Dosen USU dan UiTM Malaysia Gelar Diskusi ABK (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Dosen Universitas Sumatera Utara (USU) bersama dosen dari Universias Teknologi MARA (UiTM) Malaysia menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan di Sekolah alam Johor Islamic Green School beralamat di Jalan Karya Darma Ujung, Pangkalan Masyhur, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, Sumatera Utara, yang langsung dihadiri Camat Medan Johor, Dr. Bachtiar Rivai Nasution, S.STP, M.A.P, dan Lurah Pangkalan Mahsyur, Hasrun Syarif Dongoran, S.Sos, MAP. Rabu (11/3/2026).
Kegiatan yang mengusung tema "Realizing The Rights Of Children With Disabilities Through Nature-Oriented Inclusive Education: A Case Study At Johor Islamic Green School (USU-UITM)" itu diketuai Dr. Vita Cita Emia Tarigan S.H., LL.M, dibantu anggota dari USU Zaid Perdana Nasution S.T., M.T., Ph.D, Dr. Oding Affandi S.Hut., MP, Dr. Rika Endah Nurhidayah S.Kp. M.Pd, Suri Mutia Siregar, S.Psi., M.Psi dan anggota internasional dari UiTM Malaysia Muhammad Fikri Bin Othman, PhD.
Dr. Vita Cita Emia Tarigan S.H., LL.M menyebutkan, kegiatan yang didanai oleh Direktorat Internasionalisasi dan Kemitraan Global Universitas Sumatera Utara Tahun 2025 tersebut, dihadiri 30 peserta yang diundang dari berbagai latar balakang pendidikan dan profesi.
Kegiatan ini juga mengundang 3 narasumber yaitu, Drg. Meriesta Dewi sebagai pengelola Sekolah Alam Johor Islamic Green School, yang berdiri sejak tahun 2019. Siswa angkatan I berjumlah 9 orang, dan terus meningkat walau masih terbatas, untuk TA.2025-2026 siswanya sudah 86 orang.
"Sejak awal berdiri sudah menjadi sekolah Inklusi yang menerima siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)," jelasnya. Sekolah Inklusi, lanjutnya, memberikan kesempatan belajar yang sama untuk ABK dan anak lainnya.
Narasumber kedua, Edra Putri Ayuningtiaz, M. Psi., menyampaikan tentang masalah umum yang dialami oleh ABK di SAJIGS adalah kesulitan interaksi dan komunikasi dua arah, kemandirian, integrasi sensori motorik, ketidakmatangan motorik kasar dan motorik halus, keterlambatan capaian kognitif dan akademiki, dan masalah perilaku tantrum dan perilaku agresi. Namun sekolah Alam memberikan efek stimulasi sekaligus terapi untuk ABK agar berkembang potensinya.
Narasumber ketiga, Dr. Muhammad Fikri Othman- Pensyarah Kanan, Fakulti Undang-Undang Universiti Teknologi Mara (UiTM) Malaysia menyampaikan tentang Hak Pendidikan ABK yang dikenal dengan OKU (Orang Kurang Upaya) di Malaysia. Dikatakannya, pendidikan membantu kanak-kanak menjadi lebih berdikari dan menjamin masa depan mereka agar mampu membaca, menulis dan membuat keputusan. Pendidikan merupakan hak asasi manusia yang penting. Hak ini diiktiraf oleh beberapa instrumen hak asasi manusia.
Deklarasi Hak Asasi Manusia Sejagat (UDHR) Konvensyen Hak Kanak-kanak (CRC) Konvensyen Hak Orang Kurang Upaya (CRPD) Deklarasi Dunia Jomtien tentang Pendidikan untuk Semua Rangka Tindakan Dakar mengenai Pendidikan untuk Semua.
Dari hasil paparan materi yang sudah diberikan para narasumber, selanjutnya digelar diskusi dan dilanjutkan dengan Forum Group Discussion yang dipimpin oleh Dr. Meutia Nauly S.Psi., M.Si dengan topik "Regulasi Hak Pendidikan Anak ABK; Strategi dan Tantangan Implementasi Pendidikan ABK pada Penyelenggara Pendidikan: Sekolah; dan Persepsi /Dukungan Masyarakat Umum terhadap Siswa ABK: Orang Tua, Komunitas, Perusahaan,".
(MC/RZD)