Menyapa Roh Batak di Huta Tinggi: Keajaiban Budaya yang Terganjal Krisis Air Bersih

Menyapa Roh Batak di Huta Tinggi: Keajaiban Budaya yang Terganjal Krisis Air Bersih
Menyapa Roh Batak di Huta Tinggi: Keajaiban Budaya yang Terganjal Krisis Air Bersih (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Samosir – Di balik megahnya panorama Danau Toba dan sakralnya Gunung Pusuk Buhit, terdapat sebuah permata tersembunyi yang menawarkan mesin waktu menuju autentisitas budaya Batak Toba: Desa Wisata Huta Tinggi.

Namun, di balik potensi kelas dunia yang dimilikinya, desa ini tengah berjuang melawan tantangan besar yang mengancam keberlangsungan pariwisatanya.

Huta Tinggi bukan sekadar tempat berswafoto. Desa yang masuk dalam kawasan Geosite UNESCO ini menawarkan konsep Community-Based Tourism (CBT) yang nyata.

Wisatawan diajak terjun langsung dalam ritme kehidupan masyarakat:

Edukasi Unik: Memerah susu kerbau di pagi buta dan mengolahnya menjadi Dali ni Horbo (keju khas Batak).

Aktivitas Agraris: Mengupas jagung dan memetik kopi bersama penduduk lokal.

Kuliner & Budaya: Menikmati "Batak Wine" di Lapo Wisata yang telah direvitalisasi, hingga belajar menari Tor-Tor.

Penginapan Autentik: Menginap di Rumah Bolon, rumah adat asli yang memberikan pengalaman emosional mendalam bagi para pelancong.

Meski memiliki modal budaya yang kuat, laporan terbaru (periode 2025–2026) menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Angka kunjungan wisatawan menurun drastis, yang berdampak langsung pada ekonomi warga.

Usaha mikro seperti produksi keripik bawang pun kini hanya mampu beroperasi sekali seminggu. Penyebab utamanya? Krisis air bersih.

"Masyarakat harus mengandalkan penampungan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, pengeboran sedalam 96 meter pun gagal menemukan sumber air," ungkap Riana Handayani Silalahi dalam studinya, Rabu (18/3/2026).

Tanpa akses air bersih dari perusahaan daerah, standar pelayanan untuk wisatawan—terutama di homestay—menjadi sulit dipertahankan. Jika musim kemarau tiba, warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air dari luar desa hanya demi menyambung hidup.

Agar Huta Tinggi tidak hanya menjadi kenangan, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak. Prinsip pariwisata berkelanjutan yang dirumuskan oleh Global Sustainable Tourism Council hanya bisa terwujud jika fondasi dasarnya diperkuat.

Penguatan kelembagaan desa, promosi yang lebih agresif, pengembangan produk wisata yang inovatif, dan yang paling krusial—solusi permanen untuk infrastruktur air—menjadi kunci utama agar desa ini kembali berjaya sebagai jantung budaya Samosir.

Oleh: Riana Handayani Silalahi

(JW/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi