M. Yusuf Dalimunthe, SE., MM dari Politeknik Pariwisata Medan (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Simalungun – Destinasi Super Prioritas Danau Toba tidak hanya soal pemandangan alam. Sebuah penelitian terbaru dari Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Medan tahun 2026 mengungkapkan bahwa kuliner tradisional Batak Simalungun memiliki daya tarik luar biasa yang siap mendunia, dengan Andaliman sebagai senjata utamanya.
Penelitian bertajuk "Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Wisatawan terhadap Kuliner Tradisional Batak Simalungun" ini dilakukan oleh dosen Poltekpar Medan, M. Yusuf Dalimunthe, SE., MM, bersama mahasiswa Kevin Adrian Manurung. Melibatkan 450 responden di kawasan Danau Toba dan Pematang Siantar, riset ini memotret potensi besar gastronomi lokal yang belum tergarap maksimal.
Hasil riset menunjukkan bahwa kualitas produk adalah faktor paling dominan (koefisien 0,412) yang memicu minat wisatawan. Sensasi unik dari 'Merica Batak' atau Andaliman serta keaslian resep tradisional mendapatkan skor tertinggi (4,25 dari skala 5,00).
"Wisatawan sangat mengapresiasi autentisitas. Menu seperti Arsik menjadi primadona yang paling banyak dicoba (70,4%), disusul oleh Mie Gomak (62,8%)," ungkap Yusuf Dalimunthe dalam rangkuman penelitiannya, dikutip Kamis (12/3/2026).
Dari sisi ekonomi, kuliner Simalungun dinilai sangat kompetitif. Dengan kisaran harga Rp 15.000 hingga Rp 90.000, wisatawan merasa mendapatkan pengalaman budaya yang sepadan. Meski demikian, penelitian ini memberikan catatan kritis bagi para pedagang.
"Transparansi daftar harga masih menjadi nilai terendah. Banyak warung yang belum memajang harga secara jelas, ini yang perlu segera dibenahi demi kenyamanan wisatawan," tulis laporan tersebut.
Promosi 'Mulut ke Mulut' Lebih Ampuh dari Medsos
Temuan unik lainnya adalah efektivitas promosi. Ternyata, rekomendasi langsung dari sesama wisatawan (word of mouth) terbukti lebih ampuh (skor 4,09) dibandingkan platform digital atau media sosial. Hal ini menandakan bahwa kepuasan satu pengunjung akan berdampak domino pada kunjungan berikutnya.
Di sisi lain, peran pemerintah daerah disorot karena frekuensi festival kuliner masih dinilai rendah (skor 3,72) oleh para pelancong.
Rekomendasi Strategis untuk Simalungun
Menanggapi hasil riset yang didanai DIPA Poltekpar Medan 2026 ini, peneliti menyarankan beberapa langkah konkret:
- Standardisasi Resep: Menjaga konsistensi rasa agar kualitas tetap terjaga.
- Digitalisasi & Sertifikasi: Mendorong Dinas Pariwisata Simalungun untuk memfasilitasi pelatihan pemasaran digital dan sertifikasi rumah makan autentik.
- Papan Harga Bilingual: Mewajibkan pencantuman harga dalam Bahasa Indonesia dan Inggris untuk menyasar wisatawan mancanegara yang saat ini baru berkontribusi 11,7% dari total kunjungan.
Dengan minat wisatawan yang berada pada kategori "Baik" (skor 4,10), kuliner Batak Simalungun memiliki modal kuat untuk menjadi bintang baru wisata gastronomi internasional di kawasan Danau Toba.
Oleh: M. Yusuf Dalimunthe, SE., MM dari Politeknik Pariwisata Medan
(JW/RZD)