurangi kelezatan makanan," ujar Dr. Rama Indra dalam laporannya.
Tak hanya soal kesehatan, penelitian ini mengungkap potensi ekonomi yang besar. Analisis menunjukkan setiap Rp 1 yang diinvestasikan pada usaha Dayok Na Binatur sehat ini dapat menghasilkan manfaat Rp 1,52. Hal ini membuka peluang bagi UMKM kuliner di Sumatera Utara untuk naik kelas menjadi penyedia produk kesehatan berbasis budaya.
Langkah ini mendapat dukungan 86,7% pemangku kepentingan, termasuk tokoh budaya. Mereka sepakat bahwa varian modifikasi ini adalah pelengkap resep tradisional, bukan pengganti, agar warisan Batak tetap lestari namun masyarakatnya tetap sehat.
Ke depannya, model "Intervensi Berbasis Budaya" ini diharapkan bisa diterapkan pada kuliner bersantan lainnya seperti gulai atau opor di seluruh Indonesia, menjadikan makanan nusantara sebagai garda terdepan pencegahan penyakit tidak menular.
Oleh: Dr. Rama Indra, S.E., M.Si | Politeknik Pariwisata Medan
(JW/RZD)