Rakhmadsyah Geram: Tukar Uang Baru Rp1 Juta Bayar Rp1,3 Juta, Dimana Peran Bank Indonesia? (Analisadaily/Kali A Harahap)
Analisadaily.com, Deliserdang – Kelangkaan uang pecahan baru di perbankan resmi menjelang Idulfitri 1447 H/2026 memicu reaksi keras dari kalangan legislatif. Anggota Komisi I DPRD Deliserdang, H. Rakhmadsyah, menduga adanya permainan oknum atau "mafia" di balik sulitnya masyarakat mendapatkan uang pecahan Rp2.000 hingga Rp10.000 melalui jalur resmi perbankan.
Politisi PKB ini mengungkapkan kekecewaannya karena fenomena ini terus berulang selama dua tahun terakhir, seolah menjadi pola yang merugikan nasabah dan masyarakat luas.
Rakhmadsyah membeberkan fakta kontras yang terjadi di lapangan. Di satu sisi, bank-bank besar—termasuk tempat dirinya memiliki rekening pribadi—mengaku tidak memiliki stok uang baru. Namun di sisi lain, para penyedia jasa tukar uang di pinggir jalan justru memiliki stok yang melimpah.
"Saya punya rekening di BCA, Bank Sumut, hingga BRI, satupun tidak ada yang mampu memberikan uang pecahan baru tersebut. Anehnya, di area Lapangan Merdeka beredar penukaran uang baru, berapa saja kita butuhkan ada," tegas Rakhmadsyah dalam keterangannya, Kamis (12/3/2026).
Indikasi Mafia: Harga Tukar "Mencekik" Rp1,3 Juta
Kelangkaan di bank memaksa masyarakat beralih ke calo atau jasa penukaran uang tidak resmi dengan biaya tambahan yang sangat tinggi. Rakhmadsyah mencontohkan, untuk mendapatkan uang baru senilai Rp1 juta, masyarakat harus membayar hingga Rp1,3 juta.
"Ini sangat luar biasa dan terindikasi adanya dugaan mafia. Kita beli pecahan baru Rp10 ribu, Rp5 ribu, hingga Rp2 ribu seharga Rp1 juta, bayarnya Rp1,3 juta. Artinya ada potongan atau biaya Rp300 ribu. Ini sangat meresahkan," lanjutnya.
Desak Bank Indonesia Lakukan Investigasi
Kondisi ini memicu pertanyaan besar: dari mana para penyedia jasa di pinggir jalan mendapatkan stok uang baru dalam jumlah besar jika pihak bank resmi selalu mengaku kosong?
Rakhmadsyah meminta Bank Indonesia (BI) dan instansi terkait tidak tinggal diam dan segera mengusut tuntas jalur distribusi uang kartal menjelang lebaran tahun ini. Ia menduga ada kebocoran atau kerja sama oknum internal dengan pihak luar.
"Apakah ada oknum-oknum di Bank Indonesia atau mafia yang bermain? Ini harus menjadi perhatian serius karena uang baru adalah tradisi penyemangat bagi anak-anak di hari lebaran. Jangan sampai hak masyarakat untuk mendapatkan layanan penukaran gratis di bank malah diperjualbelikan oleh oknum tidak bertanggung jawab," pungkasnya.
(KAH/RZD)