Menjual Rasa, Membangun Nama: Tantangan Rebranding Kuliner Khas di Gerbang Danau Toba (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Ajibata – Selama ini, Kecamatan Ajibata mungkin lebih dikenal sebagai titik transit ribuan wisatawan yang hendak menyeberang ke Pulau Samosir. Namun, di balik hiruk-pikuk pelabuhan ferry, tersimpan potensi kuliner Batak yang luar biasa—mulai dari naniura yang autentik hingga teh rempah berkhasiat. Sayangnya, potensi besar ini masih dibayangi satu tantangan klasik: Identitas Merek (Brand Positioning).
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Yon Suprapto dari Politeknik Pariwisata Medan bersama mahasiswanya, Anju Alam Jaya Sirait, mengungkap potret menarik mengenai cara UMKM di Ajibata bertahan di era kuliner modern.
Berdasarkan hasil observasi terhadap lima UMKM lokal seperti Warung Batak Rasa, Dapur Toba Indah, hingga Si Marholong Snack, terungkap bahwa setiap usaha sebenarnya memiliki "senjata" rahasia masing-masing.
Ada yang mengandalkan keaslian resep turun-temurun, ada yang menonjolkan kemasan estetik untuk konten TikTok, hingga pemanfaatan lokasi strategis dekat pelabuhan. Namun, penelitian ini menemukan bahwa strategi tersebut mayoritas masih bersifat intuitif atau "berjalan apa adanya".
"Hanya sedikit pelaku usaha yang mampu mendeskripsikan strategi merek mereka secara terstruktur. Selebihnya masih mengandalkan keunggulan alamiah produk tanpa komunikasi visual yang konsisten," ungkap Yon Suprapto dalam laporannya, Jumat (20/3/2026).
Penelitian yang dilakukan sepanjang Agustus hingga Oktober 2025 ini membuktikan bahwa branding bukan sekadar logo. UMKM yang aktif membangun identitas di media sosial, seperti Si Marholong Snack, terbukti lebih banyak dikunjungi wisatawan luar daerah dibandingkan usaha yang hanya mengandalkan pelanggan lokal.
Namun, jalan menuju branding yang kuat masih terganjal lima kerikil tajam:
- Rendahnya Literasi Digital: Sekadar unggah foto tanpa strategi konten.
- Keterbatasan Modal: Kemasan sulit berkembang.
- Kurangnya Pelatihan: Minimnya bimbingan khusus dari pemangku kebijakan.
- Inkonsistensi Identitas: Nama dan logo yang sering berubah-ubah di media berbeda.
- Persaingan Ketat: Banyak produk serupa tanpa pembeda (diferensiasi) yang jelas.
Laporan tersebut menekankan bahwa brand positioning yang kuat tidak hanya soal menarik pembeli pertama, tapi menciptakan ikatan emosional. Wisatawan yang merasa terhubung dengan cerita budaya di balik sepiring makanan cenderung menjadi "promotor organik" yang merekomendasikan produk tersebut kepada rekan mereka secara cuma-cuma.
Untuk membawa kuliner Ajibata ke level internasional, penelitian ini merekomendasikan sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah. Pelaku UMKM didorong untuk segera membenahi narasi budaya pada produknya, sementara pemerintah daerah diharapkan mampu memberikan subsidi desain kemasan bermotif Batak dan pelatihan konten digital.
Jika langkah ini diambil, Ajibata tak lagi sekadar menjadi pintu penyeberangan, melainkan destinasi wisata kuliner yang wajib dikunjungi di peta pariwisata nasional.
Oleh: Yon Suprapto, Politeknik Parwisata Medan
(JW/RZD)