Cerita Miftahul Khairiah, Belajar di Mesir Sejak SMP hingga Menjadi Mutawifah Jamaah di Tanah Suci

Cerita Miftahul Khairiah, Belajar di Mesir Sejak SMP hingga Menjadi Mutawifah Jamaah di Tanah Suci
Miftahul Khairiah mahasiswa Universitas Al Azhar Mesir asal Padangsidimpuan. (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Makkah - Langkah Miftahul Khairiah tak pernah benar-benar lurus. Kadang tersendat, kadang mundur, bahkan sempat terasa seperti kembali ke titik awal.

Tapi justru dari jalan berliku itulah, gadis asal Padangsidimpuan, Sumatera Utara, kelahiran 9 Januari 2003 itu menemukan arah hidupnya, dari penghafal Alquran, mahasiswa Universitas Al-Azhar, hingga kini menjadi mutawifah yang menuntun jamaah umrah di Tanah Suci.

Anak pertama dari empat bersaudara itu sudah akrab dengan masjid sejak remaja. Selepas sekolah di Padangsidimpuan, tepatnya di MTs Muhammadiyah, hidupnya berubah ketika pandemi datang.

Saat COVID-19 memaksa semua belajar dari rumah, orang tuanya melihat Miftah makin sering terpaku pada gawai. Mereka lalu mengambil keputusan tak biasa: homeschooling berbasis tahfiz. “Fokus hafalan saja,” begitu pesan orang tuanya.

Sejak itu, hari-harinya diisi Alquran. Pelajaran umum dikesampingkan, hafalan didahulukan. Dari situ ia masuk pesantren tahfiz selama beberapa bulan, hingga akhirnya mendapat kesempatan mengikuti tes jalur pendidikan ke Mesir.

Perjalanannya tidak mudah. Berangkat di masa pandemi berarti karantina berlapis. Sebulan di rumah, lalu karantina lagi sebelum terbang, dan sesampainya di Mesir pun masih harus menunggu. Perjalanan yang biasanya hitungan jam terasa seperti maraton berbulan-bulan.

Sesampainya di Kairo, ujian berikutnya menanti.
Ia ditempatkan di kelas bahasa (mutawwasit awal). Setelah tes penentuan, hasilnya membuatnya terpukul: masuk jenjang Ma'had Al Azhar Cairo Mesir (Setara SMP). Padahal di Indonesia seharusnya ia sudah SMA.

“Saya nangis, minta pulang. Malu, merasa tertinggal jauh dari teman-teman,” kenangnya.

Namun waktu mengubah cara pandangnya. Pelajaran yang ia sebut “SMP” itu ternyata setara materi kuliah di Indonesia. Semua berbahasa Arab, dengan tingkat analisis tinggi—fikih, matematika, hingga logika.

Ia bertahan. Belajar lebih keras. Kesempatan datang lewat kelas musabakoh—kelas loncatan. Di sana siswa diuji ulang untuk naik tingkat lebih cepat. Miftah lolos ke Darul Lugah Markaz Syekh Zayed Cairo Mesir, hingga akhirnya duduk bangku kuliah menjadi mahasiswa Universitas Alzhar Cairo jurusan Syariah Islamiyah.

"Dari SMP melompat ke kuliah tanpa SMA karna pada saat itu Al Azhar membuka pendaftaran untuk jenjang kuliah , akhirnya memutuskan testing lagi yang tadinya saya harus mengikuti kelas Musabaqoh SMA jadi lompat ke kuliah dan Alhamdullilah lolos jadi saya gak mengikuti kelas SMA di Al Azhar," ungkapnya.

Di Al-Azhar, ia merasakan sistem yang unik. Tak ada absen. Datang atau tidak, sepenuhnya tanggung jawab diri sendiri.

"Kairo itu, jika engkau tidak bisa menaklukannya maka engkau yang akan di taklukan olehnya," ucap Mifta mengutip pepatah mesir.

Biaya sekolah, kata Miftah, hampir semuanya gratis. Buku, kegiatan, bahkan sesekali jalan-jalan edukasi. Saat kuliah pun ia hanya membayar administrasi ringan. Selebihnya ditanggung kampus.

Di sela kuliah itulah jalan hidup baru terbuka. Awalnya hanya mengamati. Tahun 2022 ia umrah sekadar beribadah. Melihat-lihat suasana. Tahun berikutnya fokus belajar. Baru pada 2025 ia memberanikan diri membuka jasa mutawifah—pembimbing jamaah perempuan. Belajarnya dari senior. Menyusun CV. Memanfaatkan relasi orang tua yang punya jaringan travel. Perlahan jamaah datang.

Tugasnya beragam: membimbing manasik, mendampingi tawaf dan sa’i, hingga jasa dorong kursi roda atau badal umrah bagi orang sakit atau yang telah wafat.

Kerjanya tak selalu ringan. Ia bercerita pernah suatu kali sakit saat mendampingi rombongan. Bukannya istirahat panjang, ia hanya pergi ke rumah sakit meminta racikan obat dan beristirahat sejenak dengan kepala terasa sangat sakit, demam. Tapi Miftah memilih kembali bekerja karena jamaah sudah menjadi tanggung jawab.

Ada pula pengalaman tak mengenakkan. Ia diminta antre mengambil makanan padahal baru hendak makan, atau harus tidur di kasur basah karena insiden jamaah lansia. “Tapi ya itu risiko. Dan itu tidak semua jamaah. Dan menjadikan pengalaman saja ucapnya sambil tersenyum.

Di balik lelahnya, ia justru merasa pekerjaannya memperkaya hidup.Relasi bertambah. Bertemu banyak karakter manusia. Wawasan terbuka. Dan tentu saja, ada penghasilan yang membantu biaya hidup sebagai mahasiswa perantauan.

Pekerjaan itu dilakukan setiap libur semester kuliah. Tapi bekerja menjadi mutawifah tak menguranginya menghafal Alquran dan belajar. Ia tetap mondar-mandir antara buku fikih dan rombongan jamaah. Pagi belajar, sore membimbing, malam menghafal.

Langkahnya mungkin tak selalu mulus. Pernah tertinggal, pernah jatuh, bahkan harus “mengulang”. Tapi justru dari pengulangan itulah ia ditempa. Dari gadis tahfiz di Padangsidimpuan, menjadi mahasiswa Kairo, lalu penuntun langkah orang lain di Tanah Suci.

(WITA)

Baca Juga

Rekomendasi