Ikan Bakar dan Pemandangan Alam: Rahasia Desa Tigaras Memikat Hati Wisatawan Dunia

Ikan Bakar dan Pemandangan Alam: Rahasia Desa Tigaras Memikat Hati Wisatawan Dunia
Ikan Bakar dan Pemandangan Alam: Rahasia Desa Tigaras Memikat Hati Wisatawan Dunia (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Simalungun – Danau Toba bukan hanya soal hamparan air biru yang memanjakan mata. Di balik statusnya sebagai Destinasi Super Prioritas (DSP) nasional, terdapat denyut nadi ekonomi yang dibawa oleh para pelaku UMKM kuliner. Salah satu titik yang kini menjadi sorotan adalah Desa Tigaras di Kabupaten Simalungun.

Sebuah penelitian terbaru tahun 2026 yang dilakukan oleh Ngger P Cahyo Hutomo, S.E., M.Tr.Par, dosen dari Politeknik Pariwisata Medan, mengungkap bahwa warung makan sederhana milik warga lokal memiliki peran krusial yang sering kali terlupakan dalam rantai pariwisata.

Selama ini, Tigaras dikenal sebagai pelabuhan penyeberangan menuju Pulau Samosir. Namun, hasil observasi lapangan menunjukkan adanya pergeseran perilaku wisatawan.

Kini, wisatawan tidak hanya "numpang lewat", tetapi sengaja singgah untuk mencecap autentisitas rasa lokal.

"Makan ikan bakar di sini rasanya beda, apalagi sambil melihat Danau Toba langsung. Suasananya lebih terasa," ungkap salah satu wisatawan yang diwawancarai dalam penelitian tersebut, Kamis (19/3/2026).

Menu-menu ikonik seperti Ikan Arsik, Mie Gomak, hingga ragam Sambal khas Batak bukan lagi sekadar komoditas dagang, melainkan identitas budaya yang dicari oleh pelancong modern.

Dalam perspektif pariwisata masa kini, pengalaman kuliner (gastronomy experience) adalah bagian dari cerita perjalanan yang tak ternilai.

Data menunjukkan lonjakan wisatawan ke kawasan Danau Toba yang kini menembus angka jutaan kunjungan per tahun. Hal ini berdampak langsung pada kantong masyarakat lokal.

Pemilik warung di Tigaras mengakui bahwa akhir pekan dan musim liburan menjadi "masa panen" berkat arus wisatawan yang singgah sebelum menyeberang.

Lebih dari itu, meja makan di warung-warung Tigaras menjadi ruang interaksi sosial. Di sanalah terjadi pertukaran informasi antara warga lokal dan pendatang, di mana pemilik warung sering kali merangkap sebagai "pemandu wisata informal" yang memberikan rekomendasi destinasi tersembunyi di sekitar Simalungun.

Melihat potensi besar ini, Ngger P Cahyo Hutomo menekankan bahwa UMKM kuliner tidak boleh hanya dianggap sebagai pelengkap.

"Pengembangan UMKM kuliner perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan pariwisata daerah. Dukungan pemerintah sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas produk, standar kebersihan, hingga kemampuan pemasaran digital bagi para pelaku usaha," tulisnya dalam laporan penelitian DIPA 2026 tersebut.

Jika dikelola dengan profesional tanpa menghilangkan sisi autentiknya, kuliner lokal Tigaras diprediksi akan menjadi kekuatan utama dalam pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat di Sumatera Utara.

Tigaras membuktikan bahwa pariwisata yang kuat adalah pariwisata yang melibatkan rasa, karsa, dan peran aktif masyarakatnya.

Oleh: Ngger P Cahyo Hutomo.,S.E.,M.Tr.Par, akademisi dari Program Studi Pengelolaan Perhotelan, Politeknik Pariwisata Medan

(JW/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi